Mendaki Gunung=Peziarahan hidup


Mendaki gunung bukanlah sekedar naik dan turun gunung.

Mendaki gunung membutuhkan modal fisik dan mental. Keduanya tergantung dari jarak, karakteristik gunung dan lamanya pendakian. Modal tersebut juga terpengaruh sebab oleh lokasi gunung baik di dalam maupun luar negeri.

Dalam dunia bisnis modal bisa disebut sebagai investasi dengan perhitungan manfaat, keuntungan materi dan nonmateri dapat menghasilkan suatu kepuasan tersendiri yang disebut Profit.
Secara umum manfaat mendaki gunung adalah demi kesehatan fisik dan kekuatan mental sejalan dengan kalimat pepatah dibalik badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Beberapa orang awam mungkin hanya mengetahui manfaat gunung sebagai sarana memupuk kecintaan pada lingkungan hidup. Namun banyak diantara kita tidak sadar akan pentingnya mendaki. Berikut ini adalah beberapa contoh profit mendaki, antara lain adalah:

a.  Mengajarkan dasar-dasar kerjasama tim (teamwork) dan solidaritas, karena pada dasarnya kegiatan mendaki gunung pasti melibatkan beberapa orang. Andai saja mereka tidak kompak, sulit rasanya membayangkan bahwa tujuan pendakian akan tercapai, paling tidak dengan adanya teamwork yang solid insiden negative bisa diminimalisir.
b. Menumbuhkan kepekaan sosial, minimal dapat menyelami kehidupan sosial masyarakat desa di lereng-lereng gunung yang notabene jauh dari jangkuan keramaian kota. Mungkin dari sinilah timbul kegiatan-kegiatan bakti sosial yang ditujukan untuk membantu penduduk desa di lereng-lereng gunung. Banyak mantan pendaki yang akhirnya juga berkecimpung di dunia Community Development (Pemberdayaan Masyarakat) setelah mereka berkecimpung lama dengan masyarakat desa lereng gunung.
c. Mengembangkan mental tangguh dan berani mengambil keputusan. Kadang-kadang nekad bukan berarti tanpa perhitungan, tapi justru ketika timbul keraguan dalam menjalankan suatu keputusan, maka dibutuhkan kenekadan untuk mengeksekusi. Mendaki gunung ibarat sebuah perziarahan hidup, sekali kita melangkahkan kaki demi tujuan tertentu, kita pantang untuk mundur sebelum tujuan kita tercapai. Kemudian dapat merefleksikan bagaimana perjalanan hidup kita, ada susah, senang, berliku, terjal bahkan terjatuh.
d. Membuka lapangan kerja bagi produsen-produsen peralatan pendakian. Yang satu ini tak diragukan lagi kebenaran faktanya, coba saja bayangkan, produsen tali kernmantel, sudah susah-susah bikin pakai ISO 9002 lagi, berhubung kegiatan mendaki gunung tidak ada, akhirnya cuman buat tali jemuran atau tali sumur. Ada banyak cerita sukses kewirausahaan yang juga dapat ide setelah ikut kegiatan naik gunung, misalnya: jadi produsen tas ransel dengan bikin merek sendiri, dll.
e. Se-ide dengan poin (d.) bahkan produsen barang-barang elektronik juga terkena imbasnya, misalnya: produsen kamera digital, peralatan GPS, dll.
f. Membuka peluang usaha warung, home stay dan porter di desa-desa lereng gunung. Yang satu ini bisa juga disebut pemerataan peluang ekonomi yang juga mendukung sector pariwisata.
g. Sebagai ajang promosi atau penggalangan dana sosial. Ada banyak cerita yang bisa dibaca darinya, kita ambil contoh saja misalnya: suatu yayasan mengadakan kegiatan pendakian ke gunung tertentu dimana hasil dari sponsorship disumbangkan untuk membantu suatu kegiatan social.
h. Dan masih banyak lagi contoh lain yang bisa kita browsing lewat internet.
So, setelah membaca serta menelaah uraian sederhana diatas, ternyata ada manfaat yang bersifat langsung dan tidak langsung. Kalau begitu, kira-kira kedua jenis manfaat tersebut sebanding nggak ya.. dengan biaya yang telah kita keluarkan? Kira-kira naik gunung masihkah hanya bermanfaat sebatas kegiatan olahraga saja?

Mendaki memang melelahkan, tetapi banyak sekali keuntungannya.

ALAM MEMBENTUK JATI DIRI KITA…

Mungkin beberapa di antara kita dalam kesehariannya biasa dibuai dan dimanja dengan berbagai macam pelayanan dan fasilitas yang ada. Ibu menyiapkan masakan dan pakaian untuk kita, dan ayah mencari nafkah, sedangkan kita tinggal menerima dan menikmati pelayanan itu. Namun ketika kita berada dalam hutan belantara, kondisinya bisa berputar seratus delapan puluh derajat. Kita dituntut mandiri dan cekatan, tidak ada pelayan selain diri kita sendiri. Demi tujuan kita, kita tidak bisa menyandarkan diri atau bergantung pada orang lain. Dalam pendakian dapat terlihat jelas karakter asli dari sang pendaki, mana yang mementingkan diri sendiri, ceroboh, penakut, manja, pemalas, bermental tangguh dan mana yang bermental lembut. Semua tipe asli pribadi orang dapat terlihat jelas ketika ia hidup dalam tekanan yang besar, begitu juga dalam pendakian. Dimana kondisinya jauh dari peradaban, tidak ada penolong selain diri kita dan tim. Itulah sebabnya kerjasama tim sangat diperlukan dalam pendakian demi tercapainya tujuan mendaki, yaitu suskes menuju puncak. Kesuksesan dalam pendakian dapat disamakan arti dengan sukses dalam kehidupan. Dimana demi tujuan kita banyak aral rintangan yang menghadang menuntut kesabaran dan ketahanan mental memecahkan permasalahan. Tidak ada kesuksesan tanpa jarih payah, bahkan harus dengan keringat, darah dan air mata.(GIE)

3 Komentar »

  1. lowis Said:

    setuju bro. banyak manfaat yang kita dapat dari naik gunung…

  2. gpnk Said:

    ya bener juga toy….
    lanjutkan toy…
    btw kpn nih naek bareng tapi maklumin ya kl ngerepotin…
    hehehehehehe…

  3. Lukas Said:

    Aku setuju mas!!!

    Aku nak Girinata…

    Hidup pencinta alam


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: