Emotional Intelliegence


Siapapun bisa, marah-marah itu mudah. Tetapi marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar dan dengan cara yang baik bukanlah hal yang mudah.
Aristoteles, The Nicomachean Ethics

Apakah IQ merupakan takdir? Ternyata tidak sebagaimana yang lumrah kita pikirkan. Buku Daniel Goleman yang mengagumkan dan persuasife berpendapat bahwa pandangan kita tentang kecerdasan manusia itu terlampau sempit, mengabaikan serangkaian penting kemampuan yang sangat besar pengaruhnya dalam menentukan keberhasilan kita dalam kehidupan.

Dengan memanfaatkan penelitian yang menggemparkan tantang otak dan perilaku, Goleman memperlihatkan faktor-faktor yang terkait mengapa orang yang ber-IQ tinggi gagal dan orang yang ber-IQ sedang-sedang saja menjadi orang sukses. Faktor-faktor ini mengacu pada suatu cara lain untuk menjadi cerdas-cara yang disebutnya “kecerdasan emosional”. Kecerdasan emosional mencangkup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati dan kecakapan sosial.

Ini merupakan ciri-ciri yang menandai orang-orang yang menonjol dalam kehidupan nyata: yang memiliki hubungan yang dekat dan hangat, yang menjadi bintang di tempat kerjanya. Ini juga merupakan ciri utama dari karakter dan disiplin diri, altruisme dan belas kasih yang mana adalah kebutuhan dasar bila kita hendak menciptakan masyarakat yang sejahtera.

Sebagaimana ditunjukan oleh Goleman, kerugian pribadi akibat rendahnya kecerdasan emosional dapat berkisar mulai dari kesulitan perkawinan dan mendidik anak hingga ke buruknya kesehatan jasmani. Penelitian baru memperlihatkan bahwa amarah dan kecemasan kronis dapat menciptakan resiko besar bagi kesehatan seperti halnya merokok. Rendahnya kecerdasan emosional dapat menghambat kecerdasan intelektual dan menghancurkan karir. Barangkali kerugian besar diderita oleh anak-anak yang mungkin dapat terjerumus dalam jurang depresi, ganguan makan dan kehamilan yang tidak diinginkan, agresifitas serta kejahatan dengan kekerasan.

Tetapi yang menggembirakan adalah kecerdasan emosional tidaklah ditentukan sejak lahir. Argumen Goleman didasarkan pada sintesis orisinil dari penelitian terbaru, termasuk pengetahuan baru mengenai arsitektur otak yang yang melandasi emosi dan dan rasionalitas. Dengan cermat ia memperlihatkan bagaimana kecerdasan emosional dapat dipupuk dan diperkuat dalam diri kita semua.

IQ dan EQ bukanlah keterampilan yang bertentangan, melainkan keterampilan yang sedikit terpisah. Kita semua banyak mencampurkan ketajaman akal dan ketajaman emosi. Sungguh ada korelasi antara IQ dan beberapa aspek kecerdasan emosional, meskipun korelasi itu cukup kecil sehingga kedua hal itu pada umumnya adalah hal yang terpisah.
Berbeda dengan tes IQ yang sudah lama kita kenal, sampai sekarang belum ada tes tertulis tunggal yang menghasilkan nilai kecerdasan emosional dan barangkali tak pernah akan ada tes semacam itu. Meskipun ada banyak penelitian mengenai beberapa komponennya, di antaranya adalah empati, paling banter diuji dengan mengambil contoh kemampuan actual seseorang sewaktu mengerjakan tugas, misalnya dengan menyuruh mereka membaca perasaan seseorang dari ekspresi wajah yang direkam melalui pita video. Namun dengan menggunakan patokan bagi apa yang disebut “resiliensi ego” yang agak mirip dengan kecerdasan emosi (resiliensi ego mencakup keterampilan sosial dan dan emosinal), Jack Block seorang ahli psikologi pada University of California Berkeley, telah membuat suatu perbandingan antara dua tipe murni teoritis: orang ber-IQ tinggi lawan orang berkecakapan emosional tinggi. Dan perbedaannya sangatlah menarik.

  1. Tipe murni IQ tinggi (mengesampingkan kecerdasan emosional) hampir merupakan karikatur kaum intelektual, terampil di dunia pemikiran tetapi canggung di dunia pribadi. Profil-profilnya sedikit berbeda untuk pria dan kaum wanita. Pria ber-IQ tinggi bercirikan berkemampuan luas dan minat inteltualnya tinggi. Penuh ambisi dan produktif, tekun dan tidak dirisaukan tentang urusan-urusan tentang dirinya sendiri. Cenderung bersikap kritis dan meremehkan, pilih-pilih dan malu-malu, kurang menikmati seksualitas dan pengalaman sensual, kurang ekspresif dan menjaga jarak dan secara emosional membosankan dan dingin.
  2. Sebaliknya kaum pria yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi secara sosial mantap, mudah bergaul dan jenaka, tidak mudah takut dan gelisah. Mereka berkemampuan besar untuk melibatkan diri dengan orang-orang atau permasalahan, untuk memikul tanggung jawab dan memikul tanggung jawab dan mempunyai tanggung jawab moral; mereka simpatik dan hangat dalam hubungan-hubungan mereka. Kehidupan emosional mereka kaya tetapi wajar; mereka merasa nyaman dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dunia pergaulannya.
  3. Kaum wanita yang semata-mata ber-IQ tinggi mempunyai keyakinan intelektual yang tinggi, lancer mengungkapkan gagasan, menghargai masalah-masalah intelektual, dan mempunyai minat intelektual dan estetika yang amat luas. Mereka juga cenderung mawas diri, mudah cemas, gelisah dan merasa bersalah dan ragu-ragu akan mengungkapkan kemarahan secara terbuka.
  4. Dan sebaliknya kaum wanita yang cerdas secara emosional cenderung bersikap tegas dan mengungkapkan seseorang secara langsung, dan memandang dirinya sendiri secara positif, kehidupan memberi makna bagi mereka. Sebagaimana kaum pria mereka mudah bergaul dan ramah, serta mengungkapkan perasaan mereka dalam keadaan yang wajar; mereka mampu menyesuaikan diri dengan stress. Kemantapan pergaulan mereka membuat mereka mudah menerima orang baru; mereka cukup nyaman dengan dirinya sendiri sehingga selalu ceria, spontan dan selalu terbuka dalam pengalaman sensual. Berbeda dengan wanita yang semata-mata ber-IQ tinggi, mereka jarang merasa cemas atau bersalah atau tenggelam dalam kemurungan.

Tentu saja gambaran tersebut merupakan gambaran ekstrem, kita semua memiliki campuran kecerdasan IQ dan EQ dengan kadar yang berbeda-beda. Tetapi, gambaran ini menyajikan suatu pandangan intruktif tentang apa yang ditambahkan secara terpisah oleh masing-masing dimensi ini terhadap ciri seseorang. Sejauh seseorang sekaligus mempunyai kecerdasan kognitif maupun emosional, gambaran-gambaran ini berbaur. Namun di antara keduanya, kecerdasan emosional menambahkan jauh lebih banyak sifat-sifat yang membuat kita menjadi lebih manusiawi.(GIE)

Disadur dari Emotional Intelligence karangan Daniel Goleman,Ph.D

1 Komentar »

  1. donaltelo Said:

    memang di Indonesia belum ada badan yang mampu menguji kecerdasan emosional. KIta ketinggalan jauh dari bangsa lain. Blog ini berguna sekali dilengkapi referensi bukunya juga.


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: