Diam Adalah Seni


Diam adalah seni

Bukankah diam adalah perjalanan paling puisi?

Seperti di perjalanan, berdiam tanpa melakukan apapun memerlukan rute, juga waktu, sering juga alasan meski terkadang tanpa tujuan.Dan sunyi! tambahmu.

Bukankah kesunyian adalah perjalanan paling puisi?

Sunyi mampu mendengar denting hati. Seperti malam yang mendengar bunyian. Seperti hening yang membuka jendela jiwa. Seperti di kesenyapan gerak diam, jiwa menemukan dentum iramanya. Demikianlah jalan sunyi mempertemukan dengan kekasih jiwa. Ketika diam adalah puncak rasa, melampaui semua tanda baca dan kata-kata.

Pejamkan mata. Sebab dengan tanpa melakukan apapun, kita membaca semesta. Membiarkannya melingkupi seperti angin seperti udara seperti hampa yang demikian penuh.

Menjadi satu dengan semesta.

Semesta jiwa-ku, mu, dan Nya.

Sebab pernah ada sabda: barang siapa bersatu dengan semesta, maka ia telah memiliki jalan rasa. Jalan yang dilalui dengan kendaraan cinta, menuju rahim jiwa. Ketika pencapaian bukan lagi menjadi akhir, melainkan awal. Demikianlah dikisahkan hikayat pencarian yang paling purba.

Selamat datang di jalan sunyi ini. Seni perjalanan dalam diam yang mengarungi samudera hati, mendaki puncak-puncak kenangan dalam gelembung-gelembung kaca, menyeberangi padang ketika ilalang setia mencintai angin dan musim, membaca peta bintang, memaknai dedaunan yang luruh dan kelahiran embun; sehingga semesta menjadi nafas yang menyanyikanmu rayuan cinta pada kehidupanmu.

Sebab dalam diam dan tidak melakukan apapun, percakapan kita menjadi riuh bergemuruh dan .. sempurna.

Tidak melakukan apapun adalah maha karya seni!

Dan aku hanyalah seorang pejalan sunyi yang menemu damainya berjalan-jalan di jalanmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: