Benito Mussolini…bagian 1


Benito Mussolini dengan jubah kebesarannya
Benito Mussolini dengan jubah kebesarannya

Benito Amilcare Andrea Mussolini
LangkahnyaMenjadi Perdana Menteri Italia

Ketika masih mengajar di Gualteri ia sering bermabuk-mabukan, bercinta dengan banyak wanita, janda ataupun istri orang sampai menusuk pantat seorang istri prajurit dengan pisau lipat yang selalu dibawanya.
Italia sebenarnya merupakan bangsa yang selama berbad-abad mampu menguasai dunia, tetapi tanah Italia akhirnya terpecah-pecah dan menjadi rebutan oleh bekas jajahannya. Akhir abad 19, Italia berusaha berdiri tegak kembali sebagai negara yang kuat dan mereka mulai belajar seperti raja yang baru belajar memerintah, partai-partai yang belum dewasa dan kabinet yang silih berganti berupaya untuk mensejahterakan rakyat.
Dalam kondisi yang buruk demikian, tidak heran bila benih anarkieme dan sosialisme tumbuh subur di masyarakat. Demikian juga di Romagna, wilayah Timur Laut Italia yang berbatasan dengan Pegunungan Appenine dan birunya Laut Adriatik. Romagna dahulunya dikuasai oleh Napoleon dan selanjutnya oleh Paus. Mikail Bakui, anarkis Rusia memiliki banyak pengikut di daerah ini.
Di Romagna tinggal seorang pandai besi yang tinggal di Desa Dovia, Predappio. Pemuda ini, pada usia 21 tahun telah mendirikan cabang organisasi kiri Internasional I dan ia menjadi pelopornya. Di rumahnya selalu diadakan pertemuan dan ceramah sosialis.
Istrinya, Rosa adalah seorang guru keturunan borjuis, yang walaupun mengagumi pandangan ideologi suaminya tetapi tetap tidak mau meninggalkan agama yang dianutnya. Pada tanggal 29 Juli 1883, Rosa melahirkan putranya yang pertama dan diberi nama Benito Amilcare Musolini oleh ayahnya, Allesandro Mussolini. Rosa tidak keberatan atas nama panjang anaknya yang berbau nama pemimpin sosialis, tetapi menghendaki agar Benito dibaptis. Alessandro dengan berat hati meluluskan permintaan istrinya.
Selama masa kanak-kanaknya Benito tumbuh liar dan keras. Jika melakukan kesalahan, ayahnya tidak segan-segan untuk memukulnya dan berkata “Lebih baik pukulan ayahmu sekarang daripada pukulan orang lain nanti”. Ketika suatu hari Benito benar-benar dipukul orang, dan ayahnya mengajarkannya “Cari lagi orang yang memukulmu dan pukul dia!”Benito lalu mencari orang itu, setelah itu sebuah batu dilemparkannya ke wajah orang itu. Maka timbulah pengertian dalam dirinya, bahwa orang yang takut digertak adalah orang yang pengecut.
Melihat perkembangan anaknya yang nakal, sang Ibunda Rosa memasukan Benito ke sekolah pastor Salesian di Faenza. Benito tidak suka bersekolah, apalagi dengan pastor yang mendidiknya dengan penuh disiplin. Hal yang dibencinya adalah pada saat makan, siswa dibedakan menurut besarnya biaya sekolah. Benito harus duduk makan di tempat yang paling ujung dan sering mendapat jatah makanan yang basi, karena Benito termasuk siswa yang hanya mampu membayar 30 lira, sedangkan lainnya 60 lira.
Untuk menghabiskan waktu, Benito senang belajar sejarah Romawi Kuno dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Dibukunya ia sering menuliskan “Roma Dovia” sambil bermimpi untuk membangun kembali kejayaan Italia. Di sekolah itu ia hanya mampu bertahan selama dua tahun karena tidak mampu menahan siksaan
Setahun di bengkel ayahnya Benito lalu bersekolah di Giosue Carducci, seorang penyair Italia yang pernah mendapat hadiah Nobel di Forlimpopoli. Benito dan ayahnya mengagumi Carducci. Di sekolah ini Benito pertama kali memperlihatkan kemampuannya beretorika. Pada saat itu ia diminta untuk membawakan sebuah pidato penghormatan. Pada awalnya ia terlihat gugup, tetapi ia mampu menguasai forum dan terlihat tenang. Mula-mula ia memuji kegiatan politik Verdi dan pada akhirnya ia mulai mengkritik kondisi sosial yang terjadi pada saat itu.
Keesokan harinya harian sosialis, Avanti memuatnya dan memberikan komentarnya. Itulah pertama kalinya Benito muncul di Koran.
Pada usia 18 tahun Benito lulus dan mendapatkan hak untuk mengajar. Nilai sejarah, bahasa Italia dan sastranya tertinggi dari teman-temannya.
Benito lalu mengajar di Gualteri, Reggio Emilia, daerah palang merah di Italia dengan gaji 56 lira. Ia cepat bosan dengan profesinya sebagai pengajar sehingga ia mencari hiburan dengan para wanita, baik gadis ataupun janda, istri orang dan siapa saja. Wajah Benito tidak jelek sehingga ia cukup disenangi, hanya ia sering membalas kenikmatan yang didapatnya dengan menyakiti wanita tersebut. Seorang istri prajurit ditusuk dengan pisau lipat yang selalu ia bawa. Dan karena kelakuan buruknya Benito tidak disukai oleh para pejabat kota.
Benito selalu mengkritik para orang tua dan pejabat sebagai “sosialis spaghetti” yang hanya dapat berdebat dibalik gelas anggur. Puncak kejengkelan itu terjadi ketika Benito berpidato untuk menggantikan penceramah yang tidak datang. Benito yang saat itu asik berdansa dan minum-minum di bar diajak untuk memberikan ceramahnya. Selama satu setengah jam ia berbicara dengan jaket mengalungi leher dan baju basah oleh keringat dan tumpahan minuman, dan inti pembicaraannya adalah “Gibraldi pasti lebih baik mati daripada hidup di Italia yang memalukan ini.”Kontrak kerjanya segera diputuskan esok harinya.
Tidak mau mengajar dan tidak mau ikut wajib militer, Benito lari ke Swiss dan bekerja sebagai buruh. Ia hidup menggelandang di Swiss tanpa memiliki penginapan dan makanan yang cukup. Ia hidup layaknya seorang peminta-minta, membeli roti dari uang yang diberikan oleh orang yang iba.
Pada pertemuan kelompok sosialis, Benito bertemu dengan Angelica Balabanof, seorang Marxis dari keluarga Borjuis Ukraina. Angelica tertarik pada Benito dan mencari informasi tentangnya dari pengunjung. “Adakah yang bisa saya Bantu? Kudengar anda tidak bekerja?” Jawaban yang didapatnya seperti suara histeris dan seperti suara putus asa. Jawabnya, “Tak satupun, aku sakit, tidak bisa apa-apa. “Aku diminta menerjemahkan pamphlet, “Benito mencoba menjelaskan Janis pekerjaannya. “Aku bisa dan aku senang dapat membantumu, “Angelica mengerti dan dapat menjawabnya dengan antusias. “Membantu? Mengapa?” Benito menjadi heran.”Mengapa tidak? Aku sosialis dan besar dalam keberuntungan, dan sudah menjadi tugasku untuk membantu yang kesusahan. “Benito hanya mengangguk lemah, dan ia hanya terlihat malas untuk membalas uluran tangan Angelica. “Siapa namanu kamerad?”Benito Mussolini,”jawabnya. Tidak sedikitpun Angelica menduga bahwa Benito akan menjadi penguasa Italia dan menjadi musuh utamanya.
Kehidupannya lalu berpindah ke lingkungan bohemian Rusia. Dia minum, bercinta, membaca segala buku mereka sambil mengjar bahasa Italia dan Perancis dan menerjemahkannya. Kehidupan ini berakhir tahun 1944 ketika Raja Italia mengeluarkan amnesti bagi pelarian. Benito pulang ke Italia sekalian untuk menyaksikan kematian ibunya dan melaksanakan wajib militer.
Pulang dari wajib militer, Benito kembali menganggur. Ia hanya melamun dan minum-minum. Tidak kuat akan situasi itu, Benito lalu menjual seluruh seluruh harta ayahnya dan mengajaknya untuk pulang ke Forli, mengurusi penginapan. Benito sendiri akhirnya mendapat mendapatkan pekerjaan di Carnia, di Caneya, Tolmezzo. Polisi Forli segera mengirim arsip Benito kepada Polisi setempat sebagai tindakan antisipasi. Nama Benito memang sudah jelek di mata Polisi.
Sebagai guru, Benito bukan pengajar yang baik. Ia keras dan suka memarahi muridnya. Ia mabuk dan tertidur di jalan karena tidak kuat untuk pulang, bercinta dengan siapa saja hingga akhirnya ia menderita sifilis.(GIE)
berlanjut…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: