HIDUP TANPA EMPATI ADALAH MENTAL PEMERKOSA DAN BAKAT MORAL SOSIOPAT


Roy terlibat suatu kejahatan keji, dia sebagai pemain belakang tim Futsal Spartan, Roy telah menyewa tukang-tukang pukul untuk menyerang dan mencederai Itoy Caballero, saingan terberat tim Spartan dalam memperebutkan medali emas kompetisi Futsal seJabodetabek. Dalam serangan itu, lutut Itoy dipukuli sehingga ia tidak bisa berlatih dan beraktifitas seperti biasanya selama berbulan-bulan. Tetapi ketika melihat tayangan televisi yang menampilkan Itoy menangis terisak-isak, Roy diserang rasa sesal yang mendadak dan memaparkan rahasianya kepada temannya, yang pada akhirnya memulai serentetan peristiwa penangkapan para penyerang Itoy. Begitu hebatnya daya empati.

Tetapi biasanya dan tragisnya empati tidak ditemukan pada orang-orang yang melakukan kejahatan-kejahatan paling sadis. Suatu cacat psikologis yang pada umumnya ditemukan pada pemerkosa, pemerkosa anak-anak dan banyak pelaku tindakan kejahatan rumah tangga, mereka tidak mampu berempati. Ketidakmampuan untuk merasakan penderitaan korbannya memungkinkan mereka melontarkan kebohongan-kebohongan kepada diri mereka sendiri sebagai pembenaran atas suatu kejahatannya. Bagi pemerkosa, kebohongan itu termasuk “Wanita itu sebetulnya ingin diperkosa” atau “Apabila melawan, dia hanya berpura-pura tidak mau”; bagi pemerkosa anak-anak , “Saya tidak memukulnya, tetapi sekedar menunjukkan rasa sayang” atau “Ini hanyalah bentuk lain dari rasa sayang”; bagi orang tua yang suka menghajar secara fisik, “Inilah cara mendisiplinkan anak-anak”. Pembenaran diri ini dikumpulkan dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang sedang menjalani pengobatan untuk masalah seperti ini. Kalimat-kalimat pembenaran tersebut mereka tunjukan pada mereka sendiri sewaktu menghajar korbannya atau ketika bersiap-siap melakukannya.

Hilangnya empati sewaktu orang-orang ini melakukan kejahatan pada korbannya hampir senantiasa merupakan bagian dari siklus emosional yang mempercepat tindakan kejam mereka. Amatilah urutan emosional yang biasanya mendorong ke arah kejahatan seks seperti pemerkosaan anak-anak. Siklus ini dimulai ketika si pemerkosa merasa tidak nyaman, marah, depresi atau kesepian. Si pemerkosa kemudian menghibur diri dengan mengkhayalkan sesuatu yang digemarinya, umumnya persahabatan yang hangat dengan seorang anak kecil; khayalannya kemudian bersifat seksual dan diakhiri dengan bermasturbasi. Sesudahnya, si pemerkosa merasa untuk sementara terbebas dari kesedihannya, tetapi itu hanya berlangsung singkat, depresi dan kesepian datang kembali, bahkan semakin kuat. Pemerkosa mulai berfikir untuk mewujudkan khayalannya, mengajukan pembenaran-pembenaran atas tindakannya seperti “Saya tidak betul-betul menyakiti seandainya anak itu tidak terluka secara fisik”dan “Apabila seorang anak betul-betul tidak ingin berhubungan badan dengan saya, ia dapat menolaknya”.Pada tahap ini si pemerkosa melihat si anak kecil melalui kacamata khayali yang menyimpang, bukan dengan empati terhadap apa yang sebenarnya akan dirasakan oleh si anak pada keadaan tersebut. Kesenjangan emosional itu memberi ciri terhadap semua tindakan susulan, mulai dari rencana untuk memastikan bahwa si anak sedang sendirian ketika ditangkap, hingga mengira-ngira dengan cermat apa yang mungkin akan terjadi, dan kemudian melaksanakan rencana tersebut. Semua ini direncanakan seolah-olah anak yang terlibat tidak memiliki perasaan sendiri; si pemerkosa bahkan memproyeksikan adanya sikap kerja sama si anak dalam khayalannya.Perasaan si anak berontak, takut dan jijik. Seandainya perasaan-perasaan tadi terdata, akan “hancur”lah segala sesuatu bagi si pemerkosa.

Tiadanya empati samasekali terhadap korbannya merupakan salah satu fokus utama pengobatan-pengobatan baru yang sedang disusun bagi pemerkosa anak-anak dan pelaku kejahatan semacam itu. Dalam salah satu program penyembuhan yang paling menjanjikan, para pelaku kejahatan mereka sendiri, dikisahkan dari sudut pandang korban. Mereka juga disuguhkan tontonan video korban-korban yang dengan terisak-isak menceritakan bagaimana rasanya diperkosa. Mereka kemudian menulis tentang tindak kejahatannya sendiri dari titik pandang korban, membayangkan apa yang dirasakan si korban. Mereka membacakan kisah ini di depan kelompok terapi, dan mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang serangan tersebut dari persepsi korban. Yang terakhir, pelaku kejahatan itu menjalani simulasi rekontruksi kejahatan itu, kali ini ia berperan sebagai korban.

William Pithers, psikologi penjara Vermont yang mengembangkan terapi pengambilan perspektif ini, berkata, “Empati terhadap korban akan mengubah persepsi sedemikian rupa sehingga penyangkalan derita si korban, bahkan dalam khayalan, menjadi sulit” dan dengan demikian memperkuat motivasi orang-orang itu untuk melawan dorongan seksual mereka yang menyimpang. Pada pelaku kejahatan seks yang telah menjalani program ini di penjara, jumlah pelanggaran yang dilakukan nya setelah dibebaskan hanya separo yang dilakukkan orang-orang yang tidak menjalani terapi semacam itu. Tanpa motivasi awal yang diilhami oleh empati, tak satu pun pengobatan lain dapat berhasil.

Meskipun barangkali terdapat setitik harapan untuk menghidupkan empati dalam diri pelaku kejahatan seperti pemerkosa anak-anak, harapan tersebut jauh lebih kecil bagi jenis pelaku kejahatan lain, misalnya psikopat (akhir-akhir ini disebut sosiopat oleh para psikiater). Psikopat terkenal kejam karena tidak sedikitpun merasakan sesal atas perbuatannya, bahkan untuk tindakan-tindakan yang paling keji dan paling tak berperasaan. Psikopati, yaitu ketidakmampuan untuk merasakan empati atau belaskasihan dalam bentuk apapun, atau sentuhan nurani paling tipis sekalipun, merupakan salah satu dari cacat emosional yang sangat membingungkan. Permasalahannya tak berperasaannya psikopat tampaknya terletak pada ketidakmampuannya untuk menjalin hubungan emosi, selain hubungan yang paling dangkal. Penjahat-penjahat yang paling kejam, seperti pembunuh sadis berantai yang menikmati penderitaan korban-korbannya sebelum korban-korban itu tewas, merupakan contoh utama psikopati.

Psikopat juga pembohong yang lihai, bersedia mengatakan apa saja untuk mendapatkan yang dikehendakinya, dan mereka mempermainkan emosi korbannya dengan sinisme yang sama. Tentu saja dalam tingkah laku yang kompleks seperti tindak kejahatan, ada banyak penjelasan masuk akal yang tidak berbasiskan biologis. Salah satunya barangkali jenis keterampilan emosional yang menyimpang, mengintimidasikan orang lain, mempunyai nilai kelangsungan hidup dalam lingkungan yang kejam, namun juga dapat berubah manjadi bekal melakukan tindak kejahatan, dalam kasus-kasus ini, empati yang terlampau besar dapat menjadi sikap kontraproduktif. Sesungguhnya, sikap tanpa empati yang bersifat oportunistik barangkali merupakan “kebajikan” dalam banyak sisi kehidupan, mulai dari polisi yang menginterogasi dengan “kasar” hingga koruptor. Orang yang pernah menjadi tukang pukul untuk negara-negara teroris, misalnya, melukiskan bagaimana mereka belajar melepaskan diri dari perasaan korban-korbannya agar dapat melaksanakan “pekerjaan”nya. Ada banyak jalan menuju sikap manipulatif.

Salah satu model yang sangat tidak menyenangkan di mana ketiadaan empati dapat menampakan diri telah ditemukan secara tak disengaja dalam suatu studi terhadap para penyiksa istri yang paling sadis. Penelitian mengungkapkan adanya cacat fisiologis pada suami-suami yang paling kejam, yang secara teratur memukuli istri yang paling sadis. Penelitian itu mengungkapkan adanya cacat fisiologis pada suami-suami yang kejam, yang secara teratur memukuli istrinya atau mengancam dengan senjata. Para suami itu melakukannya dalam keadaan sadar dan penuh perhitungan bukannya sedang hanyut oleh panasnya amarah. Sewaktu amarah mereka meningkat, keanehan itu muncul, laju detak jantung menurun, bukannya menaik, seperti yang biasanya terjadi bila tenang, bahkan sewaktu mereka semakin berang dan kejam. Kekejaman mereka tampaknya merupakan tindak terorisme yang penuh perhitungan, suatu metode untuk mengendalikan istri mereka dengan membangkitkan rasa takut.

Suami-suami yang berdarah dingin ini merupakan jenis yang berbeda dari kebanyakan pria lain yang memukuli istrinya. Misalnya, mereka itu juga jauh lebih mungkin bertindak secara kejam di luar perkawinan, berkelahi di bar dan bentrok dengan rekan kerja dan anggota keluarga lainnya. Dan, bila sebagian besar pria yang kejam terhadap istri mereka melakukannya karena dorongan pria yang kejam terhadap istri mereka melakukannya karena dorongan hati, karena marah setelah merasa ditolak atau cemburu, atau karena rasa takut ditinggalkan, maka penyiksa yang penuh perhitungan tampaknya menghajar istrinya tanpa alasan sama sekali dan setelah mereka mulai, apa pun yang dilakukan istrinya, termasuk berusaha untuk lari, tampaknya tidak menghentikan kekejaman mereka.2709287689_b7966aea00

Sejumlah peneliti yang mempelajari psikopat kriminal menduga bahwa sikap manipulatif yang tak berperasaan itu, seperti tiadanya empati atau belas kasihan, kadang-kadang dapat berasal dari adanya cacat saraf. Basis fisiologis yang mungkin akan psikopatik yang tak berperasaan itu timbul dalam dua jenis, keduanya memperlihatkan terlibatnya jalur saraf menuju otak limbik. Yang pertama, gelombang otak manusia diukur sewaktu mereka berusaha untuk menguraikan kata-kata yang telah diacak. Kata-kata itu ditayangkan dengan sangat cepat, kurang lebih hanya selama sepersepuluh detik. Reaksi sebagian besar orang akan berbeda terhadap kata-kata emosional seperti membunuh daripada kata-kata netral seperti kursi, mereka dapat lebih cepat memutuskan jika kata emosional yang diacak, dan otak mereka memperlihatkan suatu pola gelombang khas sebagai respon terhadap kata-kata emosional tadi, tetapi tidak terhadap kata-kata yang netral. Tetapi, psikopat tidak memberi respon pada keduanya, otak mereka tidak memperlihatkan pola khas dalam merespon kata-kata emosional, dan mereka pun tidak memberi respon yang lebih cepat terhadap kata-kata itu. Hal ini menyiratkan rusaknya sirkuit-sirkuit antara korteks verbal, yang mengenali kata tersebut, dengan otak limbik yang memberi makna. Dan karena mereka sendiri tidak merasa takut, mereka tidak mempunyai empati atau belaskasihan terhadap rasa takut dan kepedihan korbannya.

Pertanyaan di sini, apakah kita masih memiliki rasa empati setelah kita melakukan kejahatan? Kalau saja ada di antara kita tidak mampu berempati setelah kita melakukan tindak kejahatan berat, berarti saya ucapkan selamat, “kejiwaan anda sakit”. (GIE)

Sumber:

  • Pikiran negatif dan nilai tes:John Hunsley, “Internal Dialogue During Academic Examinations”, Cognitive Therapy and Research (1987)
  • Para internis yang mendapat hadiah gula-gula: Alice Isen et al., “The Influence of Positive Affect on Clinical Problem Solving”Medical Decision Making (1991)
  • Harapan dan nilai buruk: C.R. Snyder et al., “The Will and the Ways:Development and Validation of Individual-Difference Measures of Hope”, Journal of Personality and Social Psychology (1994)
  • Perenang yang Optimis: Martin Seligman, Learn Optimism (1991)

1 Komentar »

  1. carilover Said:

    blog yang edukatif…


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: