Itoy Caballero


DSC00225Salam kenal Pembaca yang anonim. Perkenalkan nama saya Sugiarto biasa dipanggil Itoy, Tato, Montoya, Sugi dan lain-lain. Dan kata sandang panggilankupun macam-macam, nak, mas, bang, bro dan sebagainya. Aku Terlahir dari keluarga katholik yang modern tapi ndeso gitu dech. Dikatakan modern karena aku dibebaskan untuk menyeleksi, memilih dan menganut nilai dan falsafah hidupku sendiri. Dalam pandangan orang aku dikenal baik dan patuh terhadap orang tua, tetapi aku paling tidak suka diatur, bahkan oleh orang tua sekalipun. Aku lebih baik diperintah dari pada diatur mereka.
Aku begitu bangga dibesarkan oleh mereka, mereka baik, penyayang, sabar, bijaksana dan mereka bisa memenuhi kebutuhanku tetapi mereka sulit memenuhi keinginanku. Pendidikan dalam keluargakupun sangat unik yang belum tentu dimiliki oleh keluarga lain. Salah satunya adalah, “Jangan pernah merebut hak, tetapi rebutlah kewajiban sebanyak-banyaknya”. Dari kalimat singkat itulah yang mempengaruhi pikiran dan sikapku sebagai seorang “Itoy”. Aku tidak akan merasa bangga bila aku dihargai besar tetapi peranku kecil dan sedikit baik di masyarakat, pergaulan dan organisasi. Tetapi aku akan merasa bangga bila peranku besar walaupun tidak mendapat penghargaan sedikitpun. Menurutku suatu hal yang percuma menuntut penghargaan dari orang lain. Orang lain hanya bisa menghargai apa yang dilihat mata, tetapi tidak bisa mengahargai apa yang tidak dilihat mata. Hanya diriku sendiri dan Tuhanlah yang dapat menghargai dan mengerti siapa diriku sebenarnya.
Aku didesain khusus oleh lingkungan supaya aku All Condition Gear (bisa hidup dalam segala situasi dan kondisi). Penciptaku jugalah yang mengkontruksiku menjadi pemuda yang tahan segala medan (ganasnya hutan belantara, terjalnya bukit dan gunung, dan panasnya jalan raya kota). Aku sudah terbukti lolos uji dari semua kondisi itu. Aku bisa merasakan berkat di dalam kekurangan dan kesusahan, sedangkan di dalam kelimpahan aku pasti dapat merasakan suka cita. Aku juga bisa memupuk kemenangan dan kekalahan, serta dapat memperlakukan keduanya sama tanpa mengatakan sepatah kata tentang kekalahan. Dan aku semakin narzis dengan diriku ketika tak ada seseorangpun merasa menang karena perlakuan dan sikapnya tidak berhasil membuatku bergeming dan tunduk pada pahamnya. Aku memang keras kepala tetapi berhati lembut, aku lebih baik mengeraskan kepalaku ketimbang mengeraskan hatiku. Aku juga lebih baik memilih mati akal sehatku daripada mati hati nuraniku. Dan didalam pergaulan aku dapat mengerahkan dan mengencangkan syaraf serta ototku untuk berkarya lebih dari pada apa yang orang lain lakukan sampai tak ada apa-apa lagi yang aku punya selain semangat dan harapan, bahkan sampai ragaku mengejang sekalipun. Dahulu kupikir falsafah hidupku yang seperti itu baik dan bijaksana. Mulai sekarang nilai-nilai itu harus kukurangi, aku masih mau bersusah untuk orang lain asalkan dengan syarat tidak mengganggu kepentinganku sendiri. Mengapa aku mau bersusah untuk orang lain? Karena aku pernah berpengalaman, aku sedang bermasalah, aku mengadu kepada semua orang yang kukenal, semua orang hanya acuh dan memojokkanku, aku seperti hidup sendirian di dunia ini, Setelah itu kutanamkan dalam hati, mati-matian aku berjanji, “suatu saat nanti, ketika ada orang bermasalah datang kepadaku, akulah harus menjadi barisan paling depan segala permasalahannya di dunia”. Semua orang bisa diajak bersenang-senang, tetapi aku lebih baik memilih untuk diajak bersusah-susah ria. Karena hidup tanpa bantuan orang lain sangatlah pahit dan Wow… amit-amit jabang babby dech ich…Hal itu kutiru dari kedua orang tuaku yang hanya berpendidikan SMP. Maka aku yang sudah dewasa dan mengenyam pendidikan di bangku kuliah haruslah lebih hebat dan lebih besar dari mereka dalam segala hal, baik secara materi maupun rohani. Mereka bisa menjadi sandaran keluarga, saudara dan masyarakat. Maka paling tidak aku harus bisa menjadi sandaran atau dinding peraduan bagi sahabat, teman atau siapapun yang membutuhkanku. Mengapa aku seperti itu? Karena aku laki-laki!
Mama n Papa, and All the people in the world, I said I love You. (GIE)

Mencoba untuk 100 % narzis

Pria bersaudara kembar berusia 24 tahun ini sejak awal pendidikan dasar di SDN 23 petang sudah banyak dikenal baik oleh guru maupun teman sebayanya sebagai anak yang pendiam namun memiliki banyak potensi. Dia juga terkenal dengan multi telenta yang belum tentu didapatkan oleh kebanyakan orang. Beberapa keterampilan olahraga, tekhnik, musik dan bahasa ia miliki dengan cuma-cuma. Menurutnya selagi masih muda “Kita harus menggali dan menemukan kemampuan dalam diri kita sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya.”
Beranjak dewasa ketika masih dalam pendidikan menengah atas, pria yang juga getol berskuter ini aktif dalam kegiatan kemasyarkatan Karang Taruna, dan selepas SMA mulai berani menyatakan eksistensi dirinya dalam klub Otomotif, Outdoor Scooter, yaitu wadah komunitas pecinta vespa di Jakarta Timur. Hal yang paling berkesan ketika tergabung dalam komunitas tersebut adalah “touring”. Tak tanggung-tanggung, Bengkulu, Lampung, Palembang,Yogyakarta dan kota-kota di Pulau Jawa lainnya pernah disambangi. Dan tak pernah terhitung pula berapa banyak biaya untuk perawatan mesin, bahan bakar atau logistik selama berskuter ria itu. Menurut beberapa orang kegiatan tersebut tidaklah banyak bermanfaat, hanya membuang waktu dan dana. Alasan kuat yang mendorongnya adalah ingin melihat dunia luar, menciptakan, menyambung dan memelihara relasi luas dari berbagai latar belakang profesi, budaya, etnis dan golongan. Benar saja, dalam beberapa kunjungannya kedaerah dia berhasil membuat dan membina hubungan baik. Dan tak hanya tokoh penting yang digauli, beberapa orang berkepribadian unikpun pernah digauli, seperti preman, bandar narkoba sampai komplotan “bajilo” di tanah Sumatera. Mengapa mereka dikatakan berkepribadian unik? karena tak satupun dari mereka yang terkenal jahat itu berlaku buruk dan menyakitinya, justru sebaliknya mereka banyak membantu dan menonjolkan sikap yang bersahabat.
Tetapi sayang pengalaman itu sepertinya takkan terulang lagi, sebab konsentrasi kuliah dan berkarir sangat memberatkan dirinya untuk berbalik lagi. Tetapi walaupun begitu, dia masih menyambung tali silahturahmi dengan komunikasi lewat Handphone ataupun internet. Tetapi dia berjanji suatu saat nanti ketika semua obsesinya teraih, maka dia dan Vespa 1973 tunggangannya itu akan bernostalgia kembali ke tempat yang pernah disambanginya. “Hei…You, his brothers and sisters in this country, wait for him!” (GIE)

2 Komentar »

  1. altov Said:

    salam hangat dari toilet room…. rumah baru nih. peresmiannya makan2 yakk..

  2. destini Said:

    boleh?


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: