Archive for Rohani Kristen

Retoris Terkemuka Sepanjang Masa


Retoris dalam ilmu komunikasi adalah seorang tokoh yang mengungkapkan gagasannya, bertujuan untuk mempengaruhi audiensnya agar sepaham dengan ide yang dilontarkannya. Dalam penyampaiannyapun mereka menggunakan berbagai cara, persuasif atau pembujukan, propaganda, sampai pada indoktrinasi.

Salah satu retoris terkemuka adalah Adolft Hittler dengan paham nazinya. Dia menyampaikan gagasannya dengan berulangkali bahkan disertai ancaman psikis dan fisik. Falsafah hidup audiensenya dirubah perlahan-lahan dengan cara penyajian pesan-pesan yang berisikan ideologinya. Dengan penggembar-gemboran berulang kali (propaganda) disertai ancaman fisik maka secara tak sadar pikiran audiensenyapun sudah terbentuk sesuai keinginan pemesannya. Karena pada hakikatnya masyarakat adalah produk manusia dan manusia adalah produk masyarakat. Ini berarti bahwa kehidupan manusia dapat dipesan sesuai selera.

Begitu juga dengan retoris lainnya, Fidel Castro Perdana Menteri Kuba dengan paham sosialisnya, Kim II Sung Perdana Menteri Korea Utara dengan perpaduan monarki-marxismenya: dimana beliau menciptakan suatu agama baru bernama “Juche” berisikan ajaran yang dijadikan landasan hidupnya. Dalam menancapkan ideologinya mereka harus mengatur strateginya sedemikian rupa agar tujuan penyampaiannya dapat tercapai. Setelah jumlah pengikut mereka sesuai dengan targetnya maka mereka mulai menyatakan eksistensi dirinya dengan nama negara. Sampai di situ belum cukup mereka juga harus berupaya bagaimana cara supaya pengikutnya tetap berada dalam lingkaran ideologinya. Caranyapun bermacam-macam, ada yang dengan membuat media massa yang berisikan pesan-pesan tersembunyi, yang tak disadari oleh khalayak bahwa mereka berada dalam lingkaran ideologinya. Informasi yang ada dibuat sedemikian rupa sehingga khalayak hanya tahu informasi yang monoton. Dengan cara seperti itulah masyarakat dikontruksi. Begitu juga yang terjadi dalam pemerintahan orde baru oleh Soeharto. Media massa dikendalikannya agar penguasa tetap berada dalam jabatan dan kewenangannya. Kita dibuai dengan berita-berita menarik agar menunjukan pemerintahannya berjalan dengan sukses dan seolah-olah tidak memiliki cacat. Seiring berjalannya waktu pemerintahan merekapun akhirnya runtuh digulingkan dengan paham yang baru, karena sudah tidak sesuai lagi dengan zaman, atau karena penguasanya sudah tidak memiliki kekuatan lagi, dikudeta, dicopot paksa, ataupun wafat.

Satu hal yang menarik, yang menjadi fenomenal sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Adalah Yesus Kristus sebagai pencetus “hukum kasih”, hukum yang telah menjungkir balikkan dunia, hukum yang dipakai oleh milyaran umat manusia. Dan pemerintahannyapun masih berdiri kokoh sampai sekarang dan selama-lamanya, pemerintahnnya tidak dapat digulingkan oleh apapun dan siapapun, dan gagasannyapun tidak akan usang dimakan waktu, walapun zaman berganti, kapan saja dan dimana saja gagasannya dapat dipakai. Dalam penyampainnyapun Ia cukup menyampaikan satu kali pesannya dalam ahad bersejarah yaitu “kotbah di bukit”. Dia tidak perlu membujuk, ataupun mengancam secara fisik. Dan waktu untuk mendirikan kerajaanNya Dia hanya memerlukan waktu kurang lebih tiga tahun. Dengan cara yang sepertinya mudah itu Dia berhasil menarik perhatian dan mempengaruhi milyaran umat manusia dan menjadi pengikut dan sepaham dengan gagasanNya. Milyaran umat manusia itu terdiri dari berbagai macam kalangan, bahasa, bangsa dan latar belakang lainnya. Walaupun mereka tidak dapat melihat sosok pemimpinnya secara fisik namun mereka semua bersatu dalam pemerintahan yang utuh, satu dasar dan sejak terbentuk pengikutnya sampai sekarang kita menyebutnya “gereja”.(GIE)

DOKTRIN ALLAH


Keberadaan Allah

Baca : Mazmur 90 : 2

Pada waktu Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta, hal itu berarti pula bahwa Allah sendiri tidak diciptakan.

Ada perbedaan yang mendasar antara Pencipta dan Ciptaan (Qualitative Different).

Allah adalah Pencipta dunia ini beserta segala isinya.

Adalah tidak mungkin bagi sesuatu untuk menciptakan dirinya sendiri (bertentangan dengan akal sehat). Tidak ada sesuatu pun yang dapat menciptakan dirinya sendiri. Setiap akibat harus ada penyebabnya. Allah adalah bukanlah suatu akibat, oleh karena itu, Ia tidak memiliki penyebab. Dia adalah kekal, itu berarti Dia selalu ada, dulu dan sekarang.

Pada diriNya, Ia sendiri memiliki kuasa keberadaan. Dia tidak membutuhkan pertolongan dari sumber lain di luar diriNya untuk membuatNya, terus menerus berada. Inilah yang di mengerti sebagai keberadaan yang mandiri (Kis 17:23-25).

Allah adalah suatu keberadaan yang Mahatinggi dan sumber dari segala keberadaan yang lain.

Keberadaan Allah akan sangat menentukan keberadaan manusia (Kisah Rasul 17:28). Allah dapat berada secara mandiri, namun manusia yang diciptakan Allah tidak dapat berada secara mandiri. Keberadaan manusia bergantung kepada keberadaan Allah.

Segala sesuatu yang kita mengerti dalam wilayah pengetahuan kita : bergantung dan manusiawi. Oleh karena itu, kita harus ingat, bahwa kita tidak dapat mengerti secara tuntas suatu eksistensi yang mandiri.

Sifat Allah

Sifat Allah adalah kualitas dan keberadaan Allah yang membuat Dia ada sebagaimana Dia ada.

Sifat-sifat Allah diberitahukan kepada kita melalui penyataan. Manusia tidak memberi sifat-sifat itu kepada Allah, tetapi Allah menyatakannya kepada maanusia.

Ketika manusia mungkin dapat mendaftarkan sebanyak mungkin sifat Allah, namun Allah lebih dari seluruh jumlah total kesempurnaanNya yang dapat kita mengerti.

Mahakuasa

Kemahakuasaan Allah berarti Allah berkuasa atas semua ciptaan-Nya. Dan tidak ada di dalam alam semesta yang dapat menggagalkan atau mengacaukan rencana-rencana Allah.

Kemahakuasaan tidak berarti bahwa Allah dapat melakukan apa saja. (Dia tidak dapat berbohong, Dia tidak dapat mati). Allah tidak dapat bertindak melawan naturNya. Kemahakuasaan merupakan ancaman pada orang yang jahat tetapi merupakan sumber penghiburan bagi orang percaya. (Ayub 42:2)

Mahahadir

Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Keberadaan-Nya melampaui ruang dan waktu. Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari hadapan Allah. Allah hadir di semua tempat dan Ia mampu untuk hadir secara penuh dalam segala waktu dan segala tempat (ke”imanen”an Allah). Kemahahadiran Allah merupakan penghiburan bagi orang percaya dan sesuatu yang menakutkan bagi orang yang tidak percaya. (Mz 139:7-10)

Mahatahu

Berarti “semua pengetahuan”. Hanya keberadaan yang tidak terbatas yang dapat memiliki pengetahuan yang tidak terbatas. Allah tidak pernah belajar sesuatu atau mendapatkan suatu pengetahuan yang baru. Masa yang akan datang demikian pula masa yang telah berlalu sepenuhnya diketahui oleh Allah. Dia tidak pernah dikejutkan oleh apapun juga. Kemahatahuan Allah sejalan dengan kemahakuasaan-Nya. Semua peristiwa diketahui oleh Allah. Kemahatahuan Allah krusial bagi peranan-Nya sebagai Hakim dunia ini. (Roma 11:33-36)

Providensia Allah

Kesadaran akan keberadaan dan sifat Allah, yang menopang seluruh alam semesta membawa kita kepada Providensia Allah. (Latin : Providere => pro=sebelum, videre=melihat, to foresee).

Seringkali disebut sebagai Doktrin Pemeliharaan Allah.

Providensia Allah dapat dibedakan dalam 2 aspek (seperti koin punya 2 sisi) :

ALLAH MEMELIHARA

Pekerjaan Allah ini bersifat mencegah ciptaanNya dari bahaya dan kehancuran serta menyediakan kebutuhan seluruh ciptaan (dalam upaya mempertahankan keberadaan ciptaan). Tiap ciptaan tidak self-sufficient (memenuhi kebutuhan sendiri dari dirinya). Hanya Allah yang Self Sufficient (cukup pada diriNya sendiri).

Respon : Maz 91:5,6,11; Matius 10:28

ALLAH MENGENDALIKAN

Pekerjaan Allah ini adalah mengendalikan semua kejadian menuju penggenapan rencanaNya. Allah bisa memakai hewan, alam, kejadian yang seolah-olah kebetulan, dll (Mis. Kej 50:20; Yunus 1:4, 17; 2:10; 4:6,7,8)

Respon : Ibr 11:19 (Percaya kepada Tuhan, Taat dan Berserah/Taat Mutlak)

Secara ringkas dapat dikatakan,

Providensia adalah tindak lanjut (follow up) yang dilakukan Allah setelah penciptaan, dalam hal memelihara dan mengarahkan ciptaanNya pada tujuan akhir (final).

Pentingnya Doktrin ini :

Dengan memahami doktrin ini, kita di bawa untuk menyadari, bahwa :

Allah hadir dan aktif dalam kehidupan kita (menentang pandangan Deisme : Allah menciptakan lalu kemudian ditinggalkan).

Allah sedang memperhatikan kita sehingga kita dapat menghadapi masa depan dengan mantap karena segala sesuatu terjadi bukan karena kebetulan (Roma 8:28).

Allah sedang mendengar doa kita dan Ia pasti meresponi doa kita itu.

Allah tahu dan melihat, ketika kita sedang menghadapi bahaya, penderitaan, tekanan, dll.

Perbandingan dengan Agama lain

Kristen

Percaya Allah Mahatahu, Mahakuasa (Ayub 42:2; Mz 115:3; Mat 19:26)

Kristen

Percaya Allah adalah Kekal, ber-Pribadi, keberadaan rohani dalam 3 pribadi, sebagai Bapa, Anak, Roh Kudus (Mat 3:13-17; 28:19; II Kor 13:14)

Budha

Menyangkal keberadaan Allah yang berpribadi

Hindu

Brahmana tidak berbentuk, abstrak, keberadaan kekal tanpa sifat. Mengambil bentuk suatu trimurti juga jutaan dewa-dewa yang lebih kecil

Kristen

Allah yang esa dinyatakan dalam Alkitab sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam satu “hakekat”

Ke-Allahan ada tiga pribadi yang sama derajat dan sama kekal (Mat 3:13-17; 28:19; II Kor 13:14)

Islam

Tidak ada Tuhan selain Allah

Saksi Yehova

Bahwa ada satu keberadaan tersendiri dari segenap kekekalan, Allah Yehova, Pencipta dan Pemelihara Semesta dan segala sesuatu. Mereka menyangkal ajaran Tritunggal.

Kristen

Percaya bahwa Allah secara unik kekal dan Mahakuasa, Allah yang esa dan Ia adalah Roh (Mz 145:13; Yoh 4:24; I Tim 1:17)

Mormon

Bahwa Allah adalah makhluk yang juga bersifat materi dan tadinya adalah manusia seperti kita sekarang. Manusia akhirnya dapat menjadi allah, maka ada banyak allah.(GIE)

Referensi :

R.C.Sproul, DASAR-DASAR KEBENARAN IMAN KRISTEN, SAAT.

J.I.Packer, CONCISE THEOLOGY, Tyndalle.

Millard Erickson, CHRISTIAN THEOLOGY, Baker Book House.

Charles Riggs; dkk, BUKU PEGANGAN PELAYANAN, PPA.

Parable of Jesus


INTRODUCTION

Koran-koran biasanya meletakkan sebuah gambar karikatur pada tempat yang menyolok pada halaman korannya. Dengan gambar yang sederhana saja, sang pelukis menggambarkan situasi dan kondisi sosial, politik, atau ekonomi, yang kita hadapi saat itu. Dengan gambar tersebut, ia ingin menyampaikan suatu pesan yang tajam, yang seringkali seorang editor tidak dapat secara tepat menyampaikannya dalam tulisan. Dalam ilmu komunikasi hal itu biasa disebut semiotika, ilmu yang mempelajari tanda, lambing atau symbol yang dikaitkan dengan situasi sosial.
Yesus menggambarkan lukisan verbal dari lingkungan di sekitarNya dengan menceritakan sebuah parabel (perumpamaan). Melalui parabel Ia menggambarkan apa yang terjadi di dunia nyata. Dengan menggunakan sebuah cerita, yang diambil dari kehidupan sehari-hari, dengan setting yang wajar dan umum, Yesus mengajarkan sebuah pelajaran baru. Pelajaran tersebut seringkali muncul pada akhir dari kisah dan memiliki pengaruh yang membutuhkan waktu untuk menyerapnya dan menyesuaikannya. Ketika kita mendengar sebuah parabel, kita mengangguk setuju karena kisah tersebut sesuai dengan kehidupan dan sudah dimengerti sebelumnya. Sekalipun aplikasi parabel dapat kita dengar namun tidak selalu dapat dimengerti. Kita melihat kisah itu dengan jelas namun kita tidak dapat mengerti maknanya. Kebenaran tetap tersembunyi hingga mata kita dibukakan dan kita dapat melihat secara jelas. Kemudian pelajaran baru dari kisah itu menjadi ada maknanya. Hal ini seperti yang disampaikan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya, “The secret of the Kingdom of God has been given to you. But to those on the outside everything is said in parables” (Mark 4:11).
Bentuk
Kata parabel di dalam perjanjian baru memiliki konotasi yang luas, termasuk bentuk-bentuk parabel yang secara umum dibagi menjadi tiga kategori. Ketiganya adalah: true parables, story parables, dan illustrations.

True parables

Ilustrasi yang digunakan adalah kehidupan sehari-hari yang mencakup semua orang yang mendengar parabel tersebut. Setiap orang mengetahui kebenaran yang ada di dalamnya; tidak ada dasar untuk keberatan dan kritikan. Semua mengetahui benih tumbuh dengan sendirinya (Markus 4:26-29); ragi yang bekerja dalam tepung terigu (Matius 13:33); anak-anak yang bermain di pasar (Matius 11:16-19, Lukas 7:31, 32); seekor domba yang terpisah dari kawanannya (Matius 18:12-14); dan seorang wanita yang kehilangan sebuah koin uang di rumahnya (Lukas 15:8-10). Kisah-kisah ini dan banyak yang lain dimulai dari kebenaran dasar yang menggambarkan baik alam ataupun kehidupan manusia. Semuanya biasanya berhubungan dengan masa sekarang.

Story parables

Berbeda dari True parables, story parable tidak bergantung pada kebenaran umum atau kebiasaan yang diterima secara umum. True parable diceritakan dalam masa sekarang sebagai fakta; story parable, sebaliknya, merujuk pada kejadian khusus yang terjadi pada masa yang lampau–biasanya merupakan pengalaman dari seseorang. Merupakan pengalaman seorang petani yang menabur benih gandum kemudian mengetahui bahwa musuhnya telah menabur benih ilalang pada tanah yang sama. (Matius13:24-30). Adalah pengalaman seorang kaya yang managernya telah membuang-buang harta miliknya (Lukas 16:1-9). Adalah pengalaman seorang hakim, yang karena permohonan janda yang tidak jemu-jemunya, memberikan keadilan (Lukas18:1-8). Nilai sejarah dari kisah ini tidak dapat diketahui, karena bukan fakta namun kebenaran yang digambarkan bermakna.

Illustrations

Kisah-kisah ilustrasi muncul dalam Injil Lukas biasanya dikategorikan sebagai kisah-kisah contoh. Contohnya adalah orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30-37); orang kaya yang bodoh (Lukas 12:16-21); orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31); Orang Farisi dan pemungut cukai (Lukas 18:9-14). Ilustrasi ini berbeda dengan story parable dalam desain. Kalau story parable merupakan analogi, ilustrasi menonjolkan contoh-contoh yang harus diikuti atau dihindari. Fokus utama dari ilustrasi langsung pada karakter atau tingkah laku dari seorang individu; story parable pun bertujuan sama hanya tidak bersifat langsung.
Mengklasifikasikan parabel tidak selalu mudah. Beberapa parabel menggambarkan karakteristik dari dua grup—true parable dan story parable— dan mungkin bergabung pula dengan grup yang lain. Selain itu, Injil juga mengandung banyak perkataan-perkataan parabolis. Seringkali sangat sulit untuk menentukan secara tepat mana yang merupakan parabel dan mana yang merupakan perkataan parabolis. Pengajaran Yesus tentang ragi (Luk 13:20,21) diklasifikasikan sebagai true parabel, namun pesanNya yang lebih panjang akan garam (Luk.14:34,35) disebut perkataan parabolis. Lebih jauh lagi, beberapa perkataan Tuhan Yesus diperkenalkan sebagai parabel. Sebagai contoh, “He also told them this parable: Can a blind man lead a blind man? Will they not both fall into pit?”(Luk. 6:39).

Komposisi
Sekalipun secara umum benar bahwa sebuah parabel hanya mengajarkan satu pelajaran dasar, aturan ini janganlah dipaksakan terlalu berlebihan. Beberapa dari parabel Tuhan Yesus memiliki komposisi yang kompleks. Parabel penabur merupakan komposisi dari empat bagian, dan setiap bagian memerlukan satu interpretasi. Hal yang sama, parabel perjamuan kawin bukanlah merupakan kisah tunggal, namun memiliki seksi tambahan tentang seorang tamu tanpa pakaian perkawinan yang pantas. Dan kesimpulan dari parabel para penyewa tanah berpindah dari imagery kebun anggur kepada tukang bangunan. Dipandang dari ke-kompleks-an inilah maka lebih baik untuk tidak meng-eksegesis komposisi parabel menjadi interpretasi satu-point.
Ketika seorang membaca parabel Yesus, seseorang mungkin bertanya-tanya mengapa banyak sekali detail yang kita harapkan menjadi bagian dari kisah tersebut tidak ada. Sebagai contoh, di dalam kisah teman yang mengetuk pintu-pintu tetangganya pada tengah malam untuk minta tiga potong roti, tidak menyebutkan peran istrinya. Didalam parabel anak yang hilang, sang ayah merupakan karakter utama, tapi tidak ada satu katapun disebut tentang ibunya. Parabel tentang sepuluh orang gadis memperkenalkan mempelai pria, namun sama sekali mengabaikan mempelai wanita. Detail-detail ini, namun, tidaklah relevan kepada komposisi umum dari parabel, terutama jika kita mengerti gaya sastra triads yang sering digunakan pada parabel Tuhan Yesus. Dalam parabel teman pada tengah malam, ada tiga karakter: sang tamu, sang teman dan sang tetangga. Parabel anak yang hilang terdiri atas tiga orang: sang ayah, anak yang bungsu, dan anak yang sulung. Dan dalam kisah sepuluh anak gadis ada tiga elemen: lima gadis yang bijaksana, lima gadis yang bodoh, dan mempelai pria.
Lebih jauh lagi, pada parabel Tuhan Yesus bagian akhirlah yang penting bukan bagian awal. Penekanan jatuh pada orang terakhir, tindakan terakhir, atau perkataan terakhir. Bukanlah imam atau orang Lewi yang membalut orang yang terluka melainkan oarng Samaria. Sekalipun pelayan yang mendapat pujian adalah yang yang berhasil menggandakan lima dan dua talenta, namun tindakan pelayan yang menguburkan satu talenta yang diterimanya, yang membuatnya dimurkai. Dan dalam parabel pemilik tanah, yang sepanjang hari menyewa pekerja-pekerja di kebun anggurnya dan pada pukul enam mendengar keluhan beberapa pekerjanya, adalah jawaban pemilik tanah itu yang merupakan terpenting: “Friend, I am not being unfair to you….Or are you envious because I am generous?” (Mat. 20:13,15)

Tujuan
Parabel menunjukan bahwa Tuhan Yesus sepenuhnya mengenali kehidupan manusia dengan jalan dan alatnya yang beragam. Ia memiliki pengetahuan akan pertanian, penaburan benih, mengenali ilalang, dan menuai gandum. Ia mengenali kebun anggur, tahu kapan saatnya untuk menuai buah dari pohon anggur dan pohon ara dan sangat paham akan upah untuk kerja sehari. Bukan saja Ia mengenali pekerjaan dari petani, nelayan, tukang bangunan dan pedagang,, namun lebih jauh lagi kepada tuan-tuan tanah, departemen keuangan dalam kerajaan, hakim dalam pengadilan, orang Farisi dan pemungut cukai. Ia mengerti kemiskinan dari Lazarus, namun Ia diundang juga untuk makan dengan orang kaya. Parabel-parabelnya menggambarkan kehidupan pria, wanita, dan anak-anak, orang miskin dan kaya, orang yang tersisih dan dimuliakan. Karena pengenalanNya meliputi keseluruhan umat manusia, Ia mampu untuk melayani semua strata sosial masyarakat. Ia berbicara dengan bahasa rakyat dan mengajar mereka sesuai dengan kemampuan mereka. Yesus menggunakan parabel supaya pesanNya dapat diterima oleh rakyat, untuk mengajarkan sekumpulan orang Firman Tuhan, untuk memanggil pendengarnya supaya bertobat dan beriman, untuk menantang orang percaya untuk mempraktekan perkataan ke dalam tindakan, dan untuk memperingatkan pengikutbnya untuk berjaga-jaga.
Yesus menggunakan parabel untuk mengkomunikasikan pesan keselamatan dengan jelas dan mudah dimngerti. PendengarNya telah mengerti kisah anak yang hilang, dua orang yang berhutang, perjamuan besar, dan orang Farisi dan pemungut cukai. Di dalam parabel mereka menjumpai Yesus sebagai Kristus, yang mengajar dengan otoritas pesan akan kasih penebusan Allah.
Menurut penuturan Injil, namun, merupakan kenyataan bahwa interpretasi dari parabel hanya terjadi pada murid-muridNya saja. Yesus berkata pada mereka, “The secret of the kingdom of God has been given to you. But to those on the outside everything is said in parables so that, they may be ever seeing but never perceiving, and ever hearing but never understanding; otherwise they might turn and be forgiven!”(Mark. 4:11,12).
Apakah ini berarti bahwa Yesus, yang dikirim oleh Tuhan untuk memproklamirkan penebusan kepda orang berdosa, menyembunyikan pesannya dalam bentuk parabel yang tidak dapat dipahami? Apakah parabel merupakan saringan yang dimengerti oleh orang yang terpilih?
Kata-kata dalam Markus 4:11,12 perlu dimengerti di dalam konteks yang lebih luas di mana penulis menempatkannya. Di dalam pasal sebelumnya Markus menghubungkan Yesus yang berhadapan dengan oposisi yang tidak percaya. Dia dituduh mengabdi pada Beelzebul dan mengusir setan dengan kuasa penghulu iblis (Markus 3:22). Kontras yang Yesus sampaikan, karenanya adalah antara orang percaya dan tidak percaya, antara pengikut dan lawan, antara penerima dan penolak wahyu Allah. Mereka yang melakukan kehendak Allah menerima pesan dari parabel, karena mereka masuk dalam keluarga Yesus (Markus 3:35). Mereka yang bermaksud memusnahkan Yesus (Markus 3:6) telah mengeraskan hati mereka untuk mengenali keselamatan. Ini adalah masalah iman dan ketidak-percayaan. Orang beriman mendengar parabel dan menerimanya di dalam iman dan mengerti. Orang yang tidak percaya menolak parabel karena terasa asing dengan jalan pikiran mereka. Mereka menolak untuk memahami kebenaran Allah. Sehingga, oleh karena mata mereka yang buta dan pendengaran yang tuli, mereka menutup diri mereka dari keselamatan yang Yesus proklamirkan, dan mereka membawa diri mereka jatuh dalam penghakiman Allah.
Bahwa murid-murid Yesus untuk pertamakalinya tidak mengerti sepenuhnya parabel benih yang ditabur tidaklah mengejutkan (Markus 4:13). Mereka bingung dengan pengajaran melalui parabel karena mereka belum pernah melihat makna dari pribadi dan pelayanan Tuhan Yesus di dalam hubungan dengan kebenaran Allah yang disampaikan melalui parabel. Hanya dengan iman mereka mampu melihat kebenaran tersebut dimana parabel itu memberi kesaksiannya. Yesus memberikan interpretasi yang lengkap tentang parabel benih yang ditabur dan parabel gandum dan ilalang.

Interpretasi
Semasa Gereja mula-mula, bapa-bapa gereja mulai mencoba untuk menemukan arti tersembunyi dalam Perjanjian Lama yang menyatakan kedatangan Tuhan Yesus. Sebagai konsekuensi logis dari hal ini, mereka pun mulai mencoba untuk menemukan arti tersembunyi dalam parabel Tuhan Yesus. Mungkin mereka terpengaruh oleh apologetika orang Yahudi dalam mengganti kesederhanaan dari Kitab Suci kepada spekulasi yang rumit. Akibatnya, yang terjadi adalah penafsiran alegoris dari parabel. Oleh karena itu, dari masa gereja mula-mula hingga pertengahan abad sembilan belas, banyak penafsir mengartikan parabel dengan cara alegoris.
Origen, contohnya, percaya bahwa parabel sepuluh gadis penuh dengan simbol-simbol tersembunyi. Gadis-gadis tersebut, menurut Origen, adalah orang-orang yang telah menerima Firman Tuhan. Yang bijaksana percaya dan hidup secara benar; sedangkan yang bodoh percaya namun tidak berbuat. Kelima pelita dari yang bijaksana melambangkan kelima indra manusia, yang digunakan untuk keperluan yang seharusnya. Kelima pelita dari yang bodoh gagal untuk memberikan terang dan berpindah kepada kegelapan dunia. Minyak pelita itu berarti pengajaran dari Firman, dan penjual dari minyak itu adalah para pengajar. Harga yang mereka minya untuk minyak itu adalah penderitaan. Tengah malam adalah waktu dari orang-orang sembrono lalai. Tangisan yang besar, yang terdengar berasal dari malaikat-malaikat yang membangkitkan semua manusia. Dan mempelai pria adalah Kristus yang datang untuk menemui mempelai wanitaNya, yaitu gereja. Seperti itulah Origen menafsirkan parabel.
Bagi para komentator abad kesembilan belas, masih umum untuk mengidentifikasikan detail-detail individu dari sebuah parabel. Dalam parabel sepuluh gadis, lampu yang menyala melambangkan pekerjaan baik dan minyak melambangkan iman orang percaya. Yang melihat bahwa minyak merupakan simbol perwakilan dari Roh Kudus.
Namun tidak semua penafsir menggunakan cara alogoris untuk menafsirkan parabel. Pada masa Reformasi, Martin Luther mencoba untk mengubah arah penafsiran dari Kitab Suci. Ia merujuk pada metoda Eksegesis biblical yang di dalamnya termasuk pertimbangan latar belakang sejarah dan struktur gramatikal dari parabel. John Calvin bahkan lebih tegas lagi. Ia menghindari semua penafsiran alegoris dan sebagai gantinya mencoba menemukan poin utama dari pengajaran parabel tersebut. Ketika ia menggali kebenaran dari parabel tersebut, ia tidak menyusahkan dirinya dengan detail-detail. Menurut pendapatnya, detail-detail tersebut tidak berhubungan dengan pengajaran yang Yesus ingInkan dari parabel tersebut.
Selama paruh kedua abad sembilan belas, C.E. van Koetsveld, seorang sarjana Belanda, memberikan dorongan lebih jauh lagi kepada pendekatan yang digunakan para Reformator ini. Ia menunjukkan bahwa penafsiran alegoris dari parabel yang dilakukan oleh banyak komentator lebih membingungkan daripada membantu menjelaskan pengajaran Tuhan Yesus. Untuk menafsirkan parabel secara tepat, seorang penafsir harus mengerti arti dasarnya dan membedakan antara yang esensial dan tidak. Van Koetsveld berhasil dalam pendekatan ini ke dalam parabel, yang dilakukan oleh seorang teolog Jerman, A. Julicher, yang meneliti bahwa sekalipun kata parabel sering digunakan oleh kaum evangelis, namun kata alegoris tidak pernah muncul dalam tulisan mereka tentang Injil.
Pada akhir abad ini, belenggu alegoris yang mengikat penafsiran parabel diputuskan dan era baru dalam menggali parabel muncul. Ketika Julicher melihat Yesus sebagai seorang guru moral, maka C.H. Dodd memandangNya sebagai seorang yang dinamis, yang melalui pengajaranNya menyebabkan periode krisis. Kata Dodd, “Tugas Interpreter parabel adalah menemukan, kalau dapat, latar belakang dari parabel dalam situasi perenungan melalui Injil. Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah, Anak Manusia, penghakiman, masa anugerah telah memasuki latar belakang sejarah pada masa itu. Bagi Yesus, menurut Dodd, kerajaan berarti hukum Allah diterangkan dengan contoh melalui pelayanan pribadiNya. Karena itu, parabel yang Tuhan Yesus ajarkan harus memiliki arah yang benar tergantung situasi aktual pemerintahan Allah di dunia.
J. Jeremias melanjutkan pekerjaan Dodd. Ia juga ingin membahas pengajaran parabolik yang kembali kepada Yesus sendiri. Namun, Jeremias mencoba menelusuri perkembangan historis parabel, yang ia percayai terbagi dalam dua tahap. Tahap pertama berkenaan dengan situasi aktual dari pelayanan Yesus, dan tahap kedua merupakan sebuah refleksi bagaimana parabel digunakan dalam gereja mula-mula. Tugas yang diberikan oleh Jeremias adalah menemukan bentuk original parabel supaya dapat mendengar suara Tuhan Yesus. Dengan pengetahuan yang nyata akan tanah, kebudayaan, adat, masyarakat, dan bahasa orang Israel, Jeremias berhasil mengumpulkan sejumlah informasi yang menjadikan pekerjaannya merupakan buku yang berpengaruh dalam penjelasan parabel.
Sekalipun demikian, sebuah pertanyaan dapat diajukan, yaitu apakah bentuk original dapat dipisahkan dari konteks historis tanpa melibatkan sejumlah terkaan. Pada sisi yang lain, seseorang dapat saja mengambil teks parabel tersebut dan menerimanya sebagai presentasi yang benar dari pengajaran Yesus. Bukankah teks Alkitab yang diberikan oleh para kaum evangelis dapat merefleksikan konteks historis dimana parabel pertamakali diajarkan. Kita harus bergantung pada teks yang kita terima, dan membiarkan parabel dan konteks historisnya tetap utuh. Hal ini tentu saja memerlukan keyakinan – misalnya bahwa para evangelis dalam merekam parabel, mengerti maksud Tuhan Yesus mengajarkan parabel dalam latar yang mereka berikan. Ketika parabel terekam, saksi mata dan pelayan-pelayan Firman menuliskan tradisi oral dari perkataan dan tindakan Tuhan Yesus (Luk.1:1,2). Karena berhubungan dengan saksi mata maka kita dapat yakin bahwa konteks yang diberikan dalam parabel merujuk pada waktu, tempat, dan kondisi di mana Yesus pertama kali mengajar mereka.
Dalam masa terakhir ini, banyak sekolah-sekolah hermenetik menjauhi parabel-parabel dari latar historisnya dan mengarahkan kepada penekanan sastra (literary) dalam struktur yang dapat berdiri sendiri. Sarjana-sarjana ini memperlakukan parabel sebagai sastra yang dapat berdiri sendiri, terpisah dari pengaruh historis dan menggantikan arti awalnya dengan pesan kontemporer. Mereka menolak bahwa arti awal sebuah parabel ditemukan dalam kehidupan dan pelayanan Yesus; mereka tidak tertarik dengan sumbernya dan latarnya tapi lebih menyukai bentuk sastranya dan penafsiran eksistensial. Bagi mereka struktur sastra parabel sangat penting karena menuntun manusia modern kepada sebuah momen pengambilan keputusan : ia harus memilih menerima atau menolak tantangan yang ada di hadapannya.
Bahwa parabel memanggil orang untuk bertindak dapat disetujui; dalam aplikasi orang Samaria yang baik hati, ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus disuruh, “pergi dan lakukanlah semua itu” (Luk.10:37). Namun, kaum eksistensialis dalam penafsirannya menekankan modus perintahnya dan menghilangkan modus beritanya dimana parabel itu ditulis. Mereka memisahkan perkataan Yesus dari latar budayanya dan karena itu mengambil bagi mereka sendiri kuasa dan otoritas Yesus yang telah diberikan bagi mereka.
Lebih jauh lagi, dengan memperlakukan parabel sebagai struktur sastra yang terpisah dari latar awalnya, kaum eksistensialis harus mempersiapkan mereka dengan latar yang baru. Kemudian mereka menggantikan parabel dalam konteks kontemporer . Tapi metode ini hampir tidak bisa disebut eksegesis, sebab filsafat eksistensialisme telah dibawa masuk dalam teks Alkitab. Ini adalah eisegesis, bukan eksegesis. Sayangnya orang Kristen awam yang mencari pedoman dalam mengerti parabel harus pertama-tama belajar filsafat eksistensialisme, teologi neoliberal, dan bahasa sastra dari strukturalisme sebelum ia dapat mengambil manfaat dari penafsiran mereka.

Prinsip
Penafsiran sebuah parabel tidak memerlukan sebuah studi yang mendalam dalam teologi dan filsafat, namun tetap memerlukan prinsip-prinsip dasar penafsiran. Prinsip-prinsip ini secara ringkas berhubungan dengan sejarah, grammar, dan teologi dari teks Alkitab. Sedapat mungkin, seorang penafsir harus membuat sebuah studi tentang latar historis parabel, termasuk analisis detail dari kondisi religius, sosial, politik, dan geografi yang dinyatakan dalam parabel. Sebagai contoh, latar parabel orang Samaria yang baik hati membutuhkan beberapa kebiasaan dengan instruksi agamawi dari seorang iman pada saat itu. Ahli Taurat datang kepada Yesus bertanya apa yang harus ia kerjakan untuk memperoleh hidup yang kekal, membuka pembicaraan yang memimpin kepada kisah orang Samaria ini.
Dalam meneliti parabel orang Samaria yang baik hati ini, penafsir harus membiasakan dirinya dengan asal, status, dan agama orang Samaria; fungsi, tempat tinggal imam dan orang Lewi; topografi dari daerah antara Yerusalem dan Yerikho; dan konsep orang Yahudi tentang sesama manusia. Dengan memperhatikan catatan tentang konteks historis parabel, penafsir melihat alasan Tuhan Yesus mengajarkan kisah ini dan belajar pelajaran obyektif yang ingin Tuhan Yesus capai dengan parabel ini.
Kedua, tugas eksegesis harus memperhatikan sastra dan struktur gramatikal parabel. Modus dan tenses yang digunakan penulis dalam merangkai sebuah parabel mempunyai arti tertentu dan memberikan terang pada ajaran utama dari kisah itu. Studi kata dalam konteks Alikitab dan juga mempelajari tulisan-tulisan non-kanon merupakan dasar yang esensial dari proses dalam menafsirkan parabel. Karena itu, sebuah studi tentang kata sesama dalam konteks perintah “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri,” sebagaimana tertulis dalam Perjanjian Lama dan Baru merupakan pekerjaan yang berharga. Selain itu, seorang penafsir juga harus melihat pengantar dan kesimpulan parabel; ini dapat berbentuk berbagai gaya sastra seperti pertanyaan retorikal, teguran, atau perintah. Parabel Orang Samaria yang baik hati disimpulkan dengan sebuah perintah, “Pergi dan lakukanlah seperti itu” (Luk.10:37). Ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentang usaha untuk memperoleh hidup yang kekal menjadi tidak dapat lari dari kesalahannya yaitu mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pengantar, dan terutama sekali kesimpulan, berisi hal-hal yang akan menuntun kita kepada poin utama dari parabel.
Dan ketiga, poin utama dari parabel harus diperiksa secara teologikal terhadap ajaran Tuhan Yesus dan keseluruhan Alkitab. Ketika ajaran dasar dari parabel telah sepenuhnya digali dan sepenuhnya dimengerti, kesatuan dari Kitab Suci akan nampak, dan arti sebenarnya dari perikop tersebut dapat diperluas di dalam kesederhanaan dan kemudahan untuk dimengerti.
Terakhir, tapi bukan terkecil, penafsir harus menterjemahkan artinya ke dalam bahasa yang relevan dengan kebutuhan masa kini. Tugasnya adalah membawa ajaran utama dari parabel ke dalam situasi kehidupan dari orang yang mendengar interpretasinya. Dalam parabel orang Samaria, perintah untuk mengasihi sesama manusia menjadi berarti ketika orang yang telah dirampok dan terluka sepanjang jalan Yerikho tidak lagi menjadi gambaran yang terjadi pada masa lampau. Sebagai gantinya, sesama yang membutuhkan kasih kita adalah orang yang tidak memiliki rumah, tidak memiliki harta benda, seorang pengungsi. Mereka bertemu dengan kita di jalan Yerikho dalam koran harian kita dan laporan berita TV yang full-colour pada dunia dalam berita.(GIE)
Disadur dari “The Parables of JESUS”
Introduction, hal. xiii-xxvi Simon Kistemaker. Penterjemah: Jusuf Anggono

PERBANDINGAN FRAME KEEMPAT INJIL


Dalam Kitab Suci ada 4 kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Sekalipun dalam keempat kitab Injil itu ada banyak cerita yang sama, tetapi sebetulnya keempat penulis Injil itu mempunyai penekanan dan tujuan yang berbeda. Dan kalau kita membaca keempat kitab Injil itu maka akan terlihat bahwa mereka saling melengkapi satu dengan yang lain.

Illustrasi: Kalau kita mau membangun rumah, sedikitnya dibutuhkan 3 buah gambar dari rumah yang akan dibangun (dari atas, dari depan, dari samping). 3 buah gambar itu menggambarkan rumah yang sama, tetapi menggambarkannya dari sudut yang berbeda, sehingga mereka saling melengkapi satu dengan yang lain.

1) Matius.

a) Matius menekankan Yesus sebagai Raja.

Ini tidak berarti bahwa Matius tidak menyatakan Yesus sebagai manusia (penekanan Lukas), sebagai Allah (penekanan Yohanes), dan sebagai hamba (penekanan Markus), dsb. Tentu ia juga melakukan hal-hal itu, tetapi penekanan dari Matius adalah penggambaran Yesus sebagai Raja.

Hal-hal yang menunjukkan bahwa Matius menekankan Yesus seba­gai Raja:

  • · Mat 1:1 menunjukkan bahwa Yesus disebut sebagai ‘anak Daud’ (raja terbesar bangsa Israel).
  • · Mat 2:1-12 menunjukkan orang-orang Majus mencari Raja yang baru dilahirkan, dan menyembah dan memberi persembahan kepadaNya.
  • · Mat 28:18 – “Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”. Ini betul-betul merupa­kan ucapan yang cocok bagi seorang Raja.

b) Matius menujukan tulisannya untuk orang Yahudi.

Ini lagi-lagi tidak berarti bahwa Injil Matius ini bukanlah Firman Tuhan untuk orang-orang non Yahudi. Tentu Injil Matius ini juga merupakan Firman Tuhan bagi kita yang bukan Yahudi. Tetapi bagaimanapun tujuan orisinil penulisan Injil Matius ini adalah untuk orang Yahudi. Hal ini perlu diketahui karena kadang-kadang bisa berguna dalam penafsiran.

Bahwa Matius memang menulis untuk orang Yahudi, bisa terlihat dari:

  • · Yesus disebut sebagai ‘anak Abraham’ (Mat 1:1), kepada siapa janji tentang bangsa pilihan Allah itu pertama-tama diberikan.
  • · ada 11 x kalimat ‘supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi’ (1:22 2:15,17,23 4:14 8:17 12:17 13:35 21:4 26:56 27:9).

Dari sini terlihat bahwa Matius selalu berusaha menghubung­kan Yesus dengan Perjanjian Lama. Matius bermaksud untuk menunjukkan kepada orang Yahudi bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Hal ini penting untuk orang Yahudi yang mempercayai Perjanjian Lama sebagai Firman Tuhan.

  • · mujijat pertama yang dicatat oleh Matius adalah penyembuhan orang yang sakit kusta (Mat 8:1-4), karena kusta merupakan penyakit yang paling ditakuti oleh orang Yahudi. Dengan demikian Matius berkata kepada orang-orang Yahudi itu: Yesus berkuasa untuk menyembuhkan orang dari penyakit yang paling kamu takuti itu!

Catatan: Memang dalam Mat 4:23-25 sudah ada mujijat penyembuhan, tetapi disana hanya diceritakan secara umum, tidak secara specifik / khusus. Mat 8:1-4 adalah mujijat penyembuhan pertama dimana Matius menceritakannya secara specifik.

2) Markus.

a) Markus menggambarkan / menekankan Tuhan Yesus sebagai hamba.

Hal-hal yang menunjukkan bahwa Markus memang menekankan Yesus sebagai seorang hamba:

  • · dalam Injil Markus tidak ada silsilah Yesus, karena tidak ada orang yang mempersoalkan silsilah seorang hamba.
  • · Yesus sudah mulai melayani pada Mark 1:14. Bandingkan dengan Injil Matius dan Lukas, dimana Yesus baru mulai melayani pada pasal 4.

b) Markus menujukan tulisannya untuk orang Roma.

Ini terlihat dari fakta yang menunjukkan bahwa dalam seluruh Injil Markus, ia hanya 2 kali menunjukkan suatu peristiwa sebagai penggenapan dari nubuat Perjanjian Lama (Mark 1:2 Mark 15:28). Dan dalam Kitab Suci Indonesia, Mark 15:28 itu ada dalam tanda kurung tegak, yang menunjukkan bahwa itu merupakan ayat yang diragukan / diperdebatkan keasliannya. Jadi mungkin sebetulnya hanya 1 kali Markus menunjukkan suatu peristiwa sebagai penggenapan nubuat Perjanjian Lama. Ini menunjukkan bahwa Markus mulai meninggalkan alam Yahudi.

3) Lukas.

a) Lukas menggambarkan Yesus sebagai manusia.

Hal-hal yang menunjukkan bahwa Lukas menekankan Yesus sebagai manusia:

  • · Dalam Injil Lukas ada silsilah Yesus (Luk 3:23-38), karena orang Yahudi mementingkan silsilah (bdk. Bil 1:18). Tetapi berbeda dengan silsilah Yesus dalam Injil Matius yang hanya sampai kepada Abraham, maka dalam Injil Lukas silsilah Yesus ‘ditarik’ terus sampai kepada Adam, yang adalah manusia pertama. Kalau Yesus betul-betul adalah manusia, maka Ia haruslah merupakan keturunan Adam.
  • · Injil Lukas adalah satu-satunya Injil yang menceritakan pertumbuhan Yesus sebagai manusia (Luk 2:40,52), dan peris­tiwa yang dialami Yesus pada waktu berusia 12 tahun (Luk 2:41-51).

b) Lukas menujukan tulisannya untuk orang Yunani.

Karena itu berbeda dengan Matius yang mencatat mujijat penyembuhan orang sakit kusta sebagai mujijat yang pertama, maka Lukas mencatat penyembuhan orang yang dirasuk setan sebagai mujijat pertama (Luk 4:31-37). Mengapa? Karena orang Yunani paling takut kepada roh-roh jahat. Dengan demikian, Lukas berkata kepada orang-orang Yunani itu: roh-roh jahat yang paling kamu takuti itu, tidak ada apa-apanya dibanding dengan Yesus! Mereka terpaksa tunduk kepada Yesus!

4) Yohanes.

a) Yohanes menekankan penggambaran Yesus sebagai Allah / Anak Allah.

Hal-hal yang menunjukkan bahwa Yohanes menekankan penggambaran Yesus sebagai Allah / Anak Allah:

  • · Dalam Injil Yohanes tidak ada silsilah Yesus, tetapi Yohanes memulai Injilnya dengan Yoh 1:1 yang berbunyi: “Pada mula­nya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”.

Ini jelas menunjukkan keila­hian Yesus.

  • · Tujuan Injil Yohanes dicatat dalam Yoh 20:30-31 yang berbunyi: “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-muridNya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya”.

Dari ayat ini jelas terlihat bahwa tujuan Injil Yohanes adalah supaya semua orang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.

b) Yohanes menujukan tulisannya untuk Gereja / semua orang.(GIE)

Malam itu Dia mengajakku


Malam itu tubuhku sangat lelah
Setelah seharian aku berjalan mengiring Nya
Ingin sekali kudengar Dia mengatakan :
“Beristirahatlah seketika”
Tapi Dia terus melangkah
Dalam langkah-langkah kepastian
Malam itu Dia memasuki sebuah taman
“Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa”, kata Nya
Namun belum lagi aku sempat meletakkan pantat
Dia mengajakku memasuki taman itu
“Mau apa Dia ?!”
Malam itu Dia mengajakku memasuki taman
Kulihat butir-butir keringat membasahi tubuh Nya
Kulihat tubuh Nya gemetar ……..
“Sakitkah Ia ?!”
“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.
Tinggallah di sini dam berjaga-jagalah dengan Aku”
Kata-kata itu membuat aku merinding, takut
“Ada apa gerangan ?”
“Dia minta ditemani, ada apa dengan Ia ?!”
Hari semakin larut
Cahaya bulan menyapa namun ragu
Seragu hatiku menemani Dia
Mataku mulai terkatub …… terbuka …..
Ngantuk sekali !!!!!!!
Saat itu kudengar Dia berkata :
“Ya, Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu,
kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu”
Suara-Nya kian sayup kudengar
dan ……. hilang …….
Akupun tidur ….. pulas …….

yulius  sugiarto(GIE)

 

Siapakah Yesus?


Apakah Yesus=Allah?

  • Yesus Kristus adalah logos atau Firman dalam Yohanes 1:1 dan logos itu adalah Allah.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah . . . Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yohanes l: 1, 74 TB)

  • Yesus Kristus disebut sebagai Tuhan dan Allah.

Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28 TB)

  • Yesus Kristus selalu memiliki natur Allah .. . . yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. (Filipi 2:6 TB)
  • Dalam Yesus Kristus berdiam secara jasmani seluruh kepenuhan ke-Allahan

Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan. (Kolose 2:9 TB)

  • Yesus Kristus disebut Allah oleh Allah Bapa sendiri. Tetapi tentang Anak Ia [Allah] berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. (Ibrani 1:8 TB)
  • Yesus Kristus disebut oleh nabi sebagai Allah yang Perkasa.

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. (Yesaya 9:5 TB)

  • Yesus Kristus disebut sebagai Anak Tunggal Allah.

Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yohanes 1:18 TB)

Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16 TB)

  • Yesus Kristus adalah Allah Mahabesar yang kita nantikan kedatangan-Nya. . . . . dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus. (Titus 2:13 TB)
  • Yesus Kristus adalah Allah yang harus dipuji selama-lamanya Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin! (Roma 9:5 TB)
  • Yesus Kristus adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.

Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal. (1 Yohanes 5:20 TB)

Siapakah Yesus Kristus itu?

Yesus Kristus adalah Anak Allah, dan satu dengan Allah

Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16 TB)

Aku (Yesus) dan Bapa adalah satu. (Yohanes 10:30 TB)

Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa. Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah. ” (Lukas 22:69-70 TB)

Tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa. (Yohanes 10:38 TB)

Apakah Yesus Memiliki Sifat-sifat Tuhan?

Pengantar

Perjanjian Lama memberikan banyak mengenai sifat-sifat Tuhan. Tuhan dijelaskan sebagai: Maha Hadir, Maha Tahu, Maha Kuasa, kekal dan tak berubah. Ia mengasihi, kudus, benar, bijaksana dan adil.

Yesus menyatakan diri sebagai Tuhan. Namun apakah Ia memiliki sifat-sifat ketuhanan ini? Jika kita memeriksa dengan teliti, apakah Ia sesuai dengan  sketsa Tuhan yang kita temukan di bagian-bagian Alkitab yang lain?

Sebagai contoh, ketika Yesus menyampaikan  Khotbah di Bukit, di sebuah bukit di luar Kapernaum, pada saat yang bersamaan Ia tidak berdiri di Jalan Utama Yerikho; Jadi dalam pengertian apa Ia disebut MahaHadir?
Bagaimana Ia dapat disebut Maha Tahu jika dalam Markus 13:32 Ia mengakui bahwa Ia tidak mengetahui kedatangan-Nya yang kedua kali?
Jika Ia kekal adanya, mengapa Kolose 1:15 menyebut-Nya: ‘yang sulung,lebihutamadarisegalayangdiciptakan’?
Yesus Mengampuni Dosa

Apa yang Ia katakan atau Ia lakukan, yang meyakinkan Anda bahwa Yesus adalah Tuhan?

Seseorang dapat menunjuk pada hal-hal seperti mujizat-mujizat-Nya, tetapi orang lain juga melakukan mujizat-mujizat, jadi meskipun ini bisa memberikan indikasi, ini tidak menentukan. Tentu saja, Kebangkitan adalah pembenaran puncak identitas-Nya. Dari banyak hal yang Ia lakukan, yang paling menyolok adalah pengampunan-Nya atas dosa.

Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”
Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: “Ia menghujat Allah.”
Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?
Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?
Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” -lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu – “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”
Dan orang itupun bangun lalu pulang.
Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.
(Matius 9:2-8)

Jika Anda melakukan sesuatu yang melukai saya, saya memiliki hak untuk mengampuni Anda. Tetapi jika Anda melukai saya dan seseorang lain datang menimbrung dan berkata, ‘Aku mengampuni’, kelancangan macam apa itu?

Satu-satunya orang yang dapat mengatakan hal semacam itu dengan penuh makna adalah Tuhan sendiri, karena dosa, bahkan jika dilakukan terhadap orang lain, pertama-tama dan terutama adalah suatu penentangan terhadap Tuhan dan hukum-hukum-Nya. Jelas di sini Yesus melakukan pekerjaan pengampunan dosa, suatu pekerjaan yang hanya Allah yang mempunyai hak untuk melakukannya.

Ketika Daud berdosa dengan melakukan perzinahan dan mengatur kematian suami wanita itu, akhirnya ia berkata kepada Tuhan dalam Mazmur 51:6, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan yang Kau anggap jahat”. Daud mengakui, bahwa meskipun ia telah berbuat salah kepada orang-orang, pada akhirnya ia berdosa terhadap Tuhan yang menciptakannya dan Tuhan perlu mengampuninya.

Yesus tidak hanya mengampuni dosa, namun juga Ia tidak berdosa. Dan tentu saja ketidakberdosaan merupakan sifat ketuhanan.

Pengosongan Diri

Bagaimana Yesus bisa Maha Hadir, jika Ia tidak dapat berada di dua tempat secara bersamaan? Bagaimana Ia bisa Maha Tahu, jika Ia berkata, ‘Bahkan Anak Manusia pun tidak tahu jamnya Ia datang kembali’? Bagaimana Ia bisa Maha Kuasa sedangkan Injil-injil dengan terus terang memberitahu kita bahwa Ia tidak mampu mengadakan banyak mujizat di kampung halaman-Nya?

Dalam Filipi 2:5-7 dijelaskan:
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Yesus telah mengosongkan diri-Nya dalam penggunaan independen sifat-sifat-Nya. Ia berfungsi sebagai Tuhan ketika Bapa memberi-Nya persetujuan untuk melakukannya.

Pengosongan diri Yesus akan pemakaian independen sifat-sifat-Nya menjelaskan kepada kita mengapa dalam beberapa kasus Ia tidak mempertunjukkan kemahakuasaan, kemahatahuan, kemahahadiran dalam keberadaan-Nya di bumi, bahkan meskipun Perjanjian Baru dengan jelas menyebutkan bahwa semua kualitas ini pada akhirnya memang benar dimiliki-Nya.

Pencipta atau Diciptakan?

Ada ayat yang mengisyaratkan bahwa Yesus adalah makhluk yang diciptakan, misalnya Kolose 1:15 mengatakan bahwa Ia adalah ‘yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan’. Tidakkah ini dengan jelas mengimplikasikan bahwa Yesus diciptakan, berlawanan dengan keberadaan sebagai Pencipta?

Dalam Perjanjian Baru, anak sulung, normalnya menerima bagian tanah yang terbesar, atau anak sulung akan menjadi raja dalam kasus sebuah keluarga kerajaan. Anak sulung dengan demikian adalah yang pada akhirnya memiliki semua hak dari ayah.

Pada abad kedua sebelum Kristus, ada tempat-tempat di mana kata ‘sulung’ tidak lagi mengandung makna yang pertama diperanakkan atau dilahirkan, namun memuat gagasan kewenangan yang disertai dengan posisi sebagai pewaris yang berhak. Pengertian itulah yang diterapkan kepada Yesus.

Jika Anda hendak mengutip Kolose 1:15, Anda harus tetap mempertahankannya dalam konteks dengan melanjutkannya ke Kolose 1:19, ‘Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia’.
Jadi istilah ‘sulung’ tidak dapat meniadakan kekekalan Yesus, karena itu adalah bagian dari memiliki kepenuhan Allah.

Dalam Yohanes 1:3 dikatakan Yesus adalah pencipta: ‘Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.’

Guru yang Baik

Dalam Markus 10:17-18 dikisahkan ada seorang yang bertanya, ‘Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’
kemudian Yesus menjawab, ‘Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja’.
Tidakkah Ia menyangkali ketuhanan-Nya dengan mengatakan seperti itu?

Tidak. Ia sedang membuat orang berhenti dan berpikir tentang apa yang Ia katakan: Engkau mengatakan Aku baik, hanya untuk kesopanan, ataukah karena kamu tahu siapa Aku? Apakah engkau benar menganggap Aku memiliki sifat yang seharusnya  hanya dimiliki Tuhan? Justru di sinilah Yesus menyatakan diri-Nya Allah.

Bapa Lebih Besar daripada Aku

Yesus berkata dalam Yohanes 14:28, ‘Bapa lebih besar daripada Aku’ .
Apakah ini berarti Yesus kurang daripada Tuhan?

Murid-murid meratap karena Yesus berkata bahwa Ia akan pergi. Dalam Yohanes 14:28, Yesus berkata ‘Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku’. Ini artinya Yesus akan kembali ke kemuliaan yang adalah milik-Nya.

Dalam Yohanes 17:5, Yesus berkata, ‘Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada’, yang artinya ‘Bapa lebih besar dari Aku’.
Yesus berada dalam batasan-batasan inkarnasi, Ia sedang menuju ke salib, Ia sedang menuju ke kematian, namun Ia sedang akan kembali kepada Bapa dan kepada kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia ada.

Ketika saya berkata ‘Presiden Indonesia’ lebih besar dari saya, tidak berarti dia punya sifat/esensi lebih besar dari saya. Ia lebih besar dalam kapasitas politik dan sambutan publik, tetapi ia tidak lebih daripada saya sebagai manusia.

Andaikata saya naik ke mimbar dan berkhotbah dan berkata ‘Dengan sungguh-sungguh saya menyatakan kepada Anda sekalian bahwa Bapa lebih besar daripada saya’, itu adalah suatu perkataan yang agak konyol karena semua orang tahu dengan jelas.

Pernyataan ini akan menjadi bermakna jika yang dibandingkan adalah 2 pribadi yang setara, dalam hal ini Yesus dan Bapa. Dalam hal ini justru jelas bahwa Yesus adalah setara dengan Bapa.
Menyesuaikan Sketsa Tuhan

Dalam Perjanjian Baru semua atribut Tuhan ditemukan dalam diri Yesus Kristus:

  • Maha Tahu
    Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu. (Yohanes 16:30)
  • Maha Hadir
    Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman. (Matius 28:20)
  • Maha Kuasa
    Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. (Matius 28:18)
  • Kekekalan
    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yohanes 1:1)
  • Tidak Berubah
    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (Ibrani 13:8)

Juga, Perjanjian Lama melukiskan suatu gambaran akan Tuhan dengan menggunakan gelar-gelar dan deskripsi-deskripsi sebagai: Alfa dan Omega, Tuhan, Juruselamat, Raja, Hakim, Terang, Batu Karang, Penebus, Gembala, Pencipta, Pemberi Kehidupan, Pengampun Dosa, dan Pembicara dengan Kekuasaan Ilahi. Sungguh memukau bila diperhatikan bahwa dalam Perjanjian Baru setiap dan semuanya itu diaplikasikan kepada Yesus.

Yesus mengatakan dalam Yohanes 14:7, ‘Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku’.
Artinya, ‘Bila kamu melihat sketsa Tuhan dari Perjanjian Lama, kamu akan melihat hal itu di dalam Aku’.

Keilahian Yesus Kristus

PENGANTAR

Orang Kristen menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Pengajaran ini sangat penting. Jika pengajaran ini benar maka kekristenan unik dan otoritatif, jika tidak maka kekristenan tidak berbeda dengan agama-agama yang lain.

Prinsip dasar apologetika kekristenan mengenai keilahian Yesus Kristus adalah :

  1. Perjanjian Baru yang mencatat kehidupan, pengajaran, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus adalah dokumen yang dapat diandalkan (lihat artikel Keotentikan Naskah Perjanjian Baru).
  2. Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia.
  3. Yesus membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan dengan menggenapi nubuat(ramalan) Perjanjian Lama, dengan hidup tanpa dosa, dengan mujizat-mujizat yang Dia lakukan, dan dengan kebangkitan-Nya dari kematian.

Dengan demikian Yesus Kristus adalah Tuhan.

Dalam artikel Keotentikan Naskah Perjanjian Baru kita mempelajari bahwa naskah Perjanjian Baru dapat diandalkan secara historis. Perjanjian Baru tidak hanya berisi sejarah secara garis besar, tetapi juga terbukti akurat secara mendetil. Pendengar dan saksi mata kehidupan Yesus meneruskan kisah dari perkataan dan hal-hal yang dikerjakan Yesus. Perkataan-perkataan Yesus tidak hanya diingat tetapi juga ditulis oleh saksi mata yang dapat diandalkan (Lukas 1:1-3).

PENYELIDIKAN PERNYATAAN YESUS SEBAGAI TUHAN

Ada banyak bukti yang mengungkapkan pernyataan Yesus mengenai keilahiannya, yaitu :

  1. Yesus menyatakan dirinya sebagai  Jehovah (Tuhan dalam Perjanjian Lama)
  2. Yesus menyatakan sebagai mesias
  3. Yesus menerima penyembahan
  4. Otoritas perkataan-perkataan Yesus
  5. Yesus memerintahkan berdoa dalam nama-Nya

Yesus menyatakan diri sebagai Jehovah

Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan nama-Nya sebagai JHWH atau Jehovah. Dalam bahasa Indonesia ditulis sebagai TUHAN (kata ‘tuhan’ dengan huruf besar semua).
Misal dalam Keluaran 6: 2-3,
‘Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Akulah TUHAN.
Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.’

Orang Yahudi menganggap nama Jehovah (TUHAN) begitu suci, sehingga mereka tidak berani mengucapkannya. Jehovah adalah satu-satunya Tuhan, selain itu adalah berhala atau tuhan yang palsu. Jehovah adalah Tuhan yang cemburu, yang tidak akan membagikan nama maupun kemulian-Nya kepada yang lain.
Yesaya menulis,
‘Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.”‘(Yesaya 44:6).
‘Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung. ‘(Yesaya 42:8).
‘Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain’. (Yesaya 48:11).

TUHAN(Jehovah) tidak akan membagikan nama, hormat dan kemuliaan-Nya kepada yang lain. Yang menarik adalah perkataan-perkataan Yesus dan tindakan-tindakan-Nya membuat orang Yahudi abad pertama mengambil batu menuduh Yesus menghujat(menyamakan diri-Nya dengan TUHAN).

Beberapa perkataan Yesus yang menarik dipelajari:

  • Yesus mengatakan, ‘ Akulah gembala yang baik’(Yohanes 10:11), sedangkan Perjanjian Lama mengatakan, ‘TUHAN adalah gembalaku’(Mazmur 23:1).
  • Yesus menyatakan Dia adalah hakim atas segala bangsa  (Yohanes 5:27; Matius 25:31), Perjanjian Lama mengatakan TUHAN adalah hakim segala bangsa  (Yoel 3:12).
  • Yesus mengatakan, ‘Akulah terang dunia’ (Yohanes 8:12), Perjanjian Lama mengatakan ”TUHAN akan menjadi penerang abadi bagimu” (Yesaya 60:19).
  • Yesus berdoa kepada Bapa untuk berbagi kemuliaan kekal-Nya, “Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada” (Yohanes 17:5)
  • Yesus mengatakan Dia adalah yang pertama dan yang akhir (Wahyu 1:17), sama seperti Yehovah dalam Perjanjian Lama (Yesaya 44:6).

Pernyataan keilahian Yesus sangat jelas di Yohanes 8:58,
‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada’ (Yohanes 8:58). Orang Yahudi tanpa ragu-ragu mengerti maksud perkataan ini  . Mereka tahu bahwa Yesus tidak hanya menyatakan keberadaan-Nya sebelum Abraham, tetapi Yesus juga menyatakan sama dengan Tuhan. Ini menyebabkan mereka mengambil batu hendak melempari Yesus.

Dalam beberapa peristiwa Yesus menyatakan diri-Nya sama dengan Tuhan dengan cara yang lain misal dalam memberikan pengampunan dosa, suatu pekerjaan yang hanya bisa dilakukan Tuhan.
Dalam Markus 2:10-11, Yesus melakukan mujizat sekaligus memberikan pengampunan dosa:
‘Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa’.

Yesus juga menyatakan bahwa Dia mempunya kuasa kehidupan, kuasa yang hanya dimiliki TUHAN saja.
‘Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.’ (Yohanes 5:21)
‘Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.’ (Yohanes 5:25)

Yesus mengatakan bahwa ‘supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa’ (Yohanes 5:23). Dalam kategori yang sama Yesus mendorong murid-murid-Nya, ‘percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku’ (Yohanes 14:1). Yesus tanpa meninggalkan keraguan, menyatakan diri-Nya sejajar dengan Allah.

Pernyataan Yesus sebagai mesias yang dijanjikan

Perjanjian Lama memberikan janji kedatangan mesias. Mesias berarti yang diurapi, seseorang yang diurapi Tuhan untuk melakukan penggenapan rencana keselamatan bagi umat manusia. Perjanjian Lama memberikan gambaran keilahian mesias. Ketika Yesus menyatakan bahwa Dia menggenapkan nubuat tentang mesias,  secara langsung menyatakan keilahian-Nya.

Sebagai contoh Yesaya berbicara mengenai Mesias
‘Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.’ (Yesaya 9:5)
‘Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!”‘  (Yesaya 40:9)

Dalam Daniel 7:13-14 dikatakan,
‘Dalam penglihatanku pada malam itu, kulihat sesuatu yang seperti manusia. Ia datang dengan dikelilingi awan lalu pergi kepada Dia yang hidup kekal dan diperkenalkan kepadanya.
Ia diberi kehormatan dan kekuasaan sebagai raja, sehingga orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya akan bertahan selama-lamanya, pemerintahannya tidak akan digulingkan’.

Ayat ini yang dikutip Yesus ketika imam besar menanyakan apakah Dia mesias.
‘Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?” 
Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.” ‘(Markus 14:61-62).

Ketika Perjanjian Lama berbicara mengenai mesias, Perjanjian Lama juga berbicara mengenai keilahiannya. Ketika Yesus menyatakan Dia adalah kegenapan Perjanjian Lama mengenai mesias (Lukas 24:27,44; Matius 26:54), Yesus mengkaitkan diri-Nya sebagai Mesias yang menggenapkan apa yang telah tertulis di dalam Perjanjian Lama. Ini sekaligus menegaskan keilahian-Nya.

Yesus menerima penyembahan

Perjanjian Lama melarang penyembahan kepeda siapapun kecuali kepada Tuhan (Keluaran 20:1-5; Ulangan 5:7-9). Yesus tercatat menerima penyembahan paling sedikit  sembilan kali:

  1. Sebelum disembuhkan, seorang sakit kusta menyembah Dia (Matius 8:2).
  2. Sebelum anaknya dibangkitkan Yesus, seorang kepala rumah ibadat menyembah Dia (Matius 9:18).
  3. Setelah Yesus melakukan mujizat berjalan di atas air, orang-orang yang berada di dalam perahu menyembah Dia (Matius 14:33).
  4. Sebelum anaknya yang kerasukan setan disembuhkan, seorang perempuan Kanaan menyembah Dia (Matius 15:25)
  5. Sebelum seorang kerasukan setan disembuhkan, ia menyembah Yesus (Markus 5:6).
  6. Seorang buta yang telah disembuhkan menyembah Yesus (Yohanes 9:38)
  7. Anak-anak Zebedeus dan ibu mereka menyembah Yesus (Matius 20:20)
  8. Setelah kebangkitan-Nya, murid-murid menyembah Dia (Matius 28:9)
  9. Sebelum memberikan perintah untuk mengabarkan Injil, murid-murid menyembah Dia (Matius 28:17)

Yesus tidak menolak penyembahan, dengan demikian Yesus tidak menolak orang-orang memperlakukan Dia sebagai Tuhan, ini menyatakan keilahian-Nya.

Otoritas perkataan-perkataan Yesus

Yesus memperlakukan perkataan-perkataan-Nya sejajar dengan perkataan-perkataan Tuhan yang mempunyai otoritas.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28: 18-20).

Tuhan telah memberikan 10 Perintah Allah kepada Musa, tetapi Yesus menambahkan,’Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi.’ (Yohanes 13:34) .

Yesus memperlakukan perkataan-perkataan-Nya sebagai perkataan yang kekal,’ Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu’ (Matius 24:35).

Berbicara kepada yang menolak Dia, Yesus berkata,’Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman’. (Yohanes 12:48).

Yesus mengakui mempunyai segala kuasa di sorga dan di bumi, Yesus memperlakukan perkataan-Nya sejajar dengan Firman Tuhan, perkataan-Nya kekal, perkataan-Nya akan menjadikan hakim. Siapakah yang berani melakukan hal ini kecuali Tuhan sendiri? Jelas-jelas Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan.

Yesus memerintahkan berdoa dalam nama-Nya

Yesus tidak hanya memerintahkan supaya manusia percaya kepada Dia (Yohanes 14:1) dan taat pada perintah-Nya (Yohanes 14:15), tetapi juga berdoa di dalam nama Yesus.
‘Apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.’ (Yohanes 14:13).
Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.’ (Yohanes 14:14).
‘Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.’ (Yohanes 15:7)

Yesus juga menegaskan, ‘Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’ (Yohanes 14:6).

Manusia manakah yang bisa dan berani  menyatakan diri menjadi pengantara manusia dengan Tuhan? Hanya Yesus yang bisa dan berani menyatakan, karena dia adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia.

PEMBUKTIAN KEILAHIAN YESUS KRISTUS

Keilahian Yesus Kristus dibuktikan dalam:

  1. Penggenapan nubuatan/ramalan mengenai mesias di Perjanjian Lama
  2. Ketidakberdosaan Yesus
  3. Mujizat-mujizat Yesus
  4. Kebangkitan Yesus dari kematian

Penggenapan nubuatan mengenai mesias di Perjanjian Lama

Banyak sekali nubuat tentang mesias/Kristus dalam Perjanjian Lama. Berikut nubuat-nubuat yang secara jelas berbicara tentang kedatangan mesias:

  1. Mesias akan lahir dari seorang perempuan
    Nubuat: Kejadian 3:15. Penggenapan : Galatia 4:4.
  2. Mesias akan dilahirkan dari seorang perawan
    Nubuat: Yesaya 7:14. Penggenapan: Matius 1:18-25.
  3. Mesias merupakan keturunan Abraham
    Nubuat: Kejadian 12:1-3;Kejadian 22:18. Penggenapan: Matius 1:1; Galatia 3:16.
  4. Mesias dari suku Yehuda
    Nubuat: Kejadian 49:10. Penggenapan: Lukas 3:23,33; Ibrani 7:14.
  5. Mesias merupakan keturunan Daud
    Nubuat: 2 Samuel 7:12. Penggenapan: Matius 1:1,6
  6. Mesias akan lahir di Betlehem
    Nubuat: Mikha 5:1-2. Penggenapan: Matius 2:1; Lukas 2:4-7.
  7. Mesias akan diurapi oleh Roh Kudus
    Nubuat: Yesaya 11:1-2. Penggenapan: Matius 3:16,17.
  8. Ada yang mempersiapkan jalan bagi mesias
    Nubuat: Yesaya 40:3; Maleakhi 3:1. Penggenapan: Matius 3:1-3.
  9. Mesias akan mengadakan mujizat-mujizat
    Nubuat: Yesaya 35:5,6. Penggenapan: Matius 9:35
  10. Mesias akan ditolak oleh orang Yahudi
    Nubuat: Mazmur 118:22. Penggenapan: I Petrus 2:7
  11. Mesias akan ditolak oleh kerabat-Nya sendiri
    Nubuat: Yesaya 53:3. Penggenapan: Yohanes 1:10,11; Yohanes 7:5,48
  12. Mesias akan dielu-elukan waktu menunggang keledai memasuki Yerusalem
    Nubuat: Zakharia 9:9. Penggenapan: Matius 21:1-7
  13. Mesias akan mati dengan kematian yang mengenaskan
    Nubuat: Mazmur 22; Yesaya 53. Penggenapan: Matius 27.

    • Diam dihadapan penuduh-Nya
      Nubuat: Yesaya 53:7. Penggenapan: Matius 27:12-14
    • Dihina
      Nubuat: Mazmur 22:7,8. Penggenapan: Matius 27:31.
    • Dipaku tangan dan kaki-Nya.
      Nubuat: Mazmur 22:17. Penggenapan: Lukas 23:33.
    • Disalib di antara penjahat-penjahat
      Nubuat: Yesaya 53:12. Penggenapan: Matius 27:38
    • Lambung-Nya ditikam
      Nubuat: Zakaria 12:10. Penggenapan: Yohanes 19:34
    • Tak ada tulang yang dipatahkan
      Nubuat: Keluaran 12:46.Penggenapan: Yohanes 19:36
    • Jubah-Nya akan diundi
      Nubuat: Mazmur 22:18. Penggenapan: Yohanes 19:23,24
    • Mesias menderita karena dosa kita.
      Nubuat: Yesaya 53:5-6. Penggenapan: 1 Petrus 2:24
  14. Mesias akan bangkit dari kematian
    Nubuat: Mazmur 16:10.
    Penggenapan: Kisah Para Rasul 2:31; Markus 16:6.
  15. Mesias akan naik ke surga
    Nubuat: Mazmur 68:19. Penggenapan: Kisah Para Rasul 1:9.
  16. Mesias akan duduk di sebelah kanan Allah Bapa
    Nubuat: Mazmur 110:1. Penggenapan: Ibrani 1:3.

Nubuat-nubuat ini ditulis ratusan tahun sebelum Yesus lahir ke dalam dunia. Tidak ada alasan bahwa nubuat-nubuat itu adalah ‘tebakan yang sangat cerdas’, atau ‘merupakan trend kecenderungan sejarah’, atau ‘pikiran kreatif pembaca Alkitab’. Bahkan para kritikus sendiri mengakui bahwa nubuat-nubuat tersebut  selesai ditulis lengkap 400 tahun sebelum  Yesus lahir.  Nubuat-nubuat tersebut secara sempurna digenapkan  oleh Yesus.

Tuhan tidak pernah membuat kesalahan. Tuhan mengendalikan sejarah dan jika Tuhan membuat nubuat/ramalan lebih dari 400 tahun sebelumnya mengenai rencana keselamatan bagi manusia maka tidak ada penggenapan yang terjadi secara kebetulan, semua penggenapan yang dilakukan terjadi karena kedaulatan-Nya atas sejarah umat manusia. Jika Yesus, yang menyatakan bahwa Dia menggenapkan apa yang tertulis ratusan tahun sebelum kelahiran-Nya,  dan benar-benar Yesus menggenapinya, maka diambil kesimpulan bahwa Yesus adalah mesias, Yesus adalah Tuhan.

Ketidakberdosaan Yesus

Semua orang berdosa, Tuhan dan kita mengetahui hal ini. Jika seseorang hidupnya sangat baik, sempurna,  berusaha tidak berdosa sebisa mungkin, tidak membuktikan ia Tuhan. Tetapi kalau seseorang melakukan 2 hal tersebut yakni mengakui dirinya Tuhan kemudian menawarkan hidupnya yang tanpa dosa sebagai bukti, kita harus serius memperhatikannya.

Saat Pilatus mengadili Yesus, Pilatus menyimpulkan, ‘Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini’ (Lukas 23:4).  Kepala pasukan yang melihat penyaliban Yesus mengatakan,’Sungguh, Orang ini adalah orang benar!’ (Lukas 23:47). Penjahat yang disalib bersama Yesus mengatakan, ‘Orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah’ (Lukas 23:41).

Kesaksian yang paling penting terhadap karakter seseorang adalah dari orang terdekat. Petrus,  murid yang paling dekat dengan Yesus mengatakan bahwa Kristus tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya (1 Petrus 2:22). Yohanes berkata ‘Kristus adalah benar’ (1 Yohanes 3:7). Rasul Paulus mengatakan ‘ Dia tidak mengenal dosa’ (2 Korintus 5:21). Penulis kitab Ibrani berkata ‘Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa’ (Ibrani 4:15).
Yesus sendiri memberikan tantangan kepada lawan-lawan-Nya, ‘Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?’ (Yohanes 8:46).

Yesus menyatakan diri-Nya Tuhan dan membuktikannya dengan kehidupannya yang tanpa dosa, memberikan kesimpulan bahwa Yesus benar-benar Tuhan.

Mujizat-mujizat Yesus

Hidup Yesus penuh mujizat sejak awal dia berada di bumi.  Dia lahir dari seorang perawan (Matius 1:18,20-21), Yesus mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11), berjalan di atas air (Matius 14:25), melipat gandakan roti (Yohanes 6:11), memelekkan mata orang buta (Yohanes 9:7), membuat orang lumpuh bisa berjalan (Markus 2:1-12), mengusir setan (Markus 5:1-20), menyembuhkan berbagai penyakit (Matius 9:35), dan beberapa kali membangkitkan orang dari kematian (Matius 9:23-26;Lukas 7:11-17;Yohanes 11:38-44).

Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis menanyakan kepada-Nya apakah Dia mesias, Yesus menjawab mujizatnya sebagai bukti bahwa Dia mesias:
‘Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.’ (Matius 11:4,5).
Mujizat-mujizat seperti ini merupakan tanda adanya persetujuan Tuhan kepada orang yang melakukan mujizat.
Mujizat-mujizat ini merupakan penggenapan dari apa yang ditulis Yesaya 700 tahun sebelum Yesus lahir ke bumi:
‘Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka.
Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai.’(Yesaya 35:5,6).

Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya. (Yohanes 3:1-2).

Pada waktu Yesus dibaptis, muncul suatu suara dari sorga ‘Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.’ (Matius 3:17). Ini merupakan tanda dukungan Allah Bapa terhadap pekerjaan dan keilahian Yesus.

Mujizat adalah suatu bentuk konfirmasi/persetujuan ilahi atas suatu kebenaran/pekerjaan yang dikerjakan seseorang yang diutus Tuhan.  Mujizat yang dihubungkan dengan pernyataan Yesus tentang keilahian diri-Nya, mengkonfirmasi bahwa Dia benar-benar Tuhan.

Kebangkitan Yesus dari kematian

Hanya Tuhan yang hanya memberi kehidupan (Ulangan 32:39; 1 Samuel 2:6). Di sini kebangkitan Yesus dari kematian merupakan bukti adanya persetujuan dari Tuhan terhadap siapa yang diutus-Nya. Perjanjian Lama dan Yesus sendiri menubuatkan kebangkitan-Nya. Mazmur 16:10 berbicara tentang kebangkitan mesias.

Perjanjian Lama menubuatkan bahwa
1.  Mesias akan datang dan mati (Yesaya 53; Mazmur 22)
2.  Mesias akan memerintah selamanya( Yesaya 9:6; Daniel 2:44;).
Satu-satunya jalan supaya mesias bisa memenuhi keduanya adalah mati kemudian bangkit.

Yesus sejak awal pelayanan-Nya telah menubuatkan kebangkitan-Nya sendiri. (Yohanes 2:19,21).
Setelah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias, Yesus berkata
‘Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.’ (Markus 8:31).
Yesus mengulangi perkataan ini saat dalam perjalanan melewati Galilea (Markus 9:30-31), dan dalam perjalanan ke Yerusalem (Markus 10:32-34).
Yesus juga mengatakan ‘Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.’ (Yohanes 10:18).

Kematian dan kebangkitan Yesus:

  1. Kehilangan besar darah menyebabkan Yesus mati (Lihat artikel Apakah Yesus benar-benar mati?). Dia mempunyai 5 luka dan  berada di atas kayu salib  mulai  jam  9 pagi (Markus 15:25) hingga jam 3 sore (Markus 15:42).
  2. Yesus menyerahkan nyawa-Nya (Yohanes 19:30).
  3. Ketika lambungnya ditusuk tombak keluar darah dan air (Yohanes 19:34). Secara medis membuktikan bahwa Yesus sudah mati.
  4. Tentara Roma yang berpengalaman dalam menangani kematian menyatakan Yesus mati (Yohanes 19:33)
  5. Pilatus memastikan bahwa Yesus mati sebelum diserahkan mayat-Nya ke Yusuf dari Arimatea.(Markus 15:42-47)
  6. Mayat Yesus dikapani dengan kain lenan dan dibubuhi dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.(Yohanes 19:40)
  7. Hari Minggu kubur Yesus kosong, Yesus telah bangkit (Matius 28; Markus 16;Lukas 24;Yohanes 20,21)
  8. Penampakan Yesus setelah kebangkitan:
    • Kepada Maria Magdalena (Markus 16:9; Yohanes 20:11-14)
    • Kepada perempuan sekembalinya dari kubur (Matius 28:9,10)
    • Kepada Petrus (Lukas 24:34; 1 Korintus 15:5)
    • Kepada murid-murid di Emaus (Lukas 24:13-32)
    • Kepada rasul-rasul kecuali Tomas (Lukas 24:36-43;Yohanes 20:19-24)
    • Kepada rasul-rasul, Tomas hadir (Yohanes 20:26-29)
    • Kepada 7 orang di danau Tiberias (Yohanes 21:1-23)
    • Kepada lebih dari 500 orang percaya di bukit Galilea (1 Korintus 15:6)
    • Kepada Yakobus (1 Korintus 15:7)
    • Kepada murid-murid (Matius 28:16-20;Lukas 24:33-52;Kisah Para Rasul 1:3-12)
    • Saat kenaikan Yesus ke surga (Kisah Para rasul 1:3-12)
    • Kepada Stefanus (Kisah Para Rasul 7:55)
    • Kepada Paulus (Kisah Para Rasul 9:3-6; 1 Korintus 15:8)
    • Kepada Paulus saat di Bait Allah (Kisah Para Rasul 22:17-21;23:11)
    • Kepada Yohanes di pulau Patmos (Wahyu 1:9-20)

Kebangkitan Yesus secara tubuh fisik dibuktikan bahwa setelah kebangkitannya :
- Yesus dilihat lebih dari 500 orang (1 Korintus 15:6)
- Yesus menyatakan mempunyai daging dan tulang (Lukas 24:39) ,
- Yesus makan ikan (Lukas 24:42,43)
Bagi yang meragukan kebangkitan-Nya secara fisik,  Yesus menantang:
‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’ (Yohanes 20:27).

Yesus menyatakan diri-Nya Tuhan. Yesus bangkit dari kematian, ini menggenapi apa yang Dia dan Perjanjian Lama katakan. Yesus benar-benar Tuhan.

KESIMPULAN

Berdasarkan kehandalan naskah Perjanjian Baru kita memiliki catatan tentang pengajaran Yesus mengenai keilahian-Nya. Yesus menggenapi nubuat Perjanjian Lama mengenai mesias yang ditulis beratus-ratus tahun sebelum kelahiran-Nya, Yesus menerima penyembahan dari manusia,  Yesus tidak berdosa, Yesus hidup penuh dengan mujizat-mujizat, dan Yesus bangkit dari kematian membuktikan bahwa Yesus adalah benar-benar Tuhan yang menjelma menjadi manusia.

Dengan jelas Yesus menyatakan diri dan membuktikan diri-Nya Tuhan.
Apakah engkau sudah menerima Yesus sebagai Tuhan?
Jika engkau belum menerima Yesus sebagai Tuhan, terimalah Dia sekarang.
Terimalah Dia sebagai Tuhan, terima juga Yesus sebagai juruselamat yang telah mati menanggung hukuman dosa yang seharusnya engkau tanggung.
Jika engkau mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, maka dosa-dosamu akan diampuni karena hukumannya sudah lunas ditanggung oleh Tuhan Yesus.
Maukah saudara?(GIE)

Sumber:
Geisler, Norman L., Christian Apologetics, Baker Book House, Grand Rapids, Michigan 49516.
Josh McDowell, The New Evidence that Demands a Verdict, Thomas Nelson Publisher.

Keunggulan Alkitab


Berikut ini adalah beberapa keunggulan kitab Ibjil yang dijadikan alasan mengapa banyak orang di dunia yang memegangnya sebagai nilai-nilai dasar kehidupannya.

1. Kejujurannya

Alkitab sungguh jujur, tidak berbohong. Alkitab memperlihatkan Yakub, bapak dari “bangsa pilihan,” sebagai seorang penipu. Alkitab juga menggambarkan Musa, sang pemberi Hukum Taurat, sebagai seorang pemimpin yang merasa tidak aman dan keras kepala, yang dalam usaha pertamanya untuk menolong bangsanya sendiri, membunuh seorang laki-laki dan kemudian lari menyelamatkan diri ke padang gurun. Alkitab menggambarkan Daud bukan hanya sebagai raja yang paling dikasihi, panglima perang dan pemimpin rohani, tetapi juga sebagai orang yang mengambil isteri orang lain dan kemudian, untuk menutupi dosanya, bersekongkol untuk membunuh sang suami. Pada satu sisi, Kitab Suci pernah menilai bahwa umat Allah, bangsa Israel, begitu buruk, sehingga Sodom dan Gomora tampak baik bila dibandingkan dengan mereka (Yeh 16:46-52). Alkitab memperlihatkan bahwa sifat alamiah manusia memusuhi Allah. Alkitab memprediksikan masa depan yang penuh dengan masalah. Alkitab mengajarkan bahwa jalan ke Surga sempit dan jalan ke Neraka lebar. Jelaslah, Kitab Suci ini tidak ditulis untuk mereka yang hanya menginginkan jawaban sederhana atau pandangan terhadap agama dan manusia yang ringan dan serba optimis.

2. Ketahanannya

Ketika negara Israel yang modern muncul kembali setelah ribuan tahun orang Israel tercerai-berai, seorang gembala Beduin menemukan satu dari harta karun arkeologis yang paling penting di zaman ini. Dalam sebuah gua di tepi Barat Daya Laut Mati, di dalam sebuah buli-buli yang pecah ditemukan dokumen-dokumen yang telah disembunyikan selama dua ribu tahun. Temuan-temuan tambahan menghasilkan salinan-salinan naskah yang umurnya seribu tahun lebih tua dari salinan-salinan tertua yang diketemukannya sebelumnya. Satu dari yang paling penting adalah salinan kitab Yesaya. Isinya ternyata sama dengan kitab Yesaya yang ada di Alkitab kita. Gulungan-gulungan naskah Laut Mati itu muncul dari debu bagaikan jabatan tangan yang bersifat simbolik untuk mengucapkan selamat datang kepada bangsa Israel yang baru kembali ke tanah airnya. Gulungan-gulungan itu menyingkirkan pendapat dari sebagian orang yang mengatakan bahwa Alkitab yang asli sudah hilang ditelan waktu dan sudah rusak.

3. Pernyataannya Mengenai Dirinya Sendiri

Apa yang dikatakan Alkitab tentang dirinya sendiri adalah hal yang penting untuk diketahui. Jika para penulis Kitab Suci sendiri tidak pernah mengklaim bahwa mereka berbicara bagi Allah, tentunya kita berbuat lancang jika kita membuat klaim itu bagi mereka. Mungkin kita juga akan menghadapi persoalan lain. Kita mungkin akan menghadapi sejumlah misteri yang tidak terpecahkan, yang terkandung di dalam tulisan yang bersifat historis dan etis. Dan kita tidak akan mempunyai sebuah buku yang telah mengilhami munculnya sinagoga dan gereja yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh dunia. Suatu Alkitab yang tidak mengklaim bahwa ia berbicara atas nama Allah tentunya tidak akan menjadi fondasi bagi iman ratusan juta orang Yahudi dan Kristen (2Pet 1:16-21). Namun, dengan didukung oleh bukti dan argumentasi yang cukup, para penulis Alkitab telah mengklaim bahwa mereka diilhami oleh Allah. Berhubung jutaan orang telah mempertaruhkan kehidupan mereka saat ini dan saat kekekalan pada klaim-klaim itu, Alkitab bukanlah buku yang baik jika para penulisnya berbohong secara konsisten tentang sumber informasi mereka.

4. Mukjizatnya

Peristiwa keluarnya Israel dari Mesir memberikan dasar historis untuk mempercayai bahwa Allah telah menyatakan Diri-Nya sendiri kepada Israel. Seandainya Laut Merah tidak terbelah sebagaimana yang diceritakan Musa, Perjanjian Lama kehilangan otoritasnya untuk berbicara atas nama Allah. Demikian pula Perjanjian Baru juga bergantung pada mukjizat. Seandainya Yesus secara badani tidak bangkit dari kematian, Rasul Paulus mengatakan bahwa iman Kristen didirikan di atas kebohongan (1Kor 15:14-17). Untuk memperlihatkan kredibilitasnya, Perjanjian Baru menyebutkan saksi-saksinya, dan ini dilakukannya di dalam kerangka waktu yang memungkinkan klaim-klaim itu diuji kebenarannya (1Kor 15:1-8). Banyak dari para saksi itu akhirnya mati sebagai martir, bukan untuk membela keyakinan moral atau rohani yang abstrak tetapi untuk klaim mereka bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Memang mati sebagai martir bukan hal yang aneh, namun tetaplah penting untuk menyadari apa yang menyebabkan mereka rela kehilangan nyawanya. Banyak orang rela mati untuk sesuatu yang mereka percaya sebagai kebenaran. Dan tidak ada yang rela mati untuk sesuatu yang mereka tahu sebagai kebohongan.

5. Kesatuannya

Empat puluh pengarang yang berbeda menulis 66 kitab dalam Alkitab selama lebih dari 1.600 tahun. Empat ratus tahun yang hening memisahkan 39 kitab Perjanjian Baru. Namun demikian, dari Kejadian sampai Wahyu, semua kitab menceritakan satu cerita yang utuh. Bersama-sama mereka memberikan jawaban yang konsisten terhadap pertanyaan-pertanyaan terpenting yang dapat kita tanyakan: Mengapa kita di sini? Bagaimana kita dapat mengatasi rasa takut? Bagaimana kita dapat berhasil? Bagaimana kita bisa bangkit dari keadaan kita yang buruk dan tetap berpengharapan? Bagaimana kita dapat berdamai dengan Pencipta kita? Jawaban-jawaban Alkitab yang konsisten terhadap pertanyaan-pertanyaan ini memperlihatkan bahwa Kitab Suci bukanlah banyak buku melainkan satu buku.

6. Keakuratannya dari Segi Sejarah dan Geografi

Selama berabad-abad banyak orang meragukan keakuratan Alkitab dari segi sejarah dan geografi. Namun para arkeolog modern berulang-ulang telah menggali dan menemukan bukti mengenai orang-orang tempat-tempat, dan kebudayaan-kebudayaan yang digambarkan dalam Kitab Suci. Dari waktu ke waktu, deskripsi dalam Alkitab telah dibuktikan sebagai catatan yang lebih dapat diandalkan daripada spekulasi para ahli. Turis masa kini yang mengunjungi musium dan tempat-tempat yang dilukiskan di Alkitab mau tak mau sangat terkesan dengan latar belakang geografis dan historis dari teks Alkitab yang ternyata riil.

7. Rekomendasi dari Kristus

Banyak orang telah mengatakan hal yang baik mengenai Alkitab, tetapi tidak ada yang memberi rekomendasi sekuat yang diberikan Yesus dari Nazaret. Ia merekomendasikan Alkitab bukan hanya dengan ucapan-Nya teetapi juga dengan kehidupan-Nya. Pada saat-saat pencobaan-Nya, pengajaran di hadapan orang banyak, dan penderitaan-Nya, Yesus dengan jelas memperlihatkan bahwa Ia mempercayai Kitab Suci Perjanjian Lama lebih dari sekedar tradisi nasional (Mat 4:1-11, 5:17-19). Yesus percaya bahwa Alkitab adalah buku tentang Diri-Nya sendiri. Kepada orang-orang senegri-Nya Ia berkata, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yoh 5:39-40).

8. Keakuratan Ramalannya

Dari zaman Musa, Alkitab telah meramalkan peristiwa-peristiwa yang tak seorang pun ingin mempercayainya. Sebelum Israel masuk ke Tanah Perjanjian, Musa meramalkan bahwa Israel akan tidak setia, bahwa Israel akan kehilangan tanah yang Allah berikan kepadanya, dan bahwa Israel akan tercerai-berai ke seluruh dunia, dikumpulkan kembali, dan kemudian dibangun kembali (Ul 28-31). Pusat dari ramalan Perjanjian Lama adalah janji tentang Mesias yang akan menyelamatkan umat Allah dari dosa-dosa mereka dan pada akhirnya membawa penghakiman dan kedamaian bagi seluruh dunia.

9. Keberlangsungannya

Kitab-kitab Musa ditulis 500 tahun sebelum kitab-kitab Hindu yang paling awal. Musa menulis kitab Kejadian 2.000 tahun sebelum Muhammad menulis Quran. Selama masa yang panjang itu, tak ada buku yang dikasihi atau dibenci seperti Alktiab. Tak ada buku yang secara konsisten telah dibeli, dipelajari, dan dikutip seperti Alkitab. Sementara jutaan judul-judul lain muncul dan tenggelam, Alkitab tetap merupakan buku yang menjadi ukuran bagi buku-buku lain. Sekalipun sering diabaikan oleh orang yang merasa tak nyaman dengan ajaran-ajarannya, Alkitab tetap merupakan buku utama dari peradaban Barat.

10. Kuasanya untuk Mengubah Hidup Manusia

Orang yang tidak percaya sering menunjuk kepada mereka yang mengatakan bahwa mereka percaya Alkitab tetapi hidupnya tidak berubah. Tetapi sejarah juga ditandai oleh mereka yang kehidupannya menjadi lebih baik oleh karena buku ini. Sepuluh Perintah Allah telah menjadi sumber pengarahan moral bagi banyak orang yang tak terhitung jumlahnya. Mazmur-mazmur Daud telah memberikan kekuatan pada waktu kesulitan dan kehilangan. Khotbah Yesus di Bukit telah menjadi obat bagi jutaan orang untuk mengatasi kesombongan dan sikap legalisme. Uraian Paulus mengenai Kasih di 1Korintus 13 telah banyak melunakkan hati yang sedang marah. Perubahan hidup dari orang-orang seperti Rasul Paulus, Agustinus, Martin Luther, John Newton, Leo Tolstoy, dan C.S. Lewis menunjukkan perubahan yang dapat dilakukan Alkitab. Bahkan satu bangsa atau suku seperti Celtic di Irlandia, Viking yang liar di Norwegia, atau Indian Auka di Equador telah diubah oleh Firman Allah dan kehidupan serta karya Yesus Kristus yang tak terbandingkan.

Anda Tidak Sendirian jika Anda masih meragukan Alkitab. Alkitab, sama seperti dunia di sekitar kita, memang mengandung unsur-unsur misteri. Namun demikian, jika Alkitab benar-benar seperti yang dikatakannya, Anda tidak perlu memilah-milah sendiri bukti-bukti yang ada. Yesus justru menjanjikan pertolongan ilahi bagi mereka yang ingin mengenal kebenaran tentang diri-Nya dan ajaran-Nya. Sebagai tokoh utama dari Perjanjian Baru, Yesus berkata, “Barangsiapa mau melakukan kehendak Allah, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri” (Yoh 7:17).

Satu kunci penting untuk mengerti Alkitab adalah bahwa Alkitab tidak pernah bermaksud untuk menarik kita kepada dirinya sendiri. Setiap prinsip di dalam Alkitab memperlihatkan kebutuhan kita akan pengampunan yang disediakan Kristus bagi kita. Alkitab memperlihatkan mengapa kita perlu membiarkan Roh Kudus hidup melalui kita. Untuk hubungan yang seperti inilah Alkitab diberikan kepada kita. (GIE)

Dihimpun dari beberapa sumber

Gaya Bahasa dalam Alkitab


Metaphora – Alegoris – Simile

I. Allegori

Dalam sekian teolog, Allegori dan perumpamaan dianggap sebagai dua sisi dari perumpamaan, tapi banyak yang lain menganggap alegori itu berbeda, dan kita lihat memang berbeda. Itupun ada istilah Yunani-nya :

1. Allogs ( allegoris) artinya lain tetapi serupa (tetapi “lain”)

2. Agora (allegora) artinya cerita yang bermakna, dengan arti simbolis yang tersembunyi.

Cerita yang dalam rangka mengajar menjelaskan ide-ide, prinsip-prinsip moral. Saya ambil dari Webster “Presenting ideas through substories dan in-singular“, mengemukakan ide-ide melalui cerita itu dan ide-ide ini dikemukakan sebagai simbol tetapi semua harus ditafsirkan bahkan ide-ide itu. Alegori itu kalau dibandingkan dengan perumpamaan, ceritanya ini lebih panjang seringkali dan semua atau hampir semua idea mempunyai arti dan biasanya akan di-stress yang paling utama di dalam ini semua. Jadi ceritanya lebih panjang tapi cerita ini bukan satu tujuannya tetapi setiap detail didalam cerita itu juga ada artinya.

Dari Stuart mengatakan bahwa perbedaan antara allegori dan perumpamaan atau stori itu, allegori itu betul stori yang tiap detail mempunyai arti yang sungguh tetapi yang asing dalam cerita sendiri. Dan ini diperhatikan. Jadi segala sesuatu masuk dalam cerita itu di-allegorikan/dirohanikan. Misalnya 500 dinar diartikan/ dirohanikan.

Origenes (teolog abad ke-3 yang sangat terkenal) mengatakan Lukas 10 ,orang Samaria yang baik hati :

- Yerusalem dikatakan Surga – Imam = Hukum

- Orang malang = Adam – Lewi = Para nabi

- Yerikho = Dunia – Samaria = Kristus

- Penyamun = Iblis

Ini setiap apapun dalam cerita itu dicarikan artinya tapi fantatis yang lepas total dari cerita. Dan ini di dalam allegori seringkali sehingga lepas daripada cerita kemudian dicarikan arti rohani ini, ini, ini kemudian akhirnya kita tidak tahu.

Penjelasan yang benar menurut Forgod yang kemarin banyak saya pakai, dia mengatakan bahwa sebagaimana perumpamaan adalah simile terpanjang, begitulah juga allegori adalah metaphora yang panjang. Perumpamaan mempunyai satu tujuan yang jelas tetapi dalam allegori banyak tetapi tetap yang harus terjadi bahwa pendengar-pendengar harus mengindentifikasikan diri dengan cerita yang sedang diceritakan itu. Setiap pendengar harus melihat diri di dalam ceritanya dan harus mengindentifikasikan diri dengan sebagian atau salah satu tokoh atau salah satu peristiwa dalam cerita itu. Ini aspek penting dalam allegori atau perumpamaan.

Didalam allegori tidak berbeda dengan cerita tapi berbaur dengan cerita di dalam segala hal, misalnya: Efesus 6 tentang persenjataan rohani, setiap persenjataan itu ada artinya. Jadi disini Rasul Paulus memakai allegori karena dia membicarakan helm, perisai , panah dsb, yaitu semua mempunyai arti sendiri. Di dalam PB itu memang ada, tetapi bahwa helm itu tidak ada helm keselamatan yang memang benar-benar enak dipakai, yang dijual di toko-toko tetapi memang tidak ada dijual toko-toko, di pasar-pasar tapi itu hanya mempunyai arti penting-penting, bukan tujuan untuk menafsirkan hanya sebagai contoh saja.

Allegori adalah satu genre Literaris yang berusaha untuk mengekspresikan kebenaran immaterial dengan cara iktora, artinya ia mengekpresikan moral-moral tetapi secara misio kepada kita. Ia mengekpresikan ide-ide (itu penting dalam allegori banyak ide-ide yang dikemukakan, didalam perumpamaan fakta-fakta/peristiwa-peristiwa yang pernah atau yang bisa dibayangkan akan terjadi).Didalam allegori lebih banyak ide-ide. Seperti dalam Galatia 4; Rasul Paulus sering mengemukakan berkali-kali ide-ide tsb, juga dalam I Korintus. Tetapi apa artinya semua itu ? Di dalam allegori ada 4 pendekatan yang harus kita perhatikan:

1. Literal/harafiah

2. Mencari sesuatu hal yang lebih mendalam yang tidak nyata

3. Moral

4. Anagogi (Yunani) adalah suatu cara di mana segala sesuatu menuju kepada

satu point, dengan kata lain cerita ini membawa kita sesuatu yang ada

di sanalah.

Dan itu salah satu tujuan dari allegori bahwa ia selalu tidak membicarakan pemilik tetapi selalu membicarakan yang ada didepan. Dan dia dalam cara-cara penjelasannya itu menuju kesanalah. Disebut anagogi (Abein = Yunani artinya memimpin, Ana = ke atas memimpin ke atas, kesanalah kita tuju. Kemudian selalu dimaksudkan untuk menyatakan satu arti yang tersembunyi . Jadi di dalam allegori carilah arti misteri/tersembunyi/tidak jelas. Tidak seperti dalam perumpamaan sudah jelas apa yang dibicarakan walaupun kadang-kadang kita berpikir juga, kadang-kadang Tuhan Yesus menjelaskan sendiri apa tujuan perumpamaan. Di dalam allegori, kita diperhadapkan dengan sesuatu yang tidak jelas dan kita harus mencari suatu arti yang tersembunyi. Di dalam allegori memang ada satu tujuan tetapi tidak selalu tujuan itu menonjol karena begitu banyak hal yang lain yang mendapat perhatian yang sebesar-besarnya dan seringkali nasihat-nasihat moral kurang diperhatikan tetapi kebenaran-kebenaran lebih dipublikasikan.

Contoh Yohanes 15, perhatikan:

Ayat 1. Akulah pokok anggur yang benar, kemarin kita melihat Yesaya 5 “Aku menyanyikan lagu tentang pohon anggur dari Tuhan, kebun anggur tsb menghasilkan buah yang asam. Yesus memikirkan hal ini dan dengan kata lain Israel yaitu bukan pohon anggur yang benar, semuanya telah gagal baik dari manusia pertama s/d bangsa pilihan tetapi hanya satu benih dari Abraham tidak gagal yaitu Tuhan Yesus, pohon anggur yang benar. Itu adalah latar belakang Tuhan Yesus bicarakan dalam cerita ini, yang seringkali kita tidak lihat itu bahwa Tuhan Yesus tidak mendadak menceritakan pohon anggur tetapi membicarakan kepada bangsa Israel sudah banyak. Di dalam Yesaya ada beberapa pasal seperti pasal 27 juga ada, dimana dikatakan pohon anggur bisa indah-indah, nah yang dibicarakan akhirnya Tuhan Yesus Kristus sendiri.

Kemudian lihat ayat 2 “Setiap ranting padaKu (ini penting) yang tidak berbuah dipotong dan setiap ranting yang berbuah …..” Istilah dibersihkan dalam bahasa Indonesia = punes atau dipotong – potong untuk memproduksi buah yang baik.. Punes = memotong tetapi bukan untuk mematikan, untuk mengambil carang itu tetapi utnuk memperpendek ranting itu dan mengkonsentrasikan buah itu pada tempat yang lebih sedikit demi untuk menciptakan buah yang lebih teratur (dan itu Bapa yang melakukan ini).

Ayat 3 “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. tinggallah ………” Kita lihat sekarang apa bagian ranting. “Kamu telah dikuduskan. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Seperti Yesus mengatakan seperti Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku (Yohanes 17: 10). Apa artinya? Tiga hal utama : Satu Kehidupan , satu Roh, satu Kasih, maka tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Tuhan Yesus tinggal di dalam diri kita oleh Roh dan Tuhan Yesus adalah Akulah hidup. Kalau Tuhan Yesus tinggal di diri kita = kehidupan Kristus yang tinggal di dalam Dia. Kalau kita mengatakan Tuhan Yesus hidupKu, itu ke arah ini. Kemudian kalau Kristus tinggal di dalam diri kita dan kita bersatu dengan Dia dengan sungguh-sungguh maka kasih Tuhan akan terwujud di dalam diri kita dan itu akan sangat nyata. Di mana ada kasih, di situ orang-orang lari kesitu.

Ayat 5 “Aku pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya, barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, berbuah banyak. Sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa (ini harus dijaga)”. Kalau kita ingin berbuah maka kita harus menempel/tinggal tetap di dalam Kristus. Jadi Kristus yang terutama baik dalam ujian (seperti dalam Kolose 1: 15 – 23). Utamalah Dia bahkan pada saat ujian dan jangan terpecah perhatian-perhatian kita.

Ayat 7 “Jika kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki.” Jadi doa ini yang boleh minta apa saja, ada persyaratannya, yaitu tinggal di dalam Tuhan dan FirmanKu di dalam kamu. Kamu tidak mungkin salah minta kalau firmanKu tinggal di dalam kamu dan kamu tinggal di dalam Aku. Tidak mungkin meminta sesuatu yang tidak Allah kehendaki.

Ayat 8. “Dalam hal inilah BapaKu dipermuliakan.” Jika kamu berbuah banyak.

Tujuannya apa? Pohon anggur itu di dalam Yesaya 5 hanya satu tujuan yaitu eksistensi kita di dunia ini yaitu menjadi berkat sama seperti Abraham. Abraham dipanggil untuk diberkati supaya bisa menjadi berkat. Itulah tujuan esksestensi kita sekarang yaitu menjadi garam, terang di dalam kegelapan.Jadi tujuan ini adalah berbuah banyak. Tapi tujuan Tuhan memilih menjadi berkat anak-anakNya bukan untuk egois-egois, saya mau dikuasai, saya ingin mendapat atau saya mau mendapat untuk memberi, tetapi sebenarnya saya mau mendapat untuk bisa memberi. Ingat prinsip lautan mati dimana tidak ada ikan karena tidak ada outlet (saluran keluar) semua air masuk, masuk. Sehingga kadar garam makin tinggi, maka ikan tak satupun ada disitu. Ada orang yang mengatakan saya harus makan-makan toch, tapi makan-makan tanpa memberi, sama juga mematikan dengan saya tidak makan.

Demikianlah tentang pohon anggur tsb.

Allegorisasi : Para Teolog Gereja-gereja muda (abad ke 19)

Mengenai PL ada allegorinya dan itu adalah penafsiran daripada para Rabinen (para Rabbi sampai abad ke-3 PB) itu sangat berperan di dalam PL. Dan di dalam tubuh Israel dan kadang-kadang mereka itu malu tentang cerita-cerita PL dan oleh karena itu mereka menafsirkan itu secara allegori supaya untuk menghilangkan rasa aneh seperti Adam dan ciptaannya….. Rindu supaya orang-orang pintar Yunani itu bisa meninggalkan segala ibadah mereka dan menjadi orang Yahudi.

Seperti Kejadian 1, dia allegorikan supaya tidak menjadi malu karena orang-pintar-pintar mana mereka akan terima tentang Allah menciptakan manusia dan ada ular dan ada semuanya ini.Jadi semuanya ini dirohani-rohanikan tetapi faktanya juga hilang. Dan kita tidak bisa menginterpretasikan Alkitab kalau faktanya jadi hilang. Dan di dalam allegori-allegori justru fakta-faktanya seringkali terus hilang. Didalam segala detail-detail yang dirohani-rohanikan sampai inti dari cerita itu tidak ada lagi. Kita melihat tentang Adam yang merupakan detail-detail dari manusia dan Kristus itu adalah Adam ke-2. Kalau tidak ada Adam pertama tentu tidak ada Adam ke-2.

Dalam Filipi 2 Tuhan Yesus tidak menghilangkan ke-Allahan tetapi meng-hilangkan kehormatan ke-Allahan. Disini Filipi 2 ini Tuhan Yesus bertindak sebagai Adam ke-2. Adam ke-1 sudah mempunyai kedudukan setinggi-tingginya, sebagai kepala atas segala ciptaan, semua diberi kepada dia dia adalah kepala. Kemudian ia terpancing oleh iblis dan iblis memancing supaya ia mempunyai ambisi-ambisi tentang sama dengan Allah. Tuhan Allah kita tahu perbedaan antara baik dan tidak baik. Itu jelas, kita diciptakan norat, tetapi Tuhan tidak memberikan kepada kita untuk menciptakan nilai moral, tidak memberikan kepada kita untuk menciptakan apa yang baik dan apa yang tidak baik, itu hak Tuhan. Tetapi ada disfunction untuk hal ini, maka ia putar segala sesuatu. Ingat “Tuhan mengatakan pada hari kamu makan, habis ini kamu mati.” Sehingga nilai-nilai Allah diputar menjadi lain, dimana Allah mengatakan bahwa bila Adam makan buah itu maka akan mati, tapi Adam menganggap mana mungkin sebab buah ini baik, dia akan tetap hidup. Dasar semua tindakan ini adalah ambisi pribadi. Adam ke-1 adalah manusia lama, adalah suatu oknum sehingga Adam ke-2 juga oknum bukan satu konsep. Seringkali di dalam allegori, fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa itu bisa hilang di dalam allegori klasik daripada penafsir-penafsir itu.

Jadi kita melihat hal ini hati-hati. Mengenai Oligenes, didalam mempunyai metode, metodenya adalah arti pertama dari suatu teks, dia mencari arti harafiah di dalam teks pada umumnya. Lalu ia mencari arti moral pada waktu tertentu., yang ke-3 ia mencari arti spiritual kadang-kadang (apa arti doktrinal tetapi selalu pasti ada arti mistik). jadi dia mulai dari harafiah dan berakhir pada mistik-mistik.

Jadi mereka pada waktu itu coba bayangkan eksegesenya begitu mendalam. Mereka mengambil suatu teks dan dengan berapa banyak 1,2,3,4, dan 5 macam dicari dalam teks itu, sampai yang pertama harafiah/anagogi (yang membawa ke arti) mistik atau puncak pada akhirnya. Demikianlah Oligenes.

Allegori kemudian dilihat sebagai satu sistem yang musik, air hidup………. Allegori itu tidak dianggap terlalu berguna. Pada Reformasi ditolak, apalagi historisistik juga ditolak. Tetapi Reformasi Luther dan Calvin memiliki pandangan bahwa teks tidak perlu adanya ini, teks berdiri sendiri, teks tidak usah dibela, teks itu sendiri adalah klaritas spiritual (the clarity of the scripture menurut Luther) itu berbicara sendiri tidak perlu masuk macam-macam unsur-unsur yang kemudian menghilangkan arti sebenarnya.

Nah sekarang mengenai masalah interpretasi allegori Paulus Galatia 4. Para teolog Liberal mengatakan bahwa metode yang Rasul Paulus pakai dalam Galatia 4 adalah Inlegitim yaitu tidak boleh di luar hukum, itu tidak sesuai dengan hukum tafsiran. Para teolog Injili, mereka seringkali bersifat DDD (Diam DemiDamai/ tutup mulut. Mereka kompromi dan diam dan tidak berbicara. Dan mereka diam dan malu karena mereka manganggap mungkin betul bahwa Paulus itu tidak teliti dari apa yang ia lakukan Galatia 4.

Kalau orang-orang Injili mengatakan bahwa Paul;us itu tutup mulut, tutup mata. Jadi dengan kata lain mereka mengatakan benar Rasul Paulus tidak teliti. Itu berarti Alkitab itu menjadi tanda tanya kepada kita. Otoritas Alkitab itu hilang, kita membuka Alkitab A – Z dan kita tahu bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Itu akan kita korbankan kalau kita akui bahwa Rasul Paulus memakai metode di dalam teksnya yang tidak sah.

Untuk membawa suatu kebenaran kita lihat Galatia 4: 4 tentang Sarah dan Hagar. Kalau Rasul Paulus memakai sesuatu yang tidak sah dengan cara yang tidak benar maka kita harus mengatakan hal itu akan dibenarkan atau merupakan tanda tanya apa ada barangkali teks-teks lain yang tidak bisa kita percayai, dengan kata lain otoritas Alkitab tanda tanya.

Jadi kita mesti lihat apa maksudnya Rasul Paulus dan bagaimana caranya ia memakai allegori tsb. Baca Galatia 4: 21 – 31 mengenai Hagar dan Sarah, memang itu suatu allegori. Ayat 21 – 27 “Seperti tertulis dalam commentary (Allan Kuln) tentang Galatia dikatakan Abraham memang mempunyai 2 anak, satu daripada wanita hamba dan yang satu dari padaisterinya yang melahirkan secara bebas.

Satu lahir secara natural yaitu Ismail. Abraham diberikan hambanya Sarah. Kemudian dalam kasus ini simbol 2 perjanjian, yaitu PL dan PB. Dalam PL adalah isteri pertama hamba adalah simbol dari Gunung Sinai Arab, karena Abraham belum ada di Israel, sebab ia masih di luar negeri perjanjian. Tetapi juga Hagar itu simbol dari PL, tetap Israel dalam PL di bawah perhambaan dosa belum ada penyucian. Karena dalam PL belum ditulis sama sekali kehendak Allah, itu semua paksaan dari luar. Ingat peristiwa 2 loh batu dimana perbedaan PL dan PB. Dalam PL dikatakan kamu harus begini-begini, tetapi tidak ada pengaruh untuk berbuat demikian. Dalam PB tidak ada lagi hal itu sebab Firman Tuhan ditulis di dalam hati. Dalam PB itu semua spontan dari dalam , karena Roh Kristus tentu akan menciptakan di dalam diri kita, sikap Tuhan Yesus, KehendakMu kehendakKu. maka firman itu adalah firman yang kita rindukan bukan firman paksaan. Oleh karena itu, semua dalam PL mereka harus begini-begini dan kemana akhirnya? Total ritual tanpa realita.Kita lihat bagaimana mereka munafik, capek bangsa Israel di bawah hukum itu, karena begitu banyak. Apalagi pada waktu itu tafsiran-tafsiran daripada rabbi-rabbi sedemikian rupa, bahwa setiap apapun di PL kemudian ditafsirkan. Misal : Jangan bekerja pada hari ke-7 (hukum ke-4) kemudian ditafsirkan apa artinya bekerja. Akhirnya 37 jenis larangan ; tidak boleh angkat-angkat, seandainya rumah saya kebakaran pada hari Sabat, bagaimana tidak boleh angkat-angkat? Pakaian dan semua tidak boleh angkat-angkat. Dan bangsa Israel terikat seperti itu, dan dalam PL tampak bangsa Israel dibawah perhambaan hukum dan juga perhambaan dosa. Karena dengan perhambaan hukum tidak ada penyelesaian dosa.

Menurut Alan Kuln, maka Hagar merupakan simbol Yerusalem daripada ikatan perjanjian dengan Nabi Musa. Tetapi pada Nabi Musa belum sampai begitu, itu betul hanya firman Tuhan bukan tafsiran-tafsiran yang sedemikian banyak daripada semua penafsir-penafsir yang harus dipahamidan harus dipelajari oleh semua orang Yahudi. Kemudian Ibu kami adalah seorang yang lahir bukan dari hukum tapi daripada perjanjian. (Ini semua PB dimana kita lahir daripada perjanjian Kristus, janji Tuhan Yesus siapapun yang datang kepadaKu tidak akan ditolak). Dalam Yohanes 6: 37 dinyatakan dua kali tidak-tidak. Kita lahir dari janji Allah, Firman Allah dan hanya dari anugerah Allah. Jadi Yerusalem sorgawi adalah ibu kita. Dalam Filipi 3: 20 Paulus mengatakan kita kewarganegaraan adalah di sorga. Kita lahir dari sana, kita adalah WNS bukan WND (S= surga, D= dunia). Lihat juga Galatia 4: 28 – 31, yang mengatakan hal ini bukan Tuhan, tetapi Sarah sendiri. Sarah mengatakan : “Usirlah dia..” Kalau Abraham melakukan. Tuhan mempunyai tujuan bahwa melalui kelahiran kedua anak ini, perbedaan status dan segala sesuatu mesti nyata.

Bahwa orang-orang yang ikutan berbuat supaya diselamatkan tidak akan pewaris kerjaan Allah hanya orang-orang yang semata-mata menerima anugerah dan janji dari Allah. Kejadian di ayat 29 terjadi karena Ismail selalu mengejek dan menyiksa orang perjanjian sampai saat ini dan seterusnya. Anak-anak yang bukan merdeka selalu akan memusuhi pihak yang sungguh merdeka di dalam Kristus. Itulah salah sesuatu hal yang menjelaskan mengapa di dalam gereja itu sendiri begitu banyak perlawanan. Walaupun kita harus berusaha untuk memelihara kesatuan Roh ( kata Rasul Paulus dalam Efesus 4 begitu hebat itu tetapi faktanya adalah seperti itu.

Nah sekarang, Allegori dan metode allegori dari Paulus adalah Hagar sebagai hamba PL, Yerusalem masa Rasul Paulus, Sarah (wanita bebas) = PB, Ismail daripada darah daging adalah orang-orang yang diperhambakan oleh hukum, Ishak = janji daripada orang Kristen yang benar, kemudian Ismail menganiaya Ishak. Memang Paulus membuat disini suatu allegori, tetapi bahwa Palus tidak melanjutkan allegori. Dan bila Paulus menganggap allegori adalah suatu genre yang sah dan bagus, jelas dia tidak akan melakukan itu hanya dalam Galatia atau Korintus namun juga di semua surat. Dan disini Paulus mempunyai tujuan ini untuk membedakan PL dan PB. Dan ia membedakan supaya dimengerti perbedaan antara satu dengan yang lain maka ia memakai peristiwa ini yang berdasarkan fakta bukan berdasarkan teori tetapi peristiwa yang benar-benar terjadi. Bila hal ini hanya suatu teori untuk bagaimana mengajak yang baik, tentu ia tidak akan memakai 2 tetapi akan memakai jauh lebih sulit.

Di dalam pasal ini, dia menjelaskan sendiri apa yang dia maksudkan dengan ceritanya. Dia jelaskan dan pakai Alkitab dan ia mendasarkan apa yang ia katakan pada fakta-fakta yang memang terjadi, dengan kata lain disini bukanlah dongeng yang kemudian dia rohanikan untuk mengajar sesuatu (fakta yang sangat jelas yang memang terjadi).

II. Metaphora

Mazmur 80: 9 – 20 mohon ingat historis cultural, konstektual dan teologis., coba buat sintaksis dan sistematis. (PR)

Metaphorik itu berasal dari kata Yunani yaitu meta ferein, meta adalah membawa kesana atau membuat suatu perbandingan antara dua hal. Ada suatu perbandingan, tapi perbandingan dalam metaphorik tidak memakai istilah seperti, paling cepat dari sekian banyak metaphorik, contohnya : “Aku inilah Roti Hidup”, kira-kira apa artinya? Dan “Aku inilah Pintu”. “Aku inilah pohon anggur”. Ini semua metaphorik.

Kira-kira apa itu metaphorik? “Aku inilah pintu” memang Tuhan Yesus pintu tapi Yesus bukan pintu. Tapi kita tahu langsung dengan memakai perkataan ini tanpa Aku seperti pintu. Pada mazmur 1 tertulis “orang yang berbahagia adalah seperti pohon , orang lalim seperti sekam. Tapi disini tidak, Yesus menganggap Akulah Pintu, Akulah Roti Hidup. Jadi metaphora sangat jelas tidak sulit, karena kita lihat dua ide yang sangat jelas. Tetapi sebenarnya tidak mempunyai hubungan satu dengan yang lain. Tapi apa yang dikatakan jelas sekali.

Dua benda/peristiwa /hal/oknum menjadi satu tidak terpisah, misalnya “Aku inilah Roti Hidup. Apa artinya untuk kita ? Melalui dua hal tanpa mengatakan “seperti”. Akulah Pintu berarti membuka kerajaan tapi juga batas, yang berkepentingan bisa masuk. Jadi satu konsep Pintu jelas bahwa apa pintu itu? Siapa yang tinggal di rumah tidak ada pintu-pintunya ? Dan tidak ada diantara kita bila malam pintu-pintu terbuka. Jadi pintu bagi kita konsepnya jelas, maka Tuhan yesus memakai itu “Aku”. Dan kira-kira apa artinya “Akulah Roti Hidup?” Artinya makanan yang menghidupkan. Tanpa itu kita mati. Itulah kebutuhan kita dan dia adalah sumber kehidupan dan pemeliharan kita. Dan itu adalah metaphora. Dan segala macam metaphora dan kesitu arahnya. Tidak perlu kita membuka semuanya itu.

Ada macam-macam metaphora. Metaphora adalah orang harus menjadi contoh, seperti “Kamulah garam dan terang dunia.”

Apa kamu garam ? Tidak juga, khan ?

Yang digunakan untuk mengekspresikan suatu benda atau peran atau sesuatu hal atau satu orang , tetapi dalam metaphorik itu aplikasinya lain. Saya kira tak perlu kita dipaparin lain, cukup jelas. Biasanya roti mempunyai ini tetapi dalam metaphorik itu dalam bahasa kiasannya ini artinya lain sekali . Namun pemikiran Roti, apa itu Roti itu tidak hilang justru itu memberikan arti sebagai ucapan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus.

III. Simile

Itu juga kata-kata kiasan, tetapi memakai “seperti”. Coba lihat Yeremia 23: 29 itu suatu simile, bukan suatu metaphorik. Apa yang dikatakan FirmanKu itu? Yang dikatakan FirmanKu itu bukan api atau pintu tapi seperti api dan seperti pintu. Dalam bahasa itu selalu dicarikan hal yang serupa/sama. Dan simile itu dalam Mazmur 1 banyak PL dan PB diungkapkan seperti ini, seperti itu.

Simile simbol tipologi itu semua satu masalah yang sifatnya harus kita bicarakan. Apa itu simbol? Yaitu pengertian tambahan dari objek atau dari sesuatu hal dari pada yang biasa, misalnya burung merpati. Burung merpati selalu menggambarkan Roh Kudus yang akan datang memenuhi kamu. Lihat Markus 14: 22 – 24 bandingkan Lukas 22: 19.

Terdapat perbedaan sedikit yaitu mengenai cawan ini adalah perjanjian baru. Cawan ini merupakan cawan ke 5 dalam perayaan Paskah yang merupakan cawan pengucapan syukur. Beberapa cawan yang diminum dalam perayaan Paskah itu tetapi yang terakhir itu adalah cawan pengucapan syukur dan cawan inilah yang diambil Yesaya dalam darahku dan Perjanjian Baru di dalam darahKu. Jadi syukur bahwa sekarang tertumpah darah atau pengesahan Perjanjian Baru. Pernah kita bicarakan bahwa perbedaan PL dan Pbadalah bukan isi perjanjiannya tapi aplikasinya. Karena kedua PL dan PB itu dua-duanya mengatakan “Kamu Kuangkat milikKu dan Aku milik Allahmu” Tetapi didalam PL beda sekali karena itu, nats nasional dengan bangsa Israel PB, individualis setiap orang percaya. Dalam PL itu massal, PB itu individual dan itu segala bangsa, kemudian salah satu aspek yang lain PL itu sah. Mereka tidak menggunakan stempel tapi dengan penumpahan darah sampai nabi Musa dalam kitab Keluaran 4 memercikkan bangsa Israel dan hukum-hukum itu dengan darah dan dengan inilah darah perjanjian yang ditumpahkan untuk perjanjian ini. Yaitu PL ini disahkan dengan demikian dan PB disahkan didalam darah Kristus, maka ini yang diucapkan.

Dan kita melihat disini bahwa Tuhan Yesus memakai suatu simile, dimana apa yang dibicarakan itu jelas sekali, boleh dikatakan suatu metaphora yang lebih panjang sedikit. Kemudian satu hal lagi, simbol dimengerti secara harafiah dan dipakai untuk mendatangkan pengertian, bukan bentuk jenis hurufnya tetapi perhatiannya pada perdamaian seperti pada simbol burung merpati. Jadi simbol itu adalah sesuatu yang mendatangkan pengertian walaupun bukan literaly ini tetapi sudah cukup jelas bahwa itu hendak membicarakan pendamaian atau Roh Kudus atau sesuatu yang sesuai dengan jamannya itu. Apapun juga dapat dikatakan bahwa burung merpati membicarakan watak seseorang itu lemah lembut, seperti “Aku mengutus kamu dalam dunia seperti domba tapi cerdik seperti ular yaitu berarti terlihat watak yang dituntut dari kita bukan kelicikan tetapi kecerdikan.

Ada lagi penafsir masa kini yang lain lagi dari yang dahulu seperti kata merpati adalah perdamaian atau ketulusan, tapi pada jaman Yesaya yaitu keluhan-keluhan dari merpati itu dan pada pada jaman Hosea 7: 11. Disini jaman Hosea tidak berbeda dengan jaman Yesaya, keduanya abad ke-8 tetapi Hosea duluan daripada Yesaya. Dari Hosea 7: 11 jelas kita mesti tahu apa yang dibicarakan oleh penulis maka kontekstual itu penting dan jamannya juga. Misalnya simbol benda-benda, misalnya salib untuk orang Roma dan salib untuk orang-orang PB berbeda. Salib untuk orang Roma berarti hukuman yang paling berat. Untuk kita adalah keselamatan. Kemudian simbol-simbol misalnya Baptisan, Perjamuan Kudus, angka 12 atau 7. Angka 12 berarti 12 selalu Berapa orang yang diselamatkan ? Yaitu 12 x 12 itu keseluruhannya 144.000 yang berarti segenap umat Tuhan akan diselamatkan. Kemudian 7 angka kesempurnaan.

Warna yang mempunyai arti seperti Yesaya pasal 1, merah seperti apa, putih seperti apa. Nama-nama juga adalah simbol, misalnya Yesus yang berarti Dia yang menyelamatkan daripada dosa (Matius 1: 21). Typus yaitu suatu macam yang dipakai untuk membicarakan sesuatu yang akan diambil Type. Ini tipe dan anti-tipe. Jadi Adam adalah tipe dan Kristus adalah anti-tipe, ini sebenarnya. Kita selalu melihat dalam tipologi bahwa itu yang dibicarakan adalah sesuatu yang nanti adalah beda tapi serupa.

Contoh dari Kisah Para Rasul 7: 44 dan Ibrani 8 : 5 – 6.

- Kisah Para Rasul 7: 44 , tentang kemah suci. Ini adalah tipus yang

sebenarnya, jadi kemah yang di bumi harus sesuai yang ada.

- Ibrani 8: 5 – 6 (Ibrani adalah salah satu buku yang banyak mengandung tipologi), karena sekarang Ia masuk di PL suatu Tirai dengan 13 lapis dan pada hari kebangkitan itu, disobek dari atas ke bawah (Tuhan yang menyobek 13 lapis). Ingat Tirai dalam Bait Allah 13 lapis dengan kata lain tidak mungkin disobek oleh manusia dan tidak boleh ada menonton ke dalam. Hanya Imam besar sekali satu tahun masuk ke dalam. Namun sekarang Tuhan Yesus bukan di dalam, tapi Ia langsung masuk ke dalam sorga. Lihat pasal 9: 24, hal ini banyak sekali dibicarakan dalam kitab Ibrani.(GIE)

Struktur Puisi Ibrani


Struktur-struktur Retorik Narasi Ibrani

Pola-pola struktural khusus yang sering ditemukan dalam narasi Ibrani adalah: pengulangan (repetition), pararelisme (parallelism), Kiasme (Chiasm), dan pencantuman (inclusion).

Pengulangan (Repetition)
Pengulangan merupakan perlengkapan kesayangan di dalam narasi Ibrani. Pengulangan bergerak dari pengulangan kata-kata kepada pengulangan seluruh percakapan (dialog). Alter menyebutkan bahwa pengulangan tidak hanya pada kata-kata kunci (key words) tetapi juga pada motif-motif, pada tema-tema, dan pada urutan daripada tindakan sebagaimana “tiga perwira dan anak buahnya diancam dengan api dari langit di dalam 2 Raja-raja 1″
Pengulangan dapat juga bermanfaat untuk suatu tujuan lain dari pada menuntun pendengar kepada arti dari narasi itu. Dengan event-event narasi yang berperan bersamaan, teknik dari resumptive repetition bermanfaat mengembalikan pendengar kepada point mula-mula dari cerita itu setelah diikuti sebuah cabang untuk sementara waktu. Contoh, berdasarkan I Samuel 19:12, “Mikhal menurunkan Daud dari jendela, ia (Daud) melarikan diri dan luputlah ia” Pembaca tetap dengan Mikhal dan pertemuan antara dia dengan orang-orang Saul. Tetapi sementara itu Daud telah melarikan diri, sebagaimana dalam 19:18 “Setelah Daud melarikan diri dan luput.”

Pencantuman (Inclusion)
Pencantuman merupakan bentuk khusus dari pengulangan ditemukan juga dalam narasi Ibrani, Contoh, Ulangan 1:1 dan 29:1 (Lebih tepat 28:69). Pencantuman menandai batas-batas dari sebuah unit literatur dengan mengulang pada bagian akhir kata-kata dan frase-frase dari bagian awal. Karena pendengar yang menerima narasi melalui pendengaran (dibacakan, tidak membaca), pencantuman memberi isyarat akhir dari narasi dan mungkin mengulangi pernyataan (pesan) dengan mengingatkan pendengar dari pernyataan pembukaan.

Kiasme (Chiasm)
Welch menyebut kiasme “suatu prinsip penataan/pengurutan/penyusunan yang penting, tidak hanya pada ayat-ayat dan kalimat-kalimat, tetapi juga di dalam dan sepanjang keseluruhan kitab.” Karena kiasme adalah bentuk yang rumit dari pengulangan, petunjuk untuk mengidentifikasi kiasme adalah pengulangan. “Dimana pengulangan itu sering,……penganalisa harus akhirnya bertanya jika narasi telah dikontruksikan dengan sebuah arsitektur kiastik; jika narasi menunjukkan pengulangan, adakah itu juga menunjukkan kebutuhan inversion (kebalikan), balance (seimbang), dan berpusat pada klimak?”
Pola-pola kiastik dapat ditemukan dalam dialog sebagaimana dalam adegan. Bar-Efrat menyodorkan contoh yang baik dari kiasme di dalam sebuah dialog (percakapan) di dalam analisanya terhadap percakapan Husai (2 Samuel 17:8-13). Struktur kiastik untuk setiap separoh pembicaraan, dua bagian dihubungkan pada bagian tengah (X):
A Engkau tahu ayahmu dan orang-orangnya, bahwa merekalah pahlawan dan sakit hati,
B Seperti beruang yang kehilangan anaknya di padang,
C Dan ayahmu ahli di dalam perang dan dia tidak akan melewati malam bersama dengan rakyat.
X Tentulah ia sekarang bersembunyi dalam satu lobang atau di salah satu tempat.
C’ Dan ketika beberapa dari mereka akan kalah pada awal peperangan, semua yang mendengar itu akan berkata: “Ada pembantaian diantara rakyat yang mengikuti Absalom.”
B’ Kemudian meskipun seorang gagah perkasa, yang mempunyai hati seperti hati singa, akan meleleh sama sekali.
A’ Karena seluruh Israel tahu bahwa ayahmu adalah pahlawan dan gagah perkasa orang bersamanya.
D Biarlah seluruh Israel semuanya terkumpul (gathered) bersamamu, dari Dan hingga Bersyeba.
E Seperti pasir di tepi laut banyaknya; dan kamu sendiri pergi ke pertempuran.
X’ Dan kita akan mendatangi dia di salah satu tempat dimana dia ditemui,
E’ Dan kita akan menyergapnya seperti embun jatuh ke bumi; dan dia serta orang-orang yang menyertainya tidak ada yang tertinggal.
D’ Dan jika ia terkumpul (gathered) pada sebuah kota, seluruh Israel akan mengikat kota itu dengan tali dan kita akan menyeretnya sampai ke sungai, hingga batu kecilpun tidak terdapat lagi di sana.
Fokkelman menyodorkan contoh yang baik dari kiasme di dalam adegan pada kejadian 25:20-26, adegan pertama dari toledoth dari Ishak.
A Ishak berumur 40 tahun ketika mengambil Ribka menjadi isterinya. ay. 20
B Ribka mandul; Doanya dikabulkan ay. 20/21
C Istrinya, Ribka, mengandung ay. 21
Anak-anaknya bertolak-tolakan dalam rahimnya ay. 22
D Ribka meminta sebuah PETUNJUK (an oracle) ay. 22
D’ Yahweh memberikannya sebuah PETUNJUK (an oracle) ay. 23
C’ Hari untuk bersalin telah tiba ay. 24
Ternyata kembar ada dalam rahimnya ay. 24
B’ kelahiran dan rupa Yakub dan Esau ay. 25, 26a
A’ Ishak berumur 60 tahun ketika Ribka melahirkan anak-anaknya ay. 26b
Fokkelman mengakui bahwa struktur kiastik disini “tidak mesti demikian,…….namun struktur pesan ini mengungkapkan apa yang menjadi inti maslah di dalam Kejadian 25:19-26, yaitu yang menjadi sentral dari komposisi kesimetrisan, D + D’. PETUNJUK merupakan sentral.” Pengkotbah mungkin tergoda menggunakan bagian ini bagi kotbah mengenai “Jawaban Doa,” atau “Kesabaran Ishak,” atau “Keibuan.” Tetapi struktur daripada adegan menfokuskan pada Firman Tuhan: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.” Struktur ini, oleh karena itu, menunjukkan bahwa “bukan menguji Ishak terhadap penungguan dan jawaban dari doa yang terdapat dalam plot, tetapi secara keseluruhan pada kelahiran anak-naknya [dan implikasi dari petunjuk itu] merupakan point utamanya.”
Contoh terakhir ini khusus menunjukkan arti dari pengenalan struktur kiastik. Ini tidak hanya memberi penghargaan yang sungguh besar bagi narasi Ibrani sebagai literatur, tetapi juga membantu menggambarkan unit literary menjadi berguna seperti mengkotbahkan teks dan mencegah kesalahan-penafsiran dengan memusatkan pada thema dari perikop.
Stereotyped Patterns
Kadang-kadang struktur dari kitab-kitab Perjanjian Lama berpola stereotyped, seperti pola yang kita kenal dalam kitab Hakim-hakim:
A. Israel berlaku jahat di mata Yahweh.
B. Yahweh menyerahkan mereka kepada penindas.
C. Israel berseru kepada Yahweh.
C’. Yahweh membangkitkan seorang pembebas bagi Israel.
B’. Yahweh menyerahkan penindas kepada pembebas tersebut.
A’. Tanah Israel aman.
Penulis kitab Raja-raja menggunakan “Kerangka stereotyped. . . . untuk membuka dan mengakhiri bahan yang disajikan bagi suatu fakta pemerintahan raja.”
A. Introductory framework
1. Royal name and accession date. . .
2 King’s age at accession (Judah only)
3. Lenght and place of reign
4. Name of queen mother (Judah only)
5. Theological appraisal
B. Events during the reign. . . .
C. Concluding framework
1. Formula citing other sources of regnal information
2. Notices of death and burial
3. Notice of a successor.
Level-level Struktural
Bar-Efrat memberi kesan bahwa struktur dapat dideteksi pada empat level-level yang berbeda: (1) level verbal; (2) level narrative technique ( teknik penceritaan); (3) level narrative world; dan (4) level conceptual content (isi secara konsep).
Level verbal, contohnya, pengulangan kata-kata “And there was evening and there was morning” membagi cerita penciptaan mula-mula kedalam tujuh seksi yang ditandai dengan jelas.
Level narrative technique, “the analysis pf structure . . . is based on variations in narrative method, such as narrator’s account as opposed to character’s speech (dialogue), scenic presentation versus summary, narration as agains description, explanation, comment, etc.” Sebagai contoh, cerita kelahiran Samuel (1 Samuel 1:1-2:11):
Summary (1:1-3)
Scene (1:4-18)
Summary (1:19-20)
Scene (1:21-23a)
Summary (1:23b)
Scene (1:24-2:10)
Summary (2:11)
Level narrative world, “the analysis of structure is related primarily to the characters and the plot but also to setting, clothes, etc.” Contoh: cerita Amnon dan Tamar (2 Sam 13) “struktur berdasarkan identifikasi karakter” Setelah bagian awal membukakan tokoh-tokoh utamanya, cerita dibangun sebagaimana sebuah rantai dengan tujuh bagian, masing-masing bagian terdapat 2 tokoh, dan salah satu tokoh tersebut juga terdapat pada bagian selanjutnya.
Yonadab-Amnon (ayat 3-5)
Amnon-Daud (ayat 6)
Daud-Tamar (ayat 7)
Tamar-Amnon (ayat 8-16)
Amnon-hamba (ayat 17)
hamba-Tamar (ayat 18)
Tamar-Absalom (ayat 19-20)
Amnon ditemukan pada 2 bagian pertama, sedangkan Tamar ditemukan pada dua bagian terakhir…… Dibagian tengah, yang merupakan bagian yang besar dari pada bagian lainnya (terdapat 9 ayat), Amnon dan tamar bertemu, dan disinlah puncak dari cerita itu.
Level conceptual content, “the analysis of structure is based on the themes of the narrative unit.” Contoh, salah satu tema-tema dari 1 Samuel adalah “the tranference of leadership—from Eli to Samuel, from Samuel to Saul and from Saul to David.” {perpindahan kepemimpinan—dari Eli ke Samuel, dari Samuel ke Saul, dari Saul ke Daud}. Berdasarkan tema ini kitab tersebut dibagi tiga, pasal 1-7 (Eli — Samuel), pasal 8-15 (Samuel — Saul) dan pasal 16-31 (Saul — Daud)
Demikianlah pola-pola struktur yang mungkin ditemukan pada berbagai level dan dapat menjadi indikator yang penting terhadap penekanan arti dari suatu bagian.(GIE)

(Sumber: The Modern Preacher and The Ancient Text, karangan Sidney G, halaman 208-213)

Me and the Talent


AKU DAN TALENTAKU
Talenta
Baca : Matius 25 : 14 – 30
Alkitab secara jelas menyatakan bahwa setiap orang Kristen telah diberikan karunia / talenta, yaitu kemampuan untuk melayani di dalam persekutuan / gereja (umat Tuhan).
Spiritual Gifts” are “Grace Gifts” or “Grace Endowments” that Chtistians
receive from God in the form of “Skills”, “Abilities”, and “Talents”
through which God desires to channel His energy and
power as a means of strengthening the Body and
bringing glory to His Name !
Apa itu talenta / karunia rohani ?
Talenta / karunia rohani adalah suatu kemampuan yang Allah berikan untuk berhubungan dengan orang-orang lain. Dengan cara ini, Allah dipermuliakan, Injil akan disebarkan dan orang-orang akan dibangun di dalam tubuh Kristus.
Talenta / karunia rohani adalah anugerah yang diberikan oleh Roh Kudus kepada kita.
Setiap anggota tubuh Kristus paling sedikit mempunyai 1 (satu) talenta. Talenta yang dimiliki seharusnya dikembangkan dengan maksimal untuk kemuliaan Tuhan.
Tujuan talenta / karunia itu diberikan adalah untuk membangun dan memperlengkapi orang-orang kudus untuk pekerjaan pelayanan / membangun tubuh Kristus (kesatuan tubuh Kristus).
Apa beda Talenta dengan Bakat ?
Setiap orang memiliki bakat, sebagai anugerah Tuhan yang umum. Bakat adalah kemampuan alamiah yang dimiliki setiap orang sejak ia lahir. Bakat pun harus digali dan dikembangkan. Bakat yang dipergunakan dan diserahkan secara khusus untuk pelayanan bagi kemuliaan Tuhan merupakan talenta. Namun perlu disadari bahwa tidak semua talenta adalah hal yang sudah ada sejak lahir. Oleh sebab itu, salah satu cara untuk menemukan talenta, dapat dilakukan dengan mencoba menemukan bakat apa yang kita miliki.
Sebagian orang akan mengatakan lihat daftar karunia yang terdapat di dalam Kitab Suci, untuk menemukan talentamu. Ada juga yang berkata, mintalah kepada Tuhan.
Prinsip Alkitab sebenarnya telah jelas menguraikan bahwa :
Setiap kita memiliki talenta
Mungkin kita menganggap bahwa talenta yang kita miliki tak berarti sama sekali. Namun sekecil apapun talenta itu, Tuhan menginginkan kita untuk mengembangkannya bagi kemuliaan namaNya.
Kita harus mengembangkannya untuk dipakai melayani dan membangun tubuh Kristus.
Tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa talenta saya lebih penting dari talenta orang lain atau talenta saya tidak berarti sama sekali, sebab setiap talenta diberikan Tuhan adalah penting, untuk saling melengkapi dalam pembangunan Tubuh Kristus. Dan pada waktunya nanti, Ia akan menuntut pertanggung-jawaban dari kita masing-masing.
Jika saudara masih bertanya-tanya apakah talenta saudara, maka berikut ini ada 3 hal yang dapat menolong :
Lihat apa keinginan anda (Examine your DESIRES)
Lihat kenyataan yang ada (Examine the EVIDENCE)
Lihat kesempatan yang ada (Examine the OPPORTUNITIES)
Daftar Karunia Rohani dalam Alkitab, dapat ditemukan dalam :
Roma 12 : 6 – 8
I Korintus 12 : 28
I Korintus 12 : 8 – 10
I Korintus 7 : 7
Efesus 4 : 11
I Petrus 4 : 11
Setiap orang diberikan Tuhan talenta yang berbeda-beda. Bagaimana kita menggunakan dan mengembangkannya tergantung dari diri kita sendiri. Namun satu hal yang pasti, Tuhan menghendaki agar talenta tersebut dikembangkan untuk kemuliaan namaNya.

LATIHAN MENGETAHUI DAN MENGEMBANGKAN TALENTA
Menyadari kemampuan-kemampuan yang sebenarnya kita miliki. Dibawah ini ada beberapa kemampuan dan keahlian yang mungkin tidak kita sadari, juga merupakan talenta kita. Tandailah mana yang menjadi talenta anda.
Bekerja dan bermain dengan anak-anak
Mendengarkan dan memperhatikan orang lain
Menjadi “orang dibelakang layar”
Memecahkan masalah
Bermain instrumen / alat musik
Melatih atau mengajarkan
Kemampuan mengorganisasi dengan baik
Keahlian dalam hal kesenian, seperti : bernyanyi, bermain drama, melukis, menulis puisi, menari, dll.
Kemampuan memotivasi atau memimpin orang lain
Mengajak orang lain untuk ikut terlibat
Mendamaikan perselisihan
Memasak atau melakukan pekerjaan rumah
Mengajarkan Firman Tuhan
Menjalankan usaha atau membantu orang lain mengembangkan usaha atau kemampuan menghasilkan uang
Bekerja dengan orang lain yang lebih tua
Kemampuan dalam olah raga
Membuat orang lain tertawa atau bahagia
Mudah bergaul atau mudah akrab dengan orang lain
Peka terhadap lingkungan atau keadaan orang lain
Mudah dan cepat dalam mengingat / menghafal
…………
.. (dll)
Cara lain untuk mengetahui talenta adalah dengan bantuan orang lain. Cobalah tanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan anda. Mintalah teman anda untuk menyebutkan kemampuan / talenta anda.
Coba pikirkan bagaimana talenta tersebut dapat dipergunakan secara maksimal untuk kemuliaan Tuhan dalam keadaan dan lingkungan anda. (cobalah melihat kesempatan-kesempatan yang ditawarkan kepada anda selama ini !)
Apa yang menjadi alasan yang sering anda pakai untuk tidak menggunakan talenta anda ?
saya memang tidak mempunyai talenta itu
saya lelah
saya takut akan gagal atau …………
Saya tidak bisa seperti si …………
Saya sedang ada halangan / masalah lain
Saya mau menjadi yang terendah
Saya tidak punya waktu
Saya takut dijauhi teman
…………
(dll, sebutkan)
Apa yang anda perlukan untuk memulai mengembangkan talenta anda ?
jaminan dari Tuhan bahwa saya pasti sukses
kepercayaan diri
penyusunan kembali prioritas yang utama
dorongan dari teman-teman
panggilan pribadi dari Tuhan
ketakutan / keberanian
…………
(dll, sebutkan)
Tips :
Yang juga penting dalam hal anda mengembangkan talenta adalah mendoakan apa yang Tuhan sudah berikan dan anda mau mengembangkan semua itu untuk kemuliaan nama Tuhan. Selain itu, gunakan kesempatan yang ada atau yang diberikan kepada anda. Carilah tempat-tempat dimana anda dapat menyalurkan dan mengembangkan talenta anda.
Buruan kesempatan tidak terbatas,temukan isinya dalam kemasan, tidak tersedia di Outlet atau gerai manapun. Saya sudah mendapatkannya secara cuma-cuma. (GIE)

PARADE TATO

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.