Struktur Puisi Ibrani


Struktur-struktur Retorik Narasi Ibrani

Pola-pola struktural khusus yang sering ditemukan dalam narasi Ibrani adalah: pengulangan (repetition), pararelisme (parallelism), Kiasme (Chiasm), dan pencantuman (inclusion).

Pengulangan (Repetition)
Pengulangan merupakan perlengkapan kesayangan di dalam narasi Ibrani. Pengulangan bergerak dari pengulangan kata-kata kepada pengulangan seluruh percakapan (dialog). Alter menyebutkan bahwa pengulangan tidak hanya pada kata-kata kunci (key words) tetapi juga pada motif-motif, pada tema-tema, dan pada urutan daripada tindakan sebagaimana “tiga perwira dan anak buahnya diancam dengan api dari langit di dalam 2 Raja-raja 1”
Pengulangan dapat juga bermanfaat untuk suatu tujuan lain dari pada menuntun pendengar kepada arti dari narasi itu. Dengan event-event narasi yang berperan bersamaan, teknik dari resumptive repetition bermanfaat mengembalikan pendengar kepada point mula-mula dari cerita itu setelah diikuti sebuah cabang untuk sementara waktu. Contoh, berdasarkan I Samuel 19:12, “Mikhal menurunkan Daud dari jendela, ia (Daud) melarikan diri dan luputlah ia” Pembaca tetap dengan Mikhal dan pertemuan antara dia dengan orang-orang Saul. Tetapi sementara itu Daud telah melarikan diri, sebagaimana dalam 19:18 “Setelah Daud melarikan diri dan luput.”

Pencantuman (Inclusion)
Pencantuman merupakan bentuk khusus dari pengulangan ditemukan juga dalam narasi Ibrani, Contoh, Ulangan 1:1 dan 29:1 (Lebih tepat 28:69). Pencantuman menandai batas-batas dari sebuah unit literatur dengan mengulang pada bagian akhir kata-kata dan frase-frase dari bagian awal. Karena pendengar yang menerima narasi melalui pendengaran (dibacakan, tidak membaca), pencantuman memberi isyarat akhir dari narasi dan mungkin mengulangi pernyataan (pesan) dengan mengingatkan pendengar dari pernyataan pembukaan.

Kiasme (Chiasm)
Welch menyebut kiasme “suatu prinsip penataan/pengurutan/penyusunan yang penting, tidak hanya pada ayat-ayat dan kalimat-kalimat, tetapi juga di dalam dan sepanjang keseluruhan kitab.” Karena kiasme adalah bentuk yang rumit dari pengulangan, petunjuk untuk mengidentifikasi kiasme adalah pengulangan. “Dimana pengulangan itu sering,……penganalisa harus akhirnya bertanya jika narasi telah dikontruksikan dengan sebuah arsitektur kiastik; jika narasi menunjukkan pengulangan, adakah itu juga menunjukkan kebutuhan inversion (kebalikan), balance (seimbang), dan berpusat pada klimak?”
Pola-pola kiastik dapat ditemukan dalam dialog sebagaimana dalam adegan. Bar-Efrat menyodorkan contoh yang baik dari kiasme di dalam sebuah dialog (percakapan) di dalam analisanya terhadap percakapan Husai (2 Samuel 17:8-13). Struktur kiastik untuk setiap separoh pembicaraan, dua bagian dihubungkan pada bagian tengah (X):
A Engkau tahu ayahmu dan orang-orangnya, bahwa merekalah pahlawan dan sakit hati,
B Seperti beruang yang kehilangan anaknya di padang,
C Dan ayahmu ahli di dalam perang dan dia tidak akan melewati malam bersama dengan rakyat.
X Tentulah ia sekarang bersembunyi dalam satu lobang atau di salah satu tempat.
C’ Dan ketika beberapa dari mereka akan kalah pada awal peperangan, semua yang mendengar itu akan berkata: “Ada pembantaian diantara rakyat yang mengikuti Absalom.”
B’ Kemudian meskipun seorang gagah perkasa, yang mempunyai hati seperti hati singa, akan meleleh sama sekali.
A’ Karena seluruh Israel tahu bahwa ayahmu adalah pahlawan dan gagah perkasa orang bersamanya.
D Biarlah seluruh Israel semuanya terkumpul (gathered) bersamamu, dari Dan hingga Bersyeba.
E Seperti pasir di tepi laut banyaknya; dan kamu sendiri pergi ke pertempuran.
X’ Dan kita akan mendatangi dia di salah satu tempat dimana dia ditemui,
E’ Dan kita akan menyergapnya seperti embun jatuh ke bumi; dan dia serta orang-orang yang menyertainya tidak ada yang tertinggal.
D’ Dan jika ia terkumpul (gathered) pada sebuah kota, seluruh Israel akan mengikat kota itu dengan tali dan kita akan menyeretnya sampai ke sungai, hingga batu kecilpun tidak terdapat lagi di sana.
Fokkelman menyodorkan contoh yang baik dari kiasme di dalam adegan pada kejadian 25:20-26, adegan pertama dari toledoth dari Ishak.
A Ishak berumur 40 tahun ketika mengambil Ribka menjadi isterinya. ay. 20
B Ribka mandul; Doanya dikabulkan ay. 20/21
C Istrinya, Ribka, mengandung ay. 21
Anak-anaknya bertolak-tolakan dalam rahimnya ay. 22
D Ribka meminta sebuah PETUNJUK (an oracle) ay. 22
D’ Yahweh memberikannya sebuah PETUNJUK (an oracle) ay. 23
C’ Hari untuk bersalin telah tiba ay. 24
Ternyata kembar ada dalam rahimnya ay. 24
B’ kelahiran dan rupa Yakub dan Esau ay. 25, 26a
A’ Ishak berumur 60 tahun ketika Ribka melahirkan anak-anaknya ay. 26b
Fokkelman mengakui bahwa struktur kiastik disini “tidak mesti demikian,…….namun struktur pesan ini mengungkapkan apa yang menjadi inti maslah di dalam Kejadian 25:19-26, yaitu yang menjadi sentral dari komposisi kesimetrisan, D + D’. PETUNJUK merupakan sentral.” Pengkotbah mungkin tergoda menggunakan bagian ini bagi kotbah mengenai “Jawaban Doa,” atau “Kesabaran Ishak,” atau “Keibuan.” Tetapi struktur daripada adegan menfokuskan pada Firman Tuhan: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.” Struktur ini, oleh karena itu, menunjukkan bahwa “bukan menguji Ishak terhadap penungguan dan jawaban dari doa yang terdapat dalam plot, tetapi secara keseluruhan pada kelahiran anak-naknya [dan implikasi dari petunjuk itu] merupakan point utamanya.”
Contoh terakhir ini khusus menunjukkan arti dari pengenalan struktur kiastik. Ini tidak hanya memberi penghargaan yang sungguh besar bagi narasi Ibrani sebagai literatur, tetapi juga membantu menggambarkan unit literary menjadi berguna seperti mengkotbahkan teks dan mencegah kesalahan-penafsiran dengan memusatkan pada thema dari perikop.
Stereotyped Patterns
Kadang-kadang struktur dari kitab-kitab Perjanjian Lama berpola stereotyped, seperti pola yang kita kenal dalam kitab Hakim-hakim:
A. Israel berlaku jahat di mata Yahweh.
B. Yahweh menyerahkan mereka kepada penindas.
C. Israel berseru kepada Yahweh.
C’. Yahweh membangkitkan seorang pembebas bagi Israel.
B’. Yahweh menyerahkan penindas kepada pembebas tersebut.
A’. Tanah Israel aman.
Penulis kitab Raja-raja menggunakan “Kerangka stereotyped. . . . untuk membuka dan mengakhiri bahan yang disajikan bagi suatu fakta pemerintahan raja.”
A. Introductory framework
1. Royal name and accession date. . .
2 King’s age at accession (Judah only)
3. Lenght and place of reign
4. Name of queen mother (Judah only)
5. Theological appraisal
B. Events during the reign. . . .
C. Concluding framework
1. Formula citing other sources of regnal information
2. Notices of death and burial
3. Notice of a successor.
Level-level Struktural
Bar-Efrat memberi kesan bahwa struktur dapat dideteksi pada empat level-level yang berbeda: (1) level verbal; (2) level narrative technique ( teknik penceritaan); (3) level narrative world; dan (4) level conceptual content (isi secara konsep).
Level verbal, contohnya, pengulangan kata-kata “And there was evening and there was morning” membagi cerita penciptaan mula-mula kedalam tujuh seksi yang ditandai dengan jelas.
Level narrative technique, “the analysis pf structure . . . is based on variations in narrative method, such as narrator’s account as opposed to character’s speech (dialogue), scenic presentation versus summary, narration as agains description, explanation, comment, etc.” Sebagai contoh, cerita kelahiran Samuel (1 Samuel 1:1-2:11):
Summary (1:1-3)
Scene (1:4-18)
Summary (1:19-20)
Scene (1:21-23a)
Summary (1:23b)
Scene (1:24-2:10)
Summary (2:11)
Level narrative world, “the analysis of structure is related primarily to the characters and the plot but also to setting, clothes, etc.” Contoh: cerita Amnon dan Tamar (2 Sam 13) “struktur berdasarkan identifikasi karakter” Setelah bagian awal membukakan tokoh-tokoh utamanya, cerita dibangun sebagaimana sebuah rantai dengan tujuh bagian, masing-masing bagian terdapat 2 tokoh, dan salah satu tokoh tersebut juga terdapat pada bagian selanjutnya.
Yonadab-Amnon (ayat 3-5)
Amnon-Daud (ayat 6)
Daud-Tamar (ayat 7)
Tamar-Amnon (ayat 8-16)
Amnon-hamba (ayat 17)
hamba-Tamar (ayat 18)
Tamar-Absalom (ayat 19-20)
Amnon ditemukan pada 2 bagian pertama, sedangkan Tamar ditemukan pada dua bagian terakhir…… Dibagian tengah, yang merupakan bagian yang besar dari pada bagian lainnya (terdapat 9 ayat), Amnon dan tamar bertemu, dan disinlah puncak dari cerita itu.
Level conceptual content, “the analysis of structure is based on the themes of the narrative unit.” Contoh, salah satu tema-tema dari 1 Samuel adalah “the tranference of leadership—from Eli to Samuel, from Samuel to Saul and from Saul to David.” {perpindahan kepemimpinan—dari Eli ke Samuel, dari Samuel ke Saul, dari Saul ke Daud}. Berdasarkan tema ini kitab tersebut dibagi tiga, pasal 1-7 (Eli — Samuel), pasal 8-15 (Samuel — Saul) dan pasal 16-31 (Saul — Daud)
Demikianlah pola-pola struktur yang mungkin ditemukan pada berbagai level dan dapat menjadi indikator yang penting terhadap penekanan arti dari suatu bagian.(GIE)

(Sumber: The Modern Preacher and The Ancient Text, karangan Sidney G, halaman 208-213)

2 Komentar »

  1. noname Said:

    cool.Beraaaat bgt

  2. gisela Said:

    jarang banget ada anaj muda nulis blog isinya filsafat kristen, salut deh


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: