Anak dan Orangtua dalam Lingkungannya


Suatu hari saya menjumpai situasi berikut. Di siang hari seorang anak kecil berusia empat tahun menjerit dalam tangisannya sambil berkata, “Mamah belikan saya buku dan pulpen seperti Mas Itoy, saya mau belajar”. Betapa senang hatiku mendengar seorang anak seusia itu mempunyai keinginan baik seperti itu. Tetapi betapa terkejutnya ketika saya mendengar ibunya menjawab dengan nada kasar,”Nggak, buat apa? Kamu itu masih kecil! Lekas hentikan tangisanmu dan lebih baik kamu tidur! Dan sang anak tidak menghiraukan kata-kata ibunya, malahan tangisannya semakin keras. Kemudian sang ibu kembali melampiaskan amarahnya kepada si anak, “Sudah jangan nangis terus dan tolong ngertiin ibu! Seketika itu saya tersenyum sambil berkata dalam hati, “Hah, anak kecil diminta untuk mengerti orangtua? Orang tua yang aneh, kemudian piriranku berjalan otomatis, “Bagaimana mungkin orangtua lebih menyukai anaknya tidur ketimbang belajar. Memang untuk anak seumur itu pada lazimnya belum saatnya untuk menggunakan buku dan pulpen, tetapi bukankah kemauan anak itu sangat bagus, dia mau memulai maju ketika anak sebayanya belum memiliki niat ke arah itu.

Secuil peristiwa di atas adalah salah satu contoh fenomena sosial yang mungkin sudah lumrah kita saksikan. Di sini saya jumpai kejanggalan: anak itu dituntut untuk menjadi sama dengan  lainnya, anak itu diminta untuk tunduk pada sesuatu yang kelihatannya mapan dan wajar, anak itu sedikit terkekang untuk memulai sesuatu yang menurutku sangat bagus dan yang memprihatinkan adalah si anak diminta untuk sesuatu yang tidak mungkin, yaitu diminta untuk mengerti jalan pikir orang tua. Mana mungkin anak kecil mengerti jalan pikir orang tua, sedangkan si anak belum pernah menjadi orang tua, justru sebaliknya orangtualah yang harusnya mengerti jalan pikir anaknya, karena orang tua pernah menjadi anak kecil, orangtua tahu bagaimana rasanya menjadi anak kecil yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan akan meniru apa yang dia lihat di depannya.

Keesokan harinya tepat pada jam yang sama dimana pada saat itu dia terbiasa tidur siang sesuai dengan jadwal kesehariannya, si anak menghampiri saya sambil membawa secarik kertas dan secuil arang serta meminta saya untuk mengajarkan bagaimana caranya menggambar dan menulis. Saya semakin bangga dengan anak ini, kemauannya yang besar untuk maju itu tidak dapat dihentikan orang tuanya, memang si anak memiliki kedekatan dengan saya, kesehariannya banyak dilewati bersama saya dimana dia melampiaskan tangis dan tawanya padaku. Kutularkan sedikit pikiranku dan seringkali kucekoki dengan kata-kata ini, “Kalau disuruh mamah untuk tidur siang, jangan mau yah, lebih baik kamu bermain atau belajar apapun yang kamu suka”, “Tidur siang itu membuang-buang waktu dan itu sebenarnya hal yang kurang baik”. “Kalau nanti ibumu marah dan berkata, siapa yang mengajarkan kamu berkata seperti itu? Kamu harus menjawabnya dengan bangga, mas Itoy! Seringkali orangtuanya menegurku dengan nada bercanda, jangan kamu tiru orang gila itu! Kamu mau patuh pada siapa mas Itoy atau orangtuamu? Dan mereka juga berkata “Mas Itoy anak saya jangan diajarkan yang aneh-aneh lagi yah” Dan saya hanya menjawab, “Yang aneh itu kalian , anak kecil punya pikiran bagus kok dihalang-halangi” dan saya teruskan “Jangan dengarkan siapa yang bicara tetapi dengarkan apa yang dikatakan”. Inilah salah satu budaya kita yang senang mendengar dan kagum ketika yang berbicara adalah tokoh terkenal, disegani dan memiliki popularitas tinggi, dibanding mendengarkan apa yang baik tanpa melihat siapa yang berbicara. Kita terjebak dengan warisan penjajah yang dinamakan feodalisme, terkurung dengan pembodohan yang sebenarnya kita tidak sadar bahwa kita berada di dalam lingkaran itu.

Setelah melalui komunikasi dua arah dan kuberikan sedikit pengertian kepada mereka tanpa niat untuk mengguruinya, mereka akhirnya mengerti dan mau setuju dengan pemahaman saya bahwa niat saya dan si anak itu baik, dan saya tidak bermaksud mendahului peran mereka sebagai orangtua. Saya hanya mencoba meluruskan apa yang dibuat mereka kurang tepat.

Setelah beberapa tahun saya tidak pernah berjumpa lagi dengan anak itu. Saya hanya mendengarkan kabarnya dari para tetangga. Kabar baiknya si anak selalu menjadi juara kelas dan senang sekali menyibukkan dirinya dengan menggambar, dari kesibukannya itu dia sering menjuarai lomba menggambar antar sekolah. Dan kabar buruknya adalah orangtua mereka kewalahan setengah mati untuk mengendalikannya karena si anak tumbuh menjadi anak yang keingintahuannya sangat berlebih,kreatif dan kritis sekali. Si anak sering menghujani pertanyaan-pertanyaan aneh seperti, “Kenapa sich mama dan papah nggak seperti mas Itoy, baik, pintar dan mengerti saya, mas Itoy bisa melakukan apa saja yang saya mau, mas Itoy nggak pernah marahin saya. Dan dia pernah membandingkan orangtuanya dan saya dalam lukisan, saya digambarkan seperti malaikat dan orangtuanya digambarkan dengan dua tanduk di kepalanya. Ketika bertemu saya bertanya, “Mengapa kamu bisa menggambarkan kedua orangtuamu seperti itu? Dan dia menjawab, “Mereka sering berkelahi dan sering mengajarkan kalau dipukul teman, kita harus membalasnya, suatu waktu saya sedang dalam penyaringan lomba menggambar di sekolah untuk pemilihan peserta yang mewakili Jakarta Timur, kemudian dalam acara itu ada seorang anak yang jahil mencoret lukisan saya, spontan kepalan tangan saya mendarat tepat di pipinya, hal itu diketahui oleh panitia, dan mereka mendiskualifikasi saya karena perbuatan saya itu”. Dan akhirnya si anak menyesali perbuatannya, si anak tahu bahwa sifat buruknya itu dapat menghambat prestasinya dan dia sangat menyalahkan orang tuanya.

Tekanan menjadi orang tua

Salah satu sumber kecemasan orangtua adalah pemikiran bahwa anak-anak mereka tidak begitu patuh dan berbakti. Mereka khawatir anak mereka akan mengabaikan mereka pada usia senja nanti. Mereka juga takut bahwa anak-anak itu akan membawa malu dan keresahan di tengah keluarga akibat tingkah laku yang mencemarkan nama baik keluarga. Biasanya cinta orang tua lebih besar dari cinta anak. Orang tidak bisa mengharapkan anak yang belum dewasa dan perpengalaman untuk menjadi berbakti dan mengasihi seperti orangtua mereka. Mereka belum menyadari nilai-nilai menjadi orangtua.

Ada beberapa kasus di mana orang tua telah memberikan yang terbaik dalam mendidik anaknya dan mengajarkan pada mereka nilai-nilai kebajikan, tapi semua usaha ini seperti sia-sia terhempas angin akibat sifat pembangkang dan keras kepala anaknya. Memang ada anak nakal berasal dari keluarga yang baik-baik. Dalam kasus seperti ini, orang tua tidak perlu bersedih karena mereka telah melakukan kewajiban sebagai orangtua. Orangtua mesti mengembangkan pengertian untuk mengubah apa yang mereka bisa ubah dan menerima apa yang tidak bisa mereka rubah.

Kahlil Gibran telah menggoreskan penanya untuk direnungkan para orang tua mengenai siapakah anak-anak mereka itu:

Anak-anakmu adalah bukan anak-anakmu

Mereka adalah putera-puteri kehidupan

Yang merindukan dirinya sendiri

Mereka datang melaluimu, namun tidak darimu

Meskipun mereka bersamamu

Mereka bukanlah milikmu

Engkau boleh memberikan cintamu pada mereka

Tapi tidak pemikiranmu

Karena mereka memiliki pemikiran mereka sendiri

Engkau boleh berusaha menyamai mereka

Namun janganlah berusaha membuat mereka sama denganmu

Beberapa orangtua menuntut banyak dari anak-anak mereka yang telah berkeluarga, yang mempunyai masalah mereka sendiri dan menanggung tekanan yang cukup berat dalam masyarakat. Jika orang tua mengeluh tentang anaknya yang tidak tahu berterima kasih, hal itu cuma akan makin menjauhkan  mereka akibat rasa malu dan bersalah. Tapi jika orang tua mengembangkan nilai-nilai keseimbangan batin, mereka akan tetap tenang dan tidak menuntut macam-macam dari anak-anaknya. Ini akan membawa rasa kedekatan dan pengertian yang lebih besar antara orangtua dan anak, dan menciptakan kesatuan yang diidamkan dalam keluarga.

Jika kita menginginkan si anak untuk tumbuh dalam jalinan cinta dan kasih. Orang tua harus berhati-hati jika mereka ingin berbuat sesuatu di hadapan anak mereka. Syair berikut berisikan beberapa petunjuk praktis seni membesarkan anak.

Jika anak hidup dengan saling pengetian

Ia belajar menjadi sabar

Jika anak hidup dengan dorongan

Ia belajar percaya diri

Jika anak hidup dengan pujian

Ia belajar menghargai

Jika anak hidup dengan keadilan

Ia belajar menjadi adil

Jika anak hidup dalam rasa aman

Ia belajar memiliki keyakinan

Jika anak hidup dalam dukungan

Ia belajar menyukai dirinya sendiri

Jika anak diterima dan hidup dalam persahabatan

Ia belajar menemukan cinta di dunia (GIE)

1 Komentar »

  1. Didik Said:

    Interest skali wacana yang ditumpahkan dalam blog ini. Sempat bergumam diri ini, btapa nyentuhnya kisah ini, seraya terjun dlm alur cerita yg dipaparkan. Dlm kehidupan nyata, seperti yg telah diungkapkan dalam cerita di atas. Banyak.. Bahkan sering.. Entah bahasa apa yg pantas utk mengungkapkannya. Terlalu sering orang tua meminta anak agar dpt menjadi org yg berguna. Namun, disisi lain sang anak mati terperangkap dlm aturan orang tua. Si anak tentu berontak mengikuti pola pikir keinginannya.. Tapi orangtua tetap dgn aturannya, agar si anak mengikuti apa yang dititahnya. Akhirnya.. Hal yg tak diinginkan pun terjadi. Pergaulan bebas, narkoba, sakit, bahkan kematian. Wacana yg di paparkan oleh itoy dan sair diatas rasanya perlu diterapkan oleh orangtua saat ini.. Terutama bagi mereka yg sibuk atas kariernya. Satu pesan dr saya utk orangtua, jangan lampiaskan pengalaman hidup masa lampau kepada anak utk dikerjakan dan disamakan. Teruskan wacana ini kawan… Luar biasa..


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: