Cerita Pendek


Lihatlah Filosofi Semut Bermasyarakat


Aku duduk termenung di pinggir pantai. Pikiranku melayang jauh, penuh fantasi, seolah-olah aku paham seperti inilah hidup orang buta.
Orang buta tak mampu melihat keindahan alam. Sedangkan Tuhan menciptakan berbagai bentuk keindahan alam supaya kita sadar betapa tiada artinya kita bagi kebesaranNya.
Sedangkan mereka yang buta tidak bisa membedakan warna. Semuanya gelap pekat dan selamanya hanya hitam.
Aku mendengar bunyi hempasan ombak memecah. Berirama, seakan-akan suatu simfoni yang melantun harmoni dengan desiran angin dan desahan daun yang bergesekkan.
Sedang asyik melamun tiba-tiba temanku Jali bernama asli Josep Rasario Soares asal Belu memanggilku dengan keras memecah kesunyian itu. Jali adalah petualang vespa, vespamania seIndonesia pasti mengenalnya, atau paling tidak pernah mendengar namanya.
“Hai Itoy! Sedang apa kau duduk sendirian di situ?”
“Menikmati keindahan,” sahutku polos.
“Ah yang benar! Bilang saja malas!”
“Bukan malas!” protesku.
“Yah… tapi kau bagaikan seorang raja yang duduk diam di atas singgasana. Kau tidak berbuat apa-apa.” pria tuna wisma berumur 40an itu tertawa terbahak-bahak, lalu pergi.
Jali memang berkelakar, tetapi perasaanku tersentuh. Beginilah nasib orang buta!
Entah kenapa tiba-tiba aku mengingat kepahlawanan Zatoichi sebagai orang buta dalam film Jepang. Begitu cepat ia memainkan samurainya. Ia muncul sebagai pembela keadilan dan kebetulan, eh maksudnya pembela kebenaran. Pembela kaum tertindas dan kaum miskin.
Nah sekarang buat apa seseorang mengejek orang buta?
Sekalipun kita sehat, apakah benar kita sempurna tak berkekurangan sama sekali?
Misalnya aku sendiri. Secara lahiriah aku termasuk orang beruntung, lengkap jasmani. Tetapi secara batiniah? Bukankah aku punya kekurangan. Buktinya aku belum menikah, bahkan berpacaran sekalipun belum.
Permainan ala orang buta. Sepertinya permainan ini selesai. Kamipun diminta berkumpul di ruangan menjelang makan malam.
Ada saja pengalaman yang lucu, ada yang bercerita, tersandung batu dan hampir jatuh. Ada yang iseng, yakni menggiring kawannya keluar area pantai, yaitu membawa kawannya ke jalan raya, hingga ia menjadi pusat perhatian banyak orang. Terjadilah dialog-dialog yang menggelikan. Dengan demikian masing-masing punya pengalaman dan kesan tersendiri.
Kamipun berdiskusi dan masing-masing mengungkapkan kesannya. Dalam suasana santai penuh keakraban itu Ale dari Semarang bertanya padaku.
“Bagaimana perasaanmu sebagai orang buta?”
“Aku lebih paham akan kegelapan dunia pada diri manusia,” jawabku.
Mata kawan lainnya terpada. Aku melanjutkan pendapatku tentang kesan dan pengalaman yang kudapat.
“Ternyata indera ke-6 lebih tajam,” kataku.
Semua tertawa mendengarnya. Aku tak tahu kenapa mereka tertawa, entah karena perkataanku yang lucu atau karena mimik mukaku.
“Maksudmu apa?” kilah Jali berlaga bodoh.
“Mataku memang buta, tapi mata batinku tajam,” jawabku.
Semua terdiam sejenak. Pada saat ketenangan yang sejenak itulah kulanjutkan pendapatku, “Lahiriah pancaindera memang tenang, sebaliknya suara batin berbicara, mata batin akan melihat jelas.”

——————————————————————————————————————————————————————

Malamnya diadakan acara kursus orientasi dan kami dibagi dalam 3 kelompok. Tiap kelompok tidak lebih dari 20 orang. Pesertanya adalah vespamania yang berasal dari pelosok tanah air Indonesia. Dari sebelah timur jauh aku mengenal Jali, pada 2004 silam Jali adalah rekan seperjalananku dalam acara Bengkulu Banjir Scooter, Kumpul Bareng Scooter Sumatera II. Sekujur badannya yang besar penuh berisi tatto. Tapi tattonya bukan sembarang tatoo. Tatto ini penanda jam terbangnya menggagahi jalan raya kota di Indonesia. Ia memasuki Bali. Maka ia membuatkan satu logo klub tersebut di badannya. Begitulah setiap ia selesai menyambangi klub-klub di daerah Indonesia, pasti dia menambahkan satu tatto berlogo klub bersangkutan di badannya. Dia hampir dua kali keliling negeri Indoensia, berarti ada puluhan tatto berlogo Propinsi Indonesia. Walau begitu sangar penampilannya. dia adalah seorang pengusaha yang dermawan. Sementara dari barat Indonesia yaitu Riyan asal Pekanbaru. Dia peserta paling santai, bayangkan waktu tempuh dari tempat asalnya hingga sampai di Anyer ini, dia tempuh perjalanan selama 20 hari. Saya yakin kalau dia terlalu banyak berleha-leha di perjalanan. Ia sangat menggemari dunia malam. Setiap ia menginjakkan kaki di daerah, diskotik adalah tempat pertama yang ia cari. Walau beitu dia adalah seorang yang berjiwa sosial tinggi, ia mempunyai penampungan anak-anak jalanan. Sahabatku Ale asal Semarang, dia juga rekan perjalananku ke Bengkulu. Dia adalah seorang hard worker, namun dia juga seorang player. Maksudnya Pekerja keras, tetapi juga lebih banyak mainnya. Biarpun begitu dia adalah seorang kepala keluarga bertanggung jawab. Dia sanggup mencukupi seorang Istri dan dua orang anaknya. Kedua anaknya disematkan nama-nama varian vespa. Aku cuma tahu anak pertamanya dinamakan Vespania Innocenti.
Ups.. sudah dulu perkenalannya… Kita kembali ke acara orientasi.
Pola permainan ini sangat unik. Tiap peserta menjawab pertanyaan pada secarik kertas. Dan tiap jawaban harus diperdebatkan. Pertanyaannya sederhana sekali.
“Andaikata dunia ini kiamat dan semua manusia mati, lalu manusia berinkarnasi menjadi binatang. Nah, anda memilih binatang apa?” kata seorang pemandu.
“Jawablah sesuai dengan perasaan jiwa anda, tambahnya”
Kami berpikir sejenak dan segera menulisnya, lalu diserahkan pada pemandu.
Permainan macam apa ini, suatu permainan yang tampaknya memeriksa kejiwan seseorang. Suatu usaha untuk mengungkapkan perasaan yang tersimpan dalam bawah sadar manusia.
Kami hanya menjawab apa adanya.
Pemandu mulai membuka lipatan kertas satu-persatu.
“Siapa yang menulis singa?” tanya pemandu.
Riyan dari Pekanbaru mengacungkan tangan.
“Aku ingin seperti singa!’ teriaknya lantang.
“Hah… Raja singa!” celetuk Jali.
Kamipun spontan tertawa sesekali terdengar ejekan dari beberapa orang.
“huss! sela pemandu dan bertanya pada Riyan.
“Kenapa kau memilih ingin menjadi singa?”
Riyan berpikir sebentar. Matanya awas, memang terkesan seperti singa muda yang siaga menerkam.
“Daerahku termasuk daerah terpencil, cenderung pemerintah pusat mengucilkan daerahku. Masih banyak desa tertinggal luput dari perhatian pemerintah pusat. Lagipula banyak sekali diskriminasi di sana. Aku tak mau ditekan dan disudutkan oleh penguasa-penguasa tamak di kota.
Kami mengangguk-angguk seperti memahami perasaannya. Tampaknya pembicaraan mengarah pada permasalahan serius, yaitu mewakili jeritan hati nurani rakyat terpojokkan.
Ale dari Semarang lain lagi jawabannya.
“Aku ingin menjadi ikan hiu. Tabiat ikan hiu, tidak boleh diganggu, sekali diganggu ia akan menggigit pengganggunya.”
Kesan Ale cukup dalam. Rambutnya gimbal panjang sepinggul. Walau ia sering berkelahi di kampungnya, tapi hatinya amat lembut dan ramah. Ia lincah bergaul dan ia juga seorang berpendidikan sarjana ilmu komunikasi.
Kemudian pemandu kembali melanjutkan.
“Siapa yang menulis semut?”
“Nah ini pasti wanita,” sela seorang peserta.
“Betul! Betul!” terdengar suara dari beberapa peserta lain.
Akupun tertawa terbahak-bahak, “Hahahaha!”
“Mengapa kau tertawa?” tanya pemandu.
“Gila mungkin!” teriak Jali.
“Tentu saja aku tertawa. Dugaan kalian salah. Mentang-mentang seseorang menulis semut, lalu menuduh penulisnya wanita. Kita jangan menganggap enteng binatang yang sekecil apapun.”
“Lalu siapa yang menulis semut?” ulang si pemandu sedikit kesal.
“Aku yang menulis” suaraku lantang dan menggema di ruangan.
‘Eh kenapa pilihnya semut?” tanya Ale
“Eh jangan kalian kira semut itu lemah. Gajahpun mati oleh semut,” balasku dengan gerak tangan dan mimik.
“Semut adalah binatang yang mampu bekerja sama secara kompak. Gotong royong! Mereka bekerja keras buat hidup, hemat, rajin pula! Tiada perbedaan mencolok antara yang berkelimpahan dengan yang berkekurangan. Mereka bisa hidup damai! Harmonis, solidaritas tinggi dan saling menghormati! Persamaan dan keadilan dijunjung tinggi!” celotehku penuh semangat.
“Oh-oh kau sosialis ya? tanya Jali
“Bukan, aku Pancasilais!” jawabku polos.
Kucoba jelaskan dengan pandanganku, “Bagaimanapun aku ingin melihat masyarakat sejahtera, adil dan makmur yang tentunya dengan perjuangan keras. Menghormati satu sama lain, penuh toleransi, satu dalam persaudaraan dan menjunjung tinggi keadilan sosial.
“Idealis!” teriak teman-teman lainnya.
“Boleh saja kalian sebut aku idealis. Seseorang yang hidupnya bermimpi, bermimpi atau berkhayal dan berkhayal! Namun setidaknya aku punya tujuan, yaitu mendambakan masyarakat yang demikian tadi. Walau jiwaku penuh konflik melihat kenyataan yang ada”.
“Memangnya apa yang kau lihat?”
“Manusia berlomaba-lomba mencari kekayaan dengan menghalalkan segala cara. Lalu membuang uang sekian banyak, padahal banyak sekali yang hidup tak berkecukupan. Banyak yang tidak peduli dengan si miskin yang bergelimpangan di emper toko, di kolong jembatan dan di gubuk-gubuk tua.
Mereka memperhatikan pembicaraanku dengan serius.
“Aku mengerti! Hidup masa kini cenderung materialis. Pesta pora, gila-gilaan, kehidupan yang santai dan suasana mabuk kepayang lainnya melupakan ratap tangis orang-orang kecil. Mereka boleh saja bilang, rakyat tidak menderita. rakyat tidak mengeluh., karena mereka tidak dapat melihat betapa lukanya hati rakyat kecil. Tapi suatu hari mereka pasti akan melihat dan mendengar jeritan massa!”
“Jeritannya bagai kemarahan raksasa!” teriak Jali.
“Rakyat pasti akan unjuk rasa!” tambah lainnya.
“Persis! Rakyat akan mengutuk. Celakalah mereka yang berbuat curang. Mereka bekerja seolah malam hari selalu menaunginya dan mereka terka bahwa semua orang sedang tertidur. Mereka lupa bahwa ketika malam berganti siang, semuanya akan terbuka, tidak ada yang tertutup lagi. Semua kekuatan yang selama ini tercekik serta segala perasaan yang tertindas akan muncul dan meletus dengan dasyatnya.”
“Ada lagi penjelasanmu?” tanya pemandu.
“Semakin hari aku semakin hanyut dalam kekecewaan, kesal dan frustasi rasanya. Aku seperti hidup dengan langit mendung yang sebentar lagi terancam badai. Semuanya serba gelap. Seperti kehilangan pegangan. Aku mendambakan sesuatu, sesuatu yang berada dalam persaudaraan, yakni seperti apa yang aku saksikan dalam masyarakat semut. Ataukah aku harus hanyut dalam roda kehidupan apa adanya? JIka memang demikian, kejayaan dunia akan berlalu. Dunia ini bukan lagi andaikata kiamat seperti kata pemandu, tapi memang benar-benar kiamat.”
Semua peserta diam termenung. Aku hanya tersenyum.
Mereka baru sadar, dan secara spontas bertepuk tangan. Suatu tepuk tangan yang panjang, seperti menyambut babak baru dalam sandiwara.
Pemandu mengetuk meja berharap peserta tenang.
“Baiklah acara malam ini selesai. Selamat beristirahat dan selamat malam.”
Semua peserta perlahan mulai berhamburan keluar ruangan sambil membincangkan pernyataan-pernyataanku tadi. Ternyata apa yang kusampaikan menjadi bahan obrolan kebanyakan peserta kursus orientasi. Banyak dari mereka menyadari betapa perlunya memperjuangkan masyarakat tatanan baru berfilosofi semut.
——————————————————————————————————————————————————————
Aku termenung sendiri di kamar, gelisah tak bisa tidur pada malam itu. Kenangan lama seperti bermain di ujung bola mataku. Lalu terjadilan percakapan dalam diri. AKu mencari makna kehidupan.
Menurutku nasib seseorang tergantung dari Tuhan. Segala sesuatu yang kualami, semua emosi dalam diri menjadi pergumulanku. Apa pun yang kualami tentu ada kesulitan di dalamnya. Seperti usaha dalam mencapai ilmu pengetahuan dan usaha membentuk jati diri yang bermartabat. Adanya kesulitan itulah yang justru membuatku kuat.
Malam ini pertanyaanku silih berganti memenuhi benakku. Aku sedang mengamati dan memberi waktu pada hati nuraniku untuk berbicara. Dengan cara demikian aku menemukan makna kehidupan dan kebenaran dalam hidupku.
Selangit malam makin larut
Aku merasa letih, karena terlalu banyak berpikir. Aku ingin beristirahat, tidur yang nyenyak. Berharap esok Tuhan masih memberiku waktu untuk berkarya lagi. I wish that.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: