Cerita Jarum Jam



Kopi pagi yang diseruput siang-siang ternyata masih berfilosofi hitam, manis, pahit dan asam. Sementara kepala masih saja menggilai sesuatu yang gila segila-gilanya, ternyata. Ah… Sehabis berdoa, membuatkan susu untuk ibu, membalas email, sms, komentar Facebook, mencuci pakaian, menyapu lantai, menyapa tetangga, mengajar privat bahasa Inggris anak-anak, membeli rokok, mampir di rumah teman, bersalaman, bercanda lalu berpamitan. Kuhampiri PC kesayanganku dan kubiarkan isi kepalaku berloncatan keluar layar monitor.

———————————————————–

Jarum jam dinding masih berputar tanpa ada kebingungan sedikitpun. Pernah kubertanya padanya, “Hei Jarum, pernahkah kau bimbang, berhenti dan berfikir sejenak menemukan arahmu?” Tetapi dia tak peduli dengan pertanyaanku, jarum masih menyambangi angka demi angka. Menurutku jarum jam adalah benda yang paling adil. Dia singgahi setiap angka dalam momentum yang sama lamanya. Dia tidak pernah pincang: Lebih lama mampir di angka 12 atau lebih sebentar mampir di angka 6.

Mulanya saya kagum pada ketegasannya yang tidak pernah ada kata kompromi, apalagi toleransi.

Di tengah perputaran, angka 12 sedang menantikan kedatangan sang jarum. Angka 12 masih harus menunggu angka 1 sampai angka 11 mendapatkan giliran disinggahi sang jarum. Sementara dalam penantiannya, angka 12 sedang merasakan kesakitan yang luar biasa. Dia sangat mengharapkan sang jarum segera datang menolongnya.Namun sang jarum tidak mau peduli dengan keadaannya. Dia tetap menyinggahi setiap angka dengan jumlah waktu yang sama lamanya. Dia tidak berani mempercepat pergerakannya. Karena dengan mempercepat pergerakan, dapat merusak sistem kerja mekaniknya. Yang pada akhirnya dapat menutup riwayat pelayanan sang jarum.

Tik.. tok.. tik.. tok bunyi mekanik statis menjadi pelopor pelayanan sang jarum. Bagiku jarum jam sedang melakukan pelayannya. Panggilan jiwanya menyambangi dan melayani setiap angka yang berada di sekitarnya. Dari dulu hingga sekarang dia hanya melayani 12 angka. Tidak pernah berkurang dan bertambah.

Aku sejenak memikirkan keadaan angka 12 yang sedari tadi sudah lama berharap sang jarum segera datang menemuinya. Angka 12 mengerang kesakitan, badannya menggigil dan tatapan mata yang kosong. Pelan-pelan dari matanya mengalir air mata. Dia menangis menahan perih. Dia tak mampu mengusap air mata yang mengalir itu, karena dia juga tak mampu menggerakan kedua tangannya.

Aku marah melihat pergerakan sang jarum yang terlalu mengikuti aturan main. Mungkin juga karena ketidaksabaranku. ” Hei Jarum, tidakkah kau punya keberanian melawan kodratmu?” “Tinggalkan angka-angka lain dan segera datangi angka 12″! ” Dia sangat membutuhkanmu.

Namun sang jarum tetap saja melaju, tidak dipercepat dan tidak diperlambat. Sampai pada akhirnya Sang jarum tiba di tempat, dimana biasa angka 12 berdiri. Sang Jarum matanya membelalak, ketika dia tidak lagi melihat angka 12. Dia bertanya-tanya dalam hati, ” kemana perginya angka 12″?

Lalu dia merenung dan perlahan sadar bahwa angka 12 sudah mati.

“Oh, angka 12 sudah mati. Dia tidak lagi bisa menjadi penunjuk waktu. Padahal angka 12 adalah angka yang paling berperan untuk menunjukkan waktu. Ini salahku” hiks… hiks…

Sang Jarum menangis dan sangat menyesali perbuatannya.

Angka-angka lainpun ikut menangisi kepergian angka 12.

Sang jarum berkata dalam hati, “Percuma aku berputar-putar mendatangi angka demi angka, namun ketika angka 12 sangat membutuhkan pertolonganku, aku tak dapat mendahulukan dia. Bukankah perputaranku demi pelayanan untuk setiap angka?Aku tak dapat membayangkan bagaimana rasa kesakitan yang di derita angka 12″

Sang jarum terus menangisi peristiwa itu.

Sejak kejadian itu, aku tidak lagi mengidolakan sang jarum. Aku kecewa. Pikirku, sang jarum tidak memiliki hati nurani, dai tidak bebelas kasihan sama sekali. Seandainya sang jarum mau sedikit melawan kodratnya, mungkin angka 12 masih hidup sampai sekarang. Namun aku juga merenungi keadaan sang jarum. Pasti sang jarum juga sedih kehilangan angka 12 yang sedari dulu memang sudah berkawan.

TAMAT

Diam Adalah Seni


Diam adalah seni

Bukankah diam adalah perjalanan paling puisi?

Seperti di perjalanan, berdiam tanpa melakukan apapun memerlukan rute, juga waktu, sering juga alasan meski terkadang tanpa tujuan.Dan sunyi! tambahmu.

Bukankah kesunyian adalah perjalanan paling puisi?

Sunyi mampu mendengar denting hati. Seperti malam yang mendengar bunyian. Seperti hening yang membuka jendela jiwa. Seperti di kesenyapan gerak diam, jiwa menemukan dentum iramanya. Demikianlah jalan sunyi mempertemukan dengan kekasih jiwa. Ketika diam adalah puncak rasa, melampaui semua tanda baca dan kata-kata.

Pejamkan mata. Sebab dengan tanpa melakukan apapun, kita membaca semesta. Membiarkannya melingkupi seperti angin seperti udara seperti hampa yang demikian penuh.

Menjadi satu dengan semesta.

Semesta jiwa-ku, mu, dan Nya.

Sebab pernah ada sabda: barang siapa bersatu dengan semesta, maka ia telah memiliki jalan rasa. Jalan yang dilalui dengan kendaraan cinta, menuju rahim jiwa. Ketika pencapaian bukan lagi menjadi akhir, melainkan awal. Demikianlah dikisahkan hikayat pencarian yang paling purba.

Selamat datang di jalan sunyi ini. Seni perjalanan dalam diam yang mengarungi samudera hati, mendaki puncak-puncak kenangan dalam gelembung-gelembung kaca, menyeberangi padang ketika ilalang setia mencintai angin dan musim, membaca peta bintang, memaknai dedaunan yang luruh dan kelahiran embun; sehingga semesta menjadi nafas yang menyanyikanmu rayuan cinta pada kehidupanmu.

Sebab dalam diam dan tidak melakukan apapun, percakapan kita menjadi riuh bergemuruh dan .. sempurna.

Tidak melakukan apapun adalah maha karya seni!

Dan aku hanyalah seorang pejalan sunyi yang menemu damainya berjalan-jalan di jalanmu

Rancangan Peraturan Menteri Tentang Konten Multimedia


Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring ditegur lagi oleh SBY terkait rancangan aturan soal isi internet. Pada teguran sebelumnya beliau mengajukan Rancangan Peraturan Pemerintah tantang Penyadapan.
Menurut Presiden SBY, ”Pemikiran atas rancangan peraturan atau perundang-undangan memang tidak dilarang, namun sebaiknya rancangan itu harus dijajaki terlebih dahulu,lagi pula rancangan itu masih berupa gagasan jadi tidak perlu digembar-gemborkan dulu.
Dilain tempat, Gatot Dewabroto, Humas Depkominfo mengatakan pihaknya menghormati teguran dari Presiden. Apa yang disampaikan Presiden akan kami beri perhatian khusus, tukasnya”.(Media Indonesia hal.1).Beliau pernah menjelaskan RPM Konten Multimedia bermaksud mengatur pengaduan masyarakat atas konten situs yang dianggap melawan norma umum. Dalam rancangan itu disebutkan pemerintah akan membentuk tim monitoring yang menerima pengaduan dari masyarakat atas isi sebuah situs.
Rancangan tersebut menuai penolakan dari berbagai kalangan.Anggota Dewan Pers Agus Sudibyo menyebut, ”Rancangan itu merugikan kehidupan berdemokrasi”. Mantan Anggota Dewan Pers Leo Batubara menyebut RPM itu berparadigma otoriter, melanggar konstitusi, UU Pers, dan melanggar UU Penyiaran juga. Entah tindakan represif apalagi yang akan diambil Pak Menteri untuk membatasi pergerakan Pers di Indonesia. (GIE)

Selamat Tahun Baru


Hidup adalah medan perang

Dunia ini sendiri adalah medan perang besar. Di mana saja selalu ada pertempuran, kekerasan dan pertumpahan darah. Keberadaan selalu dicirikan dengan adanya perjuangan: molekul melawan molekul, atom melawan atom, elektron melawan lawan elektron, laki-laki melawan laki-laki, perempuan lawan perempuan, manusia melawan manusia, manusia lawan hewan, manusia lawan alam dan sebaliknya. Dalam tubuh fisikpun selalu ada perubahan dan perjuangan yang terus menerus.

Lebih buruk lagi dari dunia fisik, pikiran sendiri adalah medan luas di mana berlangsung banyak pertempuran. Setiap perkara kecil sekalipun akan menggangu keseimbangan pikiran. Pikiran menjadi sangat gembira pada saat anak yang diharapkan lahir. Pada lain waktu, pikiran menjadi sedih kala anak itu jatuh sakit, mengalami kecelakaan atau diserang penyakit ringan sekalipun. Pikiran berfluktuasi di antara dua ekstrem, kebahagiaan dan kesedihan, karena ia tidak terlatih untuk melihat hakikat sejati kehidupan. Untuk alasan ini, orang biasa akan mengalami penderitaan, rasa takut, cemas dan Cuma sedikit kepuasan batin dalam dunia yang terus menerus berubah. Namun jika seseorang telah melatih pikirannya dengan meditasi dan melihat hakikat semua benda sebagaimana adanya, pikirannya tidak lagi melekat maupun terikat oleh dunia. Sebagai hasilnya, ia membebaskan dirinya dari penderitaan dan ketidaksempurnaan dunia.

Hidup adalah medan perang abadi di sepanjang dua garis: yanga satu di sebelah luar, yang satu di sebelah dalam. Yang berada di luar adalah garis intelektualitas dan rasionalitas. Jika kekuatan sebelah luar telah habis, kita menarik diri ke dalam lapisan kedua, yaitu perasaan, dan mencari pertempuran yang baru. Jika lapisan kedua ini juga kalah, kita mengundurkan diri sejenak untuk merawat diri, dan untuk muncul dan berperang lagi esok hari. Bagaimanapun pada waktu kita telah benar-benar terguncang dan menarik diri ke dalam, hidup bersama kemarahan, frustasi, nafsu dan fantasi untuk waktu yang lama, kewaraqsan dan kendali diri akan terpengaruhi.

Pikiran yang tidak terkendali dikuasai oleh pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan, seperti pikiran yang mementingkan diri sendiri, serakah, dan melekat pada kemasyuran, harta, dan kepemilikan duniawi. Jika kecenderungan ini tidak diteliti, pikiran akan beralih menjadi monster yang siap membunuh dan menghancurkan siapapun dan apapun yang menghalanginya.

Demi mengejar keuntungan dan kenikmatan materi, kita tidak lagi mendengar suara alam. Kita menuntut terlalu banyak dari hidup dan karenanya kita runtuh. Kita dibuat percaya bahwa sukses berarti mampu berbuat segalanya menjadi yang terbaik dalam semua aktivitas. Tentu saja, secara fisik hal ini tidak mungkin. Kegiatan mental kita sedemikian terganggu oleh kebahagiaan masa depan, sehingga kita mengabaikan kebutuhan fisik dan melalaikan prioritas yang tepat merupakan sebab utama frustasi, ketidakpuasan, rasa takut dan tidak aman menghinggapi kita.

Jadi apa akibat dari semua ini? Keresahan dan tekanan ini mewujudkan diri sebagai gangguan dan penyakit mental yang secara bersama-sama disebut “pembunuh emosi”. Emosi negatif rasa takut, cemas, tidak aman, cemburu dan sebagainya ini tidak hanya menyebabkan penderitaan bagi diri sendiri, tapi juga orang lain di sekeliling.

Pada tahun yang baru ini yaitu tahun 2010 penulis menghimbau pada kita semua. Lupakan dan kubur semua kecacatan kita di masa lalu, jangan disesali atau ditangisi. Karena hidup adalah masa kini dan mendatang. Jangan sesali masa lalu dan janga ntakuti masa depan. Biarkan Dia Sang Penulis membuat cerita indah pada hidup kita, asalkan yakin dan percaya Dia akan menulis cerita yang indah pada akhirnya. Selamat tahun baru 2010, atau Fellice Nuovo Anno, semoga tahun ini menjadi milik kita.(GIE)

Fisofi Merah Kuning Ijo


One..Love…One heart… lets get together and fell all right. Atau Don’t worry…u …yeach adalah kalimat yang bermakna posotif. Dengan mendengar dan meresapi syair yang biasa diselipkan dalam lirik lagu Reggae menjadikan kita seia dan sekata dengan pesan yang disampaikan musisi lewat musik buah karyanya. Adalah Bob Marley sang maestro Reggae yang berasal dari Jamaikan, dengan rambut gimbalnya dia berhasil membawa musik tradisional Jamaika itu menjadi musik universal di dunia. Dari karyanya itu dia sering diberi gelar musisi legendaris sepanjang masa oleh media. Lewat beberapa albumnya dia menyisipkan pesan kritik atas gejolak sosial dan politik yang sedang berkembang di belahan dunia. Dan tak jarang pesannya bersifat profetik. Isi pesan Reggae identik dengan positifisme, kebebasan dan romantika percintaan atau sifat universal lainnya. Banyak beberapa dari antara kita menilai musik Reggae sebagai musiknya para penghisap ganja atau anak yang bersifat pembangkang. Padahal itu hanyalah stereotip yang dipasangkan masyarakat. Mungkin pandangan itu disebabkan oleh produk dari musik Reggae, dimana masyarakat mengenal Bob Marley yang doyan m,engganja sebagai maskotnya. Sangat disayangkan bila musik Reggae hanya diketahui dari sudut pandang yang sebenarnya sama sekali betolak belakang, keduanya saling berlainan. Reggae adalah jenis musik, sedangkan penghisap ganja atau narkoba lainnya adalah penyakit sosial.

Musik Reggae adalah musik yang memasyarakat di Afrika, sama halnya dengan dangdut di tanah air kita. Berkembangnya musik Reggae diawali dengan maraknya mobilitas sosial di Afrika, gejolak politk, sosial, ekonomi dan budaya. Dengan lagu tersebut mereka kaum rasta menentang keras berbagai macam bentuk penindasan yang mengatasnamakan politik, ras atau golongan. Mereka mengidamkan Afrika hidup bersatu dengan rukun dan aman, damai sejahtera.

Hyle selasie Eyes yang berarti cahaya atau Rastafari yang diyakini oleh kaum rasta sebagai Mesias atau Kristus memerintah di Republik jamaika. Kronologi pengangkatannya dikaitkan dan dihubungkan dengan kedatangan Kristus dalam Alkitab. Banyak masyarakat mempercayai hal itu dan meraka menamakan diri mereka rastaman (lelaki) dan princetafari (perempuan). Filosofi rasta pada sejatinya adalah hidup dalam cinta kasih, bebas dan damai tanpa penindasan. Ketika itu sedang terjadi perbudakan di banyak belahan bumi Afrika. Dan satu-satunya harapan untuk lepas dalam kondisi itu adalah terpilihnya Rastafari sebagai Emperor Jamaika. Para rasta mendirikan negara Utopia bernama Etiopia dengan warna bendera merah, Emas dan Hijau. Bendera itu menurut beberapa cerita adalah warna dari sabuk perawan Maria. Kebetulan agama mayoritas di Afrika adalah Katholik Ortodoks.

Pesan Injil dan musik Reggae adalah sama-sama menyuarakan positivisme,cinta, kebebasan dan perdamaian. Lalu dari mana kebanyakan masyarakat mengaitkan Reggae dengan Ganja atau narkoba jenis lainnya, padahal keduanya sangat berlawanan?(GIE)

Mendaki Gunung=Peziarahan hidup


Mendaki gunung bukanlah sekedar naik dan turun gunung.

Mendaki gunung membutuhkan modal fisik dan mental. Keduanya tergantung dari jarak, karakteristik gunung dan lamanya pendakian. Modal tersebut juga terpengaruh sebab oleh lokasi gunung baik di dalam maupun luar negeri.

Dalam dunia bisnis modal bisa disebut sebagai investasi dengan perhitungan manfaat, keuntungan materi dan nonmateri dapat menghasilkan suatu kepuasan tersendiri yang disebut Profit.
Secara umum manfaat mendaki gunung adalah demi kesehatan fisik dan kekuatan mental sejalan dengan kalimat pepatah dibalik badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Beberapa orang awam mungkin hanya mengetahui manfaat gunung sebagai sarana memupuk kecintaan pada lingkungan hidup. Namun banyak diantara kita tidak sadar akan pentingnya mendaki. Berikut ini adalah beberapa contoh profit mendaki, antara lain adalah:

a.  Mengajarkan dasar-dasar kerjasama tim (teamwork) dan solidaritas, karena pada dasarnya kegiatan mendaki gunung pasti melibatkan beberapa orang. Andai saja mereka tidak kompak, sulit rasanya membayangkan bahwa tujuan pendakian akan tercapai, paling tidak dengan adanya teamwork yang solid insiden negative bisa diminimalisir.
b. Menumbuhkan kepekaan sosial, minimal dapat menyelami kehidupan sosial masyarakat desa di lereng-lereng gunung yang notabene jauh dari jangkuan keramaian kota. Mungkin dari sinilah timbul kegiatan-kegiatan bakti sosial yang ditujukan untuk membantu penduduk desa di lereng-lereng gunung. Banyak mantan pendaki yang akhirnya juga berkecimpung di dunia Community Development (Pemberdayaan Masyarakat) setelah mereka berkecimpung lama dengan masyarakat desa lereng gunung.
c. Mengembangkan mental tangguh dan berani mengambil keputusan. Kadang-kadang nekad bukan berarti tanpa perhitungan, tapi justru ketika timbul keraguan dalam menjalankan suatu keputusan, maka dibutuhkan kenekadan untuk mengeksekusi. Mendaki gunung ibarat sebuah perziarahan hidup, sekali kita melangkahkan kaki demi tujuan tertentu, kita pantang untuk mundur sebelum tujuan kita tercapai. Kemudian dapat merefleksikan bagaimana perjalanan hidup kita, ada susah, senang, berliku, terjal bahkan terjatuh.
d. Membuka lapangan kerja bagi produsen-produsen peralatan pendakian. Yang satu ini tak diragukan lagi kebenaran faktanya, coba saja bayangkan, produsen tali kernmantel, sudah susah-susah bikin pakai ISO 9002 lagi, berhubung kegiatan mendaki gunung tidak ada, akhirnya cuman buat tali jemuran atau tali sumur. Ada banyak cerita sukses kewirausahaan yang juga dapat ide setelah ikut kegiatan naik gunung, misalnya: jadi produsen tas ransel dengan bikin merek sendiri, dll.
e. Se-ide dengan poin (d.) bahkan produsen barang-barang elektronik juga terkena imbasnya, misalnya: produsen kamera digital, peralatan GPS, dll.
f. Membuka peluang usaha warung, home stay dan porter di desa-desa lereng gunung. Yang satu ini bisa juga disebut pemerataan peluang ekonomi yang juga mendukung sector pariwisata.
g. Sebagai ajang promosi atau penggalangan dana sosial. Ada banyak cerita yang bisa dibaca darinya, kita ambil contoh saja misalnya: suatu yayasan mengadakan kegiatan pendakian ke gunung tertentu dimana hasil dari sponsorship disumbangkan untuk membantu suatu kegiatan social.
h. Dan masih banyak lagi contoh lain yang bisa kita browsing lewat internet.
So, setelah membaca serta menelaah uraian sederhana diatas, ternyata ada manfaat yang bersifat langsung dan tidak langsung. Kalau begitu, kira-kira kedua jenis manfaat tersebut sebanding nggak ya.. dengan biaya yang telah kita keluarkan? Kira-kira naik gunung masihkah hanya bermanfaat sebatas kegiatan olahraga saja?

Mendaki memang melelahkan, tetapi banyak sekali keuntungannya.

ALAM MEMBENTUK JATI DIRI KITA…

Mungkin beberapa di antara kita dalam kesehariannya biasa dibuai dan dimanja dengan berbagai macam pelayanan dan fasilitas yang ada. Ibu menyiapkan masakan dan pakaian untuk kita, dan ayah mencari nafkah, sedangkan kita tinggal menerima dan menikmati pelayanan itu. Namun ketika kita berada dalam hutan belantara, kondisinya bisa berputar seratus delapan puluh derajat. Kita dituntut mandiri dan cekatan, tidak ada pelayan selain diri kita sendiri. Demi tujuan kita, kita tidak bisa menyandarkan diri atau bergantung pada orang lain. Dalam pendakian dapat terlihat jelas karakter asli dari sang pendaki, mana yang mementingkan diri sendiri, ceroboh, penakut, manja, pemalas, bermental tangguh dan mana yang bermental lembut. Semua tipe asli pribadi orang dapat terlihat jelas ketika ia hidup dalam tekanan yang besar, begitu juga dalam pendakian. Dimana kondisinya jauh dari peradaban, tidak ada penolong selain diri kita dan tim. Itulah sebabnya kerjasama tim sangat diperlukan dalam pendakian demi tercapainya tujuan mendaki, yaitu suskes menuju puncak. Kesuksesan dalam pendakian dapat disamakan arti dengan sukses dalam kehidupan. Dimana demi tujuan kita banyak aral rintangan yang menghadang menuntut kesabaran dan ketahanan mental memecahkan permasalahan. Tidak ada kesuksesan tanpa jarih payah, bahkan harus dengan keringat, darah dan air mata.(GIE)

Retoris Terkemuka Sepanjang Masa


Retoris dalam ilmu komunikasi adalah seorang tokoh yang mengungkapkan gagasannya, bertujuan untuk mempengaruhi audiensnya agar sepaham dengan ide yang dilontarkannya. Dalam penyampaiannyapun mereka menggunakan berbagai cara, persuasif atau pembujukan, propaganda, sampai pada indoktrinasi.

Salah satu retoris terkemuka adalah Adolft Hittler dengan paham nazinya. Dia menyampaikan gagasannya dengan berulangkali bahkan disertai ancaman psikis dan fisik. Falsafah hidup audiensenya dirubah perlahan-lahan dengan cara penyajian pesan-pesan yang berisikan ideologinya. Dengan penggembar-gemboran berulang kali (propaganda) disertai ancaman fisik maka secara tak sadar pikiran audiensenyapun sudah terbentuk sesuai keinginan pemesannya. Karena pada hakikatnya masyarakat adalah produk manusia dan manusia adalah produk masyarakat. Ini berarti bahwa kehidupan manusia dapat dipesan sesuai selera.

Begitu juga dengan retoris lainnya, Fidel Castro Perdana Menteri Kuba dengan paham sosialisnya, Kim II Sung Perdana Menteri Korea Utara dengan perpaduan monarki-marxismenya: dimana beliau menciptakan suatu agama baru bernama “Juche” berisikan ajaran yang dijadikan landasan hidupnya. Dalam menancapkan ideologinya mereka harus mengatur strateginya sedemikian rupa agar tujuan penyampaiannya dapat tercapai. Setelah jumlah pengikut mereka sesuai dengan targetnya maka mereka mulai menyatakan eksistensi dirinya dengan nama negara. Sampai di situ belum cukup mereka juga harus berupaya bagaimana cara supaya pengikutnya tetap berada dalam lingkaran ideologinya. Caranyapun bermacam-macam, ada yang dengan membuat media massa yang berisikan pesan-pesan tersembunyi, yang tak disadari oleh khalayak bahwa mereka berada dalam lingkaran ideologinya. Informasi yang ada dibuat sedemikian rupa sehingga khalayak hanya tahu informasi yang monoton. Dengan cara seperti itulah masyarakat dikontruksi. Begitu juga yang terjadi dalam pemerintahan orde baru oleh Soeharto. Media massa dikendalikannya agar penguasa tetap berada dalam jabatan dan kewenangannya. Kita dibuai dengan berita-berita menarik agar menunjukan pemerintahannya berjalan dengan sukses dan seolah-olah tidak memiliki cacat. Seiring berjalannya waktu pemerintahan merekapun akhirnya runtuh digulingkan dengan paham yang baru, karena sudah tidak sesuai lagi dengan zaman, atau karena penguasanya sudah tidak memiliki kekuatan lagi, dikudeta, dicopot paksa, ataupun wafat.

Satu hal yang menarik, yang menjadi fenomenal sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Adalah Yesus Kristus sebagai pencetus “hukum kasih”, hukum yang telah menjungkir balikkan dunia, hukum yang dipakai oleh milyaran umat manusia. Dan pemerintahannyapun masih berdiri kokoh sampai sekarang dan selama-lamanya, pemerintahnnya tidak dapat digulingkan oleh apapun dan siapapun, dan gagasannyapun tidak akan usang dimakan waktu, walapun zaman berganti, kapan saja dan dimana saja gagasannya dapat dipakai. Dalam penyampainnyapun Ia cukup menyampaikan satu kali pesannya dalam ahad bersejarah yaitu “kotbah di bukit”. Dia tidak perlu membujuk, ataupun mengancam secara fisik. Dan waktu untuk mendirikan kerajaanNya Dia hanya memerlukan waktu kurang lebih tiga tahun. Dengan cara yang sepertinya mudah itu Dia berhasil menarik perhatian dan mempengaruhi milyaran umat manusia dan menjadi pengikut dan sepaham dengan gagasanNya. Milyaran umat manusia itu terdiri dari berbagai macam kalangan, bahasa, bangsa dan latar belakang lainnya. Walaupun mereka tidak dapat melihat sosok pemimpinnya secara fisik namun mereka semua bersatu dalam pemerintahan yang utuh, satu dasar dan sejak terbentuk pengikutnya sampai sekarang kita menyebutnya “gereja”.(GIE)

DOKTRIN ALLAH


Keberadaan Allah

Baca : Mazmur 90 : 2

Pada waktu Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta, hal itu berarti pula bahwa Allah sendiri tidak diciptakan.

Ada perbedaan yang mendasar antara Pencipta dan Ciptaan (Qualitative Different).

Allah adalah Pencipta dunia ini beserta segala isinya.

Adalah tidak mungkin bagi sesuatu untuk menciptakan dirinya sendiri (bertentangan dengan akal sehat). Tidak ada sesuatu pun yang dapat menciptakan dirinya sendiri. Setiap akibat harus ada penyebabnya. Allah adalah bukanlah suatu akibat, oleh karena itu, Ia tidak memiliki penyebab. Dia adalah kekal, itu berarti Dia selalu ada, dulu dan sekarang.

Pada diriNya, Ia sendiri memiliki kuasa keberadaan. Dia tidak membutuhkan pertolongan dari sumber lain di luar diriNya untuk membuatNya, terus menerus berada. Inilah yang di mengerti sebagai keberadaan yang mandiri (Kis 17:23-25).

Allah adalah suatu keberadaan yang Mahatinggi dan sumber dari segala keberadaan yang lain.

Keberadaan Allah akan sangat menentukan keberadaan manusia (Kisah Rasul 17:28). Allah dapat berada secara mandiri, namun manusia yang diciptakan Allah tidak dapat berada secara mandiri. Keberadaan manusia bergantung kepada keberadaan Allah.

Segala sesuatu yang kita mengerti dalam wilayah pengetahuan kita : bergantung dan manusiawi. Oleh karena itu, kita harus ingat, bahwa kita tidak dapat mengerti secara tuntas suatu eksistensi yang mandiri.

Sifat Allah

Sifat Allah adalah kualitas dan keberadaan Allah yang membuat Dia ada sebagaimana Dia ada.

Sifat-sifat Allah diberitahukan kepada kita melalui penyataan. Manusia tidak memberi sifat-sifat itu kepada Allah, tetapi Allah menyatakannya kepada maanusia.

Ketika manusia mungkin dapat mendaftarkan sebanyak mungkin sifat Allah, namun Allah lebih dari seluruh jumlah total kesempurnaanNya yang dapat kita mengerti.

Mahakuasa

Kemahakuasaan Allah berarti Allah berkuasa atas semua ciptaan-Nya. Dan tidak ada di dalam alam semesta yang dapat menggagalkan atau mengacaukan rencana-rencana Allah.

Kemahakuasaan tidak berarti bahwa Allah dapat melakukan apa saja. (Dia tidak dapat berbohong, Dia tidak dapat mati). Allah tidak dapat bertindak melawan naturNya. Kemahakuasaan merupakan ancaman pada orang yang jahat tetapi merupakan sumber penghiburan bagi orang percaya. (Ayub 42:2)

Mahahadir

Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Keberadaan-Nya melampaui ruang dan waktu. Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari hadapan Allah. Allah hadir di semua tempat dan Ia mampu untuk hadir secara penuh dalam segala waktu dan segala tempat (ke”imanen”an Allah). Kemahahadiran Allah merupakan penghiburan bagi orang percaya dan sesuatu yang menakutkan bagi orang yang tidak percaya. (Mz 139:7-10)

Mahatahu

Berarti “semua pengetahuan”. Hanya keberadaan yang tidak terbatas yang dapat memiliki pengetahuan yang tidak terbatas. Allah tidak pernah belajar sesuatu atau mendapatkan suatu pengetahuan yang baru. Masa yang akan datang demikian pula masa yang telah berlalu sepenuhnya diketahui oleh Allah. Dia tidak pernah dikejutkan oleh apapun juga. Kemahatahuan Allah sejalan dengan kemahakuasaan-Nya. Semua peristiwa diketahui oleh Allah. Kemahatahuan Allah krusial bagi peranan-Nya sebagai Hakim dunia ini. (Roma 11:33-36)

Providensia Allah

Kesadaran akan keberadaan dan sifat Allah, yang menopang seluruh alam semesta membawa kita kepada Providensia Allah. (Latin : Providere => pro=sebelum, videre=melihat, to foresee).

Seringkali disebut sebagai Doktrin Pemeliharaan Allah.

Providensia Allah dapat dibedakan dalam 2 aspek (seperti koin punya 2 sisi) :

ALLAH MEMELIHARA

Pekerjaan Allah ini bersifat mencegah ciptaanNya dari bahaya dan kehancuran serta menyediakan kebutuhan seluruh ciptaan (dalam upaya mempertahankan keberadaan ciptaan). Tiap ciptaan tidak self-sufficient (memenuhi kebutuhan sendiri dari dirinya). Hanya Allah yang Self Sufficient (cukup pada diriNya sendiri).

Respon : Maz 91:5,6,11; Matius 10:28

ALLAH MENGENDALIKAN

Pekerjaan Allah ini adalah mengendalikan semua kejadian menuju penggenapan rencanaNya. Allah bisa memakai hewan, alam, kejadian yang seolah-olah kebetulan, dll (Mis. Kej 50:20; Yunus 1:4, 17; 2:10; 4:6,7,8)

Respon : Ibr 11:19 (Percaya kepada Tuhan, Taat dan Berserah/Taat Mutlak)

Secara ringkas dapat dikatakan,

Providensia adalah tindak lanjut (follow up) yang dilakukan Allah setelah penciptaan, dalam hal memelihara dan mengarahkan ciptaanNya pada tujuan akhir (final).

Pentingnya Doktrin ini :

Dengan memahami doktrin ini, kita di bawa untuk menyadari, bahwa :

Allah hadir dan aktif dalam kehidupan kita (menentang pandangan Deisme : Allah menciptakan lalu kemudian ditinggalkan).

Allah sedang memperhatikan kita sehingga kita dapat menghadapi masa depan dengan mantap karena segala sesuatu terjadi bukan karena kebetulan (Roma 8:28).

Allah sedang mendengar doa kita dan Ia pasti meresponi doa kita itu.

Allah tahu dan melihat, ketika kita sedang menghadapi bahaya, penderitaan, tekanan, dll.

Perbandingan dengan Agama lain

Kristen

Percaya Allah Mahatahu, Mahakuasa (Ayub 42:2; Mz 115:3; Mat 19:26)

Kristen

Percaya Allah adalah Kekal, ber-Pribadi, keberadaan rohani dalam 3 pribadi, sebagai Bapa, Anak, Roh Kudus (Mat 3:13-17; 28:19; II Kor 13:14)

Budha

Menyangkal keberadaan Allah yang berpribadi

Hindu

Brahmana tidak berbentuk, abstrak, keberadaan kekal tanpa sifat. Mengambil bentuk suatu trimurti juga jutaan dewa-dewa yang lebih kecil

Kristen

Allah yang esa dinyatakan dalam Alkitab sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam satu “hakekat”

Ke-Allahan ada tiga pribadi yang sama derajat dan sama kekal (Mat 3:13-17; 28:19; II Kor 13:14)

Islam

Tidak ada Tuhan selain Allah

Saksi Yehova

Bahwa ada satu keberadaan tersendiri dari segenap kekekalan, Allah Yehova, Pencipta dan Pemelihara Semesta dan segala sesuatu. Mereka menyangkal ajaran Tritunggal.

Kristen

Percaya bahwa Allah secara unik kekal dan Mahakuasa, Allah yang esa dan Ia adalah Roh (Mz 145:13; Yoh 4:24; I Tim 1:17)

Mormon

Bahwa Allah adalah makhluk yang juga bersifat materi dan tadinya adalah manusia seperti kita sekarang. Manusia akhirnya dapat menjadi allah, maka ada banyak allah.(GIE)

Referensi :

R.C.Sproul, DASAR-DASAR KEBENARAN IMAN KRISTEN, SAAT.

J.I.Packer, CONCISE THEOLOGY, Tyndalle.

Millard Erickson, CHRISTIAN THEOLOGY, Baker Book House.

Charles Riggs; dkk, BUKU PEGANGAN PELAYANAN, PPA.

Anak dan Orangtua dalam Lingkungannya


Suatu hari saya menjumpai situasi berikut. Di siang hari seorang anak kecil berusia empat tahun menjerit dalam tangisannya sambil berkata, “Mamah belikan saya buku dan pulpen seperti Mas Itoy, saya mau belajar”. Betapa senang hatiku mendengar seorang anak seusia itu mempunyai keinginan baik seperti itu. Tetapi betapa terkejutnya ketika saya mendengar ibunya menjawab dengan nada kasar,”Nggak, buat apa? Kamu itu masih kecil! Lekas hentikan tangisanmu dan lebih baik kamu tidur! Dan sang anak tidak menghiraukan kata-kata ibunya, malahan tangisannya semakin keras. Kemudian sang ibu kembali melampiaskan amarahnya kepada si anak, “Sudah jangan nangis terus dan tolong ngertiin ibu! Seketika itu saya tersenyum sambil berkata dalam hati, “Hah, anak kecil diminta untuk mengerti orangtua? Orang tua yang aneh, kemudian piriranku berjalan otomatis, “Bagaimana mungkin orangtua lebih menyukai anaknya tidur ketimbang belajar. Memang untuk anak seumur itu pada lazimnya belum saatnya untuk menggunakan buku dan pulpen, tetapi bukankah kemauan anak itu sangat bagus, dia mau memulai maju ketika anak sebayanya belum memiliki niat ke arah itu.

Secuil peristiwa di atas adalah salah satu contoh fenomena sosial yang mungkin sudah lumrah kita saksikan. Di sini saya jumpai kejanggalan: anak itu dituntut untuk menjadi sama dengan  lainnya, anak itu diminta untuk tunduk pada sesuatu yang kelihatannya mapan dan wajar, anak itu sedikit terkekang untuk memulai sesuatu yang menurutku sangat bagus dan yang memprihatinkan adalah si anak diminta untuk sesuatu yang tidak mungkin, yaitu diminta untuk mengerti jalan pikir orang tua. Mana mungkin anak kecil mengerti jalan pikir orang tua, sedangkan si anak belum pernah menjadi orang tua, justru sebaliknya orangtualah yang harusnya mengerti jalan pikir anaknya, karena orang tua pernah menjadi anak kecil, orangtua tahu bagaimana rasanya menjadi anak kecil yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan akan meniru apa yang dia lihat di depannya.

Keesokan harinya tepat pada jam yang sama dimana pada saat itu dia terbiasa tidur siang sesuai dengan jadwal kesehariannya, si anak menghampiri saya sambil membawa secarik kertas dan secuil arang serta meminta saya untuk mengajarkan bagaimana caranya menggambar dan menulis. Saya semakin bangga dengan anak ini, kemauannya yang besar untuk maju itu tidak dapat dihentikan orang tuanya, memang si anak memiliki kedekatan dengan saya, kesehariannya banyak dilewati bersama saya dimana dia melampiaskan tangis dan tawanya padaku. Kutularkan sedikit pikiranku dan seringkali kucekoki dengan kata-kata ini, “Kalau disuruh mamah untuk tidur siang, jangan mau yah, lebih baik kamu bermain atau belajar apapun yang kamu suka”, “Tidur siang itu membuang-buang waktu dan itu sebenarnya hal yang kurang baik”. “Kalau nanti ibumu marah dan berkata, siapa yang mengajarkan kamu berkata seperti itu? Kamu harus menjawabnya dengan bangga, mas Itoy! Seringkali orangtuanya menegurku dengan nada bercanda, jangan kamu tiru orang gila itu! Kamu mau patuh pada siapa mas Itoy atau orangtuamu? Dan mereka juga berkata “Mas Itoy anak saya jangan diajarkan yang aneh-aneh lagi yah” Dan saya hanya menjawab, “Yang aneh itu kalian , anak kecil punya pikiran bagus kok dihalang-halangi” dan saya teruskan “Jangan dengarkan siapa yang bicara tetapi dengarkan apa yang dikatakan”. Inilah salah satu budaya kita yang senang mendengar dan kagum ketika yang berbicara adalah tokoh terkenal, disegani dan memiliki popularitas tinggi, dibanding mendengarkan apa yang baik tanpa melihat siapa yang berbicara. Kita terjebak dengan warisan penjajah yang dinamakan feodalisme, terkurung dengan pembodohan yang sebenarnya kita tidak sadar bahwa kita berada di dalam lingkaran itu.

Setelah melalui komunikasi dua arah dan kuberikan sedikit pengertian kepada mereka tanpa niat untuk mengguruinya, mereka akhirnya mengerti dan mau setuju dengan pemahaman saya bahwa niat saya dan si anak itu baik, dan saya tidak bermaksud mendahului peran mereka sebagai orangtua. Saya hanya mencoba meluruskan apa yang dibuat mereka kurang tepat.

Setelah beberapa tahun saya tidak pernah berjumpa lagi dengan anak itu. Saya hanya mendengarkan kabarnya dari para tetangga. Kabar baiknya si anak selalu menjadi juara kelas dan senang sekali menyibukkan dirinya dengan menggambar, dari kesibukannya itu dia sering menjuarai lomba menggambar antar sekolah. Dan kabar buruknya adalah orangtua mereka kewalahan setengah mati untuk mengendalikannya karena si anak tumbuh menjadi anak yang keingintahuannya sangat berlebih,kreatif dan kritis sekali. Si anak sering menghujani pertanyaan-pertanyaan aneh seperti, “Kenapa sich mama dan papah nggak seperti mas Itoy, baik, pintar dan mengerti saya, mas Itoy bisa melakukan apa saja yang saya mau, mas Itoy nggak pernah marahin saya. Dan dia pernah membandingkan orangtuanya dan saya dalam lukisan, saya digambarkan seperti malaikat dan orangtuanya digambarkan dengan dua tanduk di kepalanya. Ketika bertemu saya bertanya, “Mengapa kamu bisa menggambarkan kedua orangtuamu seperti itu? Dan dia menjawab, “Mereka sering berkelahi dan sering mengajarkan kalau dipukul teman, kita harus membalasnya, suatu waktu saya sedang dalam penyaringan lomba menggambar di sekolah untuk pemilihan peserta yang mewakili Jakarta Timur, kemudian dalam acara itu ada seorang anak yang jahil mencoret lukisan saya, spontan kepalan tangan saya mendarat tepat di pipinya, hal itu diketahui oleh panitia, dan mereka mendiskualifikasi saya karena perbuatan saya itu”. Dan akhirnya si anak menyesali perbuatannya, si anak tahu bahwa sifat buruknya itu dapat menghambat prestasinya dan dia sangat menyalahkan orang tuanya.

Tekanan menjadi orang tua

Salah satu sumber kecemasan orangtua adalah pemikiran bahwa anak-anak mereka tidak begitu patuh dan berbakti. Mereka khawatir anak mereka akan mengabaikan mereka pada usia senja nanti. Mereka juga takut bahwa anak-anak itu akan membawa malu dan keresahan di tengah keluarga akibat tingkah laku yang mencemarkan nama baik keluarga. Biasanya cinta orang tua lebih besar dari cinta anak. Orang tidak bisa mengharapkan anak yang belum dewasa dan perpengalaman untuk menjadi berbakti dan mengasihi seperti orangtua mereka. Mereka belum menyadari nilai-nilai menjadi orangtua.

Ada beberapa kasus di mana orang tua telah memberikan yang terbaik dalam mendidik anaknya dan mengajarkan pada mereka nilai-nilai kebajikan, tapi semua usaha ini seperti sia-sia terhempas angin akibat sifat pembangkang dan keras kepala anaknya. Memang ada anak nakal berasal dari keluarga yang baik-baik. Dalam kasus seperti ini, orang tua tidak perlu bersedih karena mereka telah melakukan kewajiban sebagai orangtua. Orangtua mesti mengembangkan pengertian untuk mengubah apa yang mereka bisa ubah dan menerima apa yang tidak bisa mereka rubah.

Kahlil Gibran telah menggoreskan penanya untuk direnungkan para orang tua mengenai siapakah anak-anak mereka itu:

Anak-anakmu adalah bukan anak-anakmu

Mereka adalah putera-puteri kehidupan

Yang merindukan dirinya sendiri

Mereka datang melaluimu, namun tidak darimu

Meskipun mereka bersamamu

Mereka bukanlah milikmu

Engkau boleh memberikan cintamu pada mereka

Tapi tidak pemikiranmu

Karena mereka memiliki pemikiran mereka sendiri

Engkau boleh berusaha menyamai mereka

Namun janganlah berusaha membuat mereka sama denganmu

Beberapa orangtua menuntut banyak dari anak-anak mereka yang telah berkeluarga, yang mempunyai masalah mereka sendiri dan menanggung tekanan yang cukup berat dalam masyarakat. Jika orang tua mengeluh tentang anaknya yang tidak tahu berterima kasih, hal itu cuma akan makin menjauhkan  mereka akibat rasa malu dan bersalah. Tapi jika orang tua mengembangkan nilai-nilai keseimbangan batin, mereka akan tetap tenang dan tidak menuntut macam-macam dari anak-anaknya. Ini akan membawa rasa kedekatan dan pengertian yang lebih besar antara orangtua dan anak, dan menciptakan kesatuan yang diidamkan dalam keluarga.

Jika kita menginginkan si anak untuk tumbuh dalam jalinan cinta dan kasih. Orang tua harus berhati-hati jika mereka ingin berbuat sesuatu di hadapan anak mereka. Syair berikut berisikan beberapa petunjuk praktis seni membesarkan anak.

Jika anak hidup dengan saling pengetian

Ia belajar menjadi sabar

Jika anak hidup dengan dorongan

Ia belajar percaya diri

Jika anak hidup dengan pujian

Ia belajar menghargai

Jika anak hidup dengan keadilan

Ia belajar menjadi adil

Jika anak hidup dalam rasa aman

Ia belajar memiliki keyakinan

Jika anak hidup dalam dukungan

Ia belajar menyukai dirinya sendiri

Jika anak diterima dan hidup dalam persahabatan

Ia belajar menemukan cinta di dunia (GIE)

Dear mother


Ma, mom, mama, mother, amma

She was there every time you cried, when a baby.

YOU started growing!


She jumped with joy,

When you first stood up on your tender feet.

YOU grew confident!

She celebrated with happiness

on your first birthday.

YOU ate the cake!

She gave you sweets,

On your first day to School

YOU enjoyed the whole!

She bought YOU new clothes,

Instead of clothes for herself.

YOU showed off to your friends!

She took you to the doctor,

When you were sick.

YOU recovered your health!

She quarreled with her friend,

When you fought with her friend’s kid;

to prove you innocent & gave up her friend.

YOU cared less for her loss!

She gave you her savings,

to buy your bicycle.

YOU rode with pride!

She cooked your favorite breakfast,

On your first day to Office.

YOU became independent!

She waited at the door

On your first Salary day,

only to seek God’s blessings.

YOU already celebrated with your friends!

She blessed your love marriage,

When you came home married.

YOU shared your love with your spouse!


She’s now old and lonely,

still thinking of YOU.

Remember! All that she had,

she gave it to YOU.

Show your love before you feel it is too late.(GIE)

« Entri lama
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.